Kamis, 26 Maret 2026

Kenapa kamu ingin mempunyai anak?

Aku ingat dengan sangat jelas momen malam pertamaku dengan suami. Aku bertanya padanya, "Apakah kamu siap jadi ayah?" 1. Keinginan untuk Menjadi "Murid" Kembali Sering kali kita berpikir bahwa orang tua adalah guru bagi anaknya. Namun, refleksi yang lebih jujur menunjukkan sebaliknya. Memiliki anak adalah cara bagi orang dewasa untuk belajar kembali tentang hal-hal yang sudah lama kita lupakan: rasa takjub pada tetesan hujan, keberanian untuk mencoba berjalan meski tahu akan jatuh, dan kejujuran emosi tanpa filter. Keinginan memiliki anak mungkin adalah kerinduan tersembunyi untuk melihat dunia dengan mata yang segar sekali lagi. 2. Jembatan Menuju Masa Depan Manusia sadar akan keterbatasan waktunya. Memiliki anak adalah cara kita menitipkan nilai-nilai, prinsip, dan kasih sayang kepada zaman yang tidak akan pernah kita temui. Ini bukan sekadar tentang "meneruskan nama keluarga," melainkan tentang memastikan bahwa kebaikan-kebaikan kecil yang kita pelajari selama hidup memiliki wadah untuk terus tumbuh dan berkembang. 3. Proyek Kasih Sayang yang Tanpa Syarat Dalam dunia yang transaksional—di mana kita memberi untuk mendapatkan sesuatu kembali—hubungan dengan anak adalah salah satu dari sedikit ruang di mana "memberi" adalah hadiah itu sendiri. Keinginan memiliki anak bisa jadi adalah bentuk tertinggi dari keinginan manusia untuk mencintai sesuatu di luar dirinya sendiri, sebuah latihan untuk melepaskan ego demi pertumbuhan jiwa yang lain. 4. Keberanian Menghadapi Ketidakpastian Membawa manusia baru ke dunia yang penuh tantangan adalah sebuah pernyataan optimisme. Ini adalah sebuah pertaruhan bahwa hidup, dengan segala kerumitannya, tetap layak untuk dijalani. Dengan memiliki anak, seseorang secara implisit mengatakan: "Aku percaya pada masa depan." Refleksi Penutup Pada akhirnya, alasan seseorang menginginkan anak mungkin tidak pernah benar-benar logis secara matematis. Ini adalah keputusan yang lahir dari ruang antara logika dan intuisi. Mungkin kita tidak "memiliki" anak, kita hanya menjadi pemandu sementara bagi jiwa yang sedang menempuh perjalanannya sendiri. Seperti membangun sebuah sistem yang kompleks atau menulis baris-baris kode kehidupan, mendidik manusia adalah tugas yang tidak pernah benar-benar selesai, namun memberikan kepuasan yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.

DARI AE SUN KITA PUN BELAJAR: MENIKAHLAH DENGAN LELAKI YANG MENGINGINKANMU

Dari Ae-sun Kita Belajar: Menikahlah dengan Lelaki yang Benar-benar Menginginkanmu Siapa di sini yang masih gagal *move on* setelah menonton **When Life Gives You Tangerines**? Cung! Rasanya tidak berlebihan jika drama yang mempertemukan IU, Park Bo Gum, hingga penampilan spesial Kim Seon Ho ini diberi rating bintang lima. Hampir mustahil menemukan celah dalam mahakarya ini—mulai dari deretan pemeran kelas wahid, sinematografi yang memanjakan mata, hingga sudut pandang cerita yang begitu dalam. Dari episode pertama hingga detik terakhir, penonton di seluruh dunia seolah dipaksa untuk "menangis berjamaah." Drama *slice of life* ini bukan sekadar tontonan, melainkan cermin retak yang menampilkan realitas hidup jutaan manusia yang tengah berjuang di bawah garis kemiskinan akut. Kesetiaan yang Tak Perlu Banyak Bicara Pelajaran terbesar yang kita bawa pulang bukan tentang bagaimana menjadi kaya, melainkan tentang **memilih pasangan hidup**. Lewat karakter Ae-sun, kita disadarkan pada satu prinsip sederhana namun fundamental: **Menikahlah dengan lelaki yang benar-benar menginginkanmu.** Di tengah badai hidup yang tidak pernah berhenti menghantam, Ae-sun menunjukkan bahwa cinta bukan hanya tentang kata-kata manis di bawah sinar bulan. Cinta adalah tentang:Kehadiran yang Menetap. Seseorang yang tidak hanya ada saat musim panen, tapi tetap memegang tanganmu saat badai menghancurkan seluruh kebun. Penerimaan Tanpa Syarat: Lelaki yang melihat segala kekuranganmu, luka masa lalumu, dan kemiskinanmu, namun tetap memandangmu sebagai harta paling berharga. Perjuangan Bersama Bukan seseorang yang menjanjikan dunia, tapi seseorang yang bersedia membangun dunianya sendiri bersamamu, meski hanya dari puing-puing kesederhanaan. Realitas yang Menyayat Hati When Life Gives You Tangerines berhasil memotret kemiskinan bukan sebagai bumbu drama, melainkan sebagai karakter yang nyata. Kita diajak merasakan sesaknya dada saat keinginan terbentur keadaan, namun di saat yang sama, kita dihangatkan oleh ketulusan karakter-karakter di dalamnya. Drama ini mengajarkan bahwa hidup mungkin memberikan kita "jeruk yang masam," namun bersama orang yang tepat, rasa masam itu bisa kita olah menjadi sesuatu yang layak dinikmati. --- Gwan-sik membuktikan bahwa menikahi lelaki yang benar-benar menginginkanmu berarti menikahi seseorang yang: Menghargai impianmu (meski bagi orang lain impian itu mustahil). Tidak merasa terancam oleh kemandirianmu. Setia pada proses, bukan hanya pada hasil. "Gwan-sik tidak memberikan Ae-sun keajaiban, ia memberikan sesuatu yang lebih mahal: Kepastian bahwa ia tidak akan pernah berjalan sendirian."

Rabu, 13 Agustus 2025

One Fine Day beneath the German Sky

Sudah hampir dua tahun aku bersahabat dengan kata-kata dalam Bahasa Jerman. Setiap suku kata yang kuucap terasa seperti batu kecil yang kutata, satu demi satu, membentuk jembatan menuju mimpiku. Di kepalaku, selalu ada satu gambar yang tak pernah pudar: aku, berjalan di jalan setapak pedesaan Jerman. Rumput bergoyang pelan ditiup angin musim semi, udara segar membawa aroma roti yang baru keluar dari oven sebuah rumah kecil di ujung desa. Dari kejauhan, lonceng gereja berdentang lembut, seperti menyapa pendatang baru. Di sisiku, anak-anakku melangkah riang, mata mereka berbinar menyambut hari sekolah. Kami bercakap-cakap dalam bahasa yang dulu asing, namun kini terasa seperti lagu yang sudah lama kukenal. Setiap hari, aku memungut satu kata baru, menyimpannya rapi di sudut hatiku. Kadang, ada kata yang sulit dijinakkan, tetapi aku tahu, pada waktunya semua akan bersatu, menjadi kunci yang membuka pintu kehidupanku di sana. Dan suatu hari nanti, ketika mimpiku berpijak di bumi Jerman, aku akan mengucap terima kasih pada diriku yang tak pernah berhenti belajar, meski jalannya panjang dan anginnya kadang kencang.

Kamis, 31 Juli 2025

Aku Ibu, Tapi Tak Selalu Siap

Sampai detik ini, aku masih belum benar-benar tahu… Kenapa dulu aku begitu menginginkan anak. Apakah karena cinta? Apakah karena naluri? Atau karena kupikir, aku akan mampu menjalani semuanya? Kukira aku siap mengasuh kedua anakku. Kukira, dengan bekal seadanya ini, aku sanggup jadi ibu yang siaga. Yang hadir. Yang tahu harus berbuat apa. Tapi ternyata aku salah. Aku belum siap jadi ibu. Jauh dari siap. Dan aku mulai menyadarinya, pelan-pelan, di sela hari-hari yang terus berjalan. Kupikir dengan hadir setiap hari, semuanya cukup. Ternyata tidak. Ternyata menjadi orang tua tidak hanya soal fisik yang ada di dekat mereka, tapi juga tentang hati, kesabaran, kejernihan, dan kepekaan yang… tak selalu kupunya. Aku punya standar. Dulu, sebelum menjadi ibu, aku sudah menetapkannya. Aku ingin jadi orang tua yang mendengarkan. Yang sabar. Yang hadir utuh, bukan hanya tubuh. Tapi kenyataannya… standar yang dulu kugenggam kuat, justru sulit kujalani untuk anakku sendiri. Jujur, aku takut sekali menghadapi waktu. Takut kehilangan momen, takut menyadari bahwa mereka tumbuh sementara aku masih sibuk meraba-raba cara mencintai dengan tepat. Mereka tumbuh cepat. Terlalu cepat. Dan aku merasa tertinggal. Aku belum menjadi ibu andalan mereka. Belum seperti yang kuharapkan. Tapi aku masih di sini. Belajar. Gagal. Menyesal. Memulai lagi. Dan mungkin, itu juga bagian dari menjadi ibu. Bukan tentang selalu tahu arah. Tapi tentang terus berjalan, meski dengan langkah yang gemetar.

Ketika Iman Terasa Kosong

Kadang aku meragukan status muslim yang kusandang selama ini. Aku seorang muslim sejak lahir. Sejak kecil, aku diajarkan Islam secara konservatif—tentang halal dan haram, dosa dan pahala, surga dan neraka. Bahkan aku pernah tinggal di pesantren modern selama enam tahun, mendalami ilmu fikih, akidah, hingga bahasa Arab yang menjadi bahasa utama kitab-kitab klasik. Aku cukup fasih menerjemahkan ayat-ayat Al-Qur'an dan teks-teks keagamaan. Secara lahiriah, aku adalah seorang muslim yang 'siap jadi imam'. Aku masih melaksanakan salat lima waktu. Jika dilihat dari luar, mungkin hidupku tampak utuh dalam bingkai agama. Tapi entah mengapa, ada satu hal yang tidak bisa kujelaskan: aku merasa kosong. Aku salat, tapi tidak tenang. Aku membaca doa, tapi terasa hampa. Aku mengangkat tangan, tetapi rasanya seperti bicara ke dinding. Aku melakukan semua yang diajarkan, tetapi hatiku tak kunjung merasa dekat dengan Allah. Aku merasa seperti sedang mengikuti ritual, bukan menjalani hubungan. Aku menjalankan agama, tapi kehilangan makna. Apakah ini wajar? Apakah ini bagian dari krisis spiritual yang juga dialami banyak muslim lainnya? Ataukah hanya aku yang sedang tersesat diam-diam di dalam kerumunan orang-orang beriman? Aku bertanya-tanya: apakah iman itu seharusnya selalu membuat hati tenang? Mengapa aku justru merasa asing dalam identitas yang sejak lahir kupakai? Mengapa semakin aku "tahu" tentang agama, semakin terasa jauh hubunganku dengan-Nya? Kadang aku iri pada mereka yang bisa menangis saat berdoa. Yang bisa merasa dekat dengan Allah hanya dengan menyebut nama-Nya. Yang bisa bangun malam dengan hati ringan dan rindu, bukan karena rasa bersalah atau takut. Tapi mungkin inilah fase yang perlu dilewati. Mungkin ini bukan kegagalan iman, tapi fase pendewasaan iman. Mungkin selama ini aku terlalu sibuk menjadi "muslim yang benar" sampai lupa menjadi "manusia yang jujur" di hadapan Tuhannya. Iman tidak selalu hadir dalam bentuk keyakinan yang menggelegar. Kadang ia hadir sebagai keraguan yang lembut, yang memaksa kita untuk kembali mencari. Mungkin justru di sanalah pintu iman yang lebih dalam terbuka. Hari ini, aku belum menemukan jawaban. Tapi setidaknya aku tahu satu hal: keraguan ini bukan akhir dari segalanya. Ia mungkin adalah ajakan lembut dari Tuhan agar aku berhenti menjalani agama sebagai kewajiban, dan mulai merasakannya sebagai hubungan. Dan jika kamu juga pernah merasa seperti ini, mungkin kita tidak sedang jauh dari Tuhan. Mungkin kita justru sedang dipanggil-Nya lebih dekat—dengan cara yang lebih jujur, lebih sunyi, dan lebih manusiawi.

Manajemen Perhatian

Pagi itu, aku memperhatikannya diam-diam. Tangannya cekatan menyapu halaman, tubuhnya membungkuk di bawah cahaya yang masih lembut. Tidak ada suara musik, tidak ada notifikasi dari ponsel yang menyela geraknya. Karena memang tidak ada ponsel. Hanya ada tubuh yang bekerja, pikiran yang hadir penuh, dan rutinitas yang dijalani tanpa jeda. Sementara aku, yang merasa sibuk, sering kehabisan waktu sebelum hari benar-benar dimulai. Kadang aku menyalahkan banyak hal—anak, pekerjaan, mood—tapi mungkin yang paling sering kucuri sendiri adalah perhatianku. Dan Mbak Is, tanpa teori produktivitas, tanpa gadget, tanpa aplikasi—sudah lebih utuh menjalani hidup daripada banyak dari kita yang mengaku sibuk. Kadang aku berpikir, mungkin rahasia produktivitas Mbak Is bukan terletak pada niat, tapi pada fakta sederhana: beliau tidak punya grup WhatsApp keluarga besar. Tidak ada notifikasi dari marketplace tengah malam, tidak ada video kucing lucu berdurasi 3 menit yang harus ditonton segera. Sementara aku—dengan semua fitur pengingat, alarm, dan to-do list digital—masih juga kewalahan menyelesaikan dua pekerjaan ringan. Mungkin karena Mbak Is menatap hidup, sementara aku menatap layar. Yang membuatku terdiam: Mbak Is tampak bahagia. Bukan karena ia punya banyak, tapi karena ia tak sibuk kehilangan. Tak satu kali pun kulihat dia memegang ponsel. Bagi kami, layar kecil itu adalah penghibur, pelarian, sekaligus pencuri waktu. Tapi Mbak Is? Ia menyelesaikan begitu banyak hal, sementara aku... kadang belum selesai mandi pun sudah tenggelam dalam notifikasi. Mungkin bukan manajemen waktu yang buruk—tapi manajemen perhatian. Dan Mbak Is, entah bagaimana, menguasainya dengan diam-diam.

Rabu, 15 Maret 2023

Mbak Is, Orang dengan Produktivitas Paling Tinggi di Rumah Kami

 Namanya Mbak Is. Usianya mungkin sekitar 40an akhir atau 50an awal. Beliau adalah ART di rumah kami. Mbak Is tinggal tak jauh dari rumah tinggal kami dengan kakaknya yang bernama mbak Tur. Jika mbak Is adalah asisten rumah tangga, mbak Tur adalah asisten di toko. Keduanya adalah sosok pekerja keras dan disiplin di bidang mereka masing-masing.


Jika aku sudah menikah selama lima tahun, maka kira-kira aku sudah menikmati hidangan buatan mbak Is selama 3 tahun lebih atau 2700 kali makan. Masakan mbak Is gak ada obatnya! Semuanya lezat dan gak bisa didebat. Aku orang yang ga bakal bisa rewel sama masakan mbak Is pokoknya. Berkat mbak Is pula skill masakku tidak ada peningkatan. Aku hanya menguasai beberapa menu sederhana dan berkat pandemi selama dua tahun, tahu cara membuat adonan roti. Tapi selebihnya, karena tidak pernah masak, skill memasakku yaaa... begitu-begitu saja. Kreatifitas memasak hanya muncul saat anak benar-benar tidak mau makan.


Jam kerja mbak Is sangat panjang dan padat. Mbak Is datang ke rumah kami sebelum pukul enam pagi. Beliau selalu memulai aktivitas pagi dengan menanak nasi. Ajaibnya, nasi buatan mbak Is hingga sore jarang sekali bau atau berubah warna. Dia tahu cara menghitung jumlah kebutuhan nasi harian berdasarkan jumlah orang di rumah. Jadi, nasi selalu baru dan tidak pernah kurang. Dengan tangan ajaib mbak Is, aku selalu makan masakan baru dan hangat. Jika ada nasi sisa pun, selalu bermanfaat karena dijemur dan ternyata bisa dijual untuk pakan bebek (asli aku baru tahu soal ini dari mbak Is!! Kalo ada nasi sisa, dijemur dulu sampe kering lalu dijual ya gaesss!)


Mbak Is tidak hanya mengerjakan 1 pekerjaan dalam 1 waktu. Saat menanak nasi, beliau juga memasukkan seluruh pakaian kotor ke mesin cuci, dilanjutkan menyapu halaman (yang cukup luas!), menyirami tanaman (yang cukup banyak). Selain itu, kadang dia juga menyiapkan sarapan untuk semua orang!


Tidak cukup sampai di situ, mbak Is begitu kuatnya mengerjakan semua itu tanpa sarapan terlebih dahulu. Dia terbiasa sarapan pada pukul sembilan pagi. Sesaat sebelum mandi. Saat aku kerepotan dengan kedua anakku, dia juga ringan tangan membantu tanpa ba bi bu...


Dan yang membuatku heran.... Mbak Is terlihat bahagia melakukan semua itu. Dia adalah generasi yang beruntung karena merasa tidak perlu mengenal gadget. Setelah kuamati dengan lebih serius, satu-satunya productivity booster mbak Is adalah karena beliau sama sekali tidak memegang HP!


Jadi dibalik semua pekerjaanmu yang tertunda, ada waktu "haram" yang terlalu banyak kau gunakan untuk berselancar di HP/internet. Makjleb!

Terima kasih telah mengingatkanku, mbak Is😭

Senin, 12 September 2022

Menjadi Ibu yang Lebih Bahagia

 Hai, bu, apa kabarmu hari ini? Sudahkah kau memaafkan dirimu hari ini? Sudahkah kau meluangkan waktu barang 30 menit saja hari ini khusus untuk dirimu saja? Apakah hari ini kamu sudah bilang "I love you" ke pasangan dan anak? Bagaimana caramu mengakhiri hari yang overwhelming? Hmmmmh



Ternyata menjadi ibu masih sangat sulit meski dengan banyak sekali bantuan. Aku tidak membayangkan berada di posisi perempuan yang tak memiliki satu pun sumber bantuan selama mengasuh anak-anaknya.


Ada seorang ibu yang kelelahan bekerja sambil mengasuh anaknya yang masih berusia di bawah 1 tahun, dengan suami yang juga bekerja. Karena latar belakang kepercayaan keluarga suaminya, ibu itu tak leluasa membuat keputusan yang sangat penting menyangkut anaknya sendiri. Perkara vaksin.


Terakhir kali bertemu dengannya, aku hanya bertukar sapa seperti biasa dan ternyata obrolan kami meruncing ke arah vaksinasi anak. Bahkan anaknya hanya menerima vaksinasi sekali saja yaitu sesaat setelah anak itu lahir di RS. 


Saat kutanya kenapa tidak vaksin, kan gratis (Vaksinasi dasar dari Pemerintah)? Katanya tak ada satupun di keluarga suaminya yang membolehkan vaksin (doktrin agama), mereka mengkhawatirkan bahan-bahan yang terkandung di dalam vaksin. Maka anak itu tak menerima satupun vaksinasi dasar selain vaksin pertama di RS saat lahir dulu. Padahal, ibunya sangat ingin anaknya divaksin......

Ya. Mungkin akan ada yg komentar, "Kalau aku jadi dia, aku pastikan anakku divaksin. Bodo amat keluarganya bilang vaksin haram, kek. Blablabla."


Aku pun sebenarnya akan komen begitu. Ternyata....

Dia lebih memilih untuk tidak vaksin demi mempertahankan hubungan baik dengan suami dan keluarganya.


Begitulah. Tidak setiap perempuan beruntung berada di posisi ideal...

Ini udah ekonomi pas-pasan. Keluarganya jg antivak. What the heck....


Apakah dia bahagia dengan pernikahannya? Saya tidak tahu, Bu. mungkin dia bahagia karena berhasil membangun sebuah keluarga yang harmonis. Mungkin dia juga merasa bersalah karena tidak bisa mengutarakan pendapatnya sendiri atau merasa bersalah karena tidak bisa memperjuangkan apa yang terbaik untuk anaknya.


Who knows? Siapa yg tahu?

Yang jelas, perempuan yang bahagia tahu apa yang terbaik untuk dirinya dan orang-orang yang disayanginya, dengan cara apapun dia akan mengupayakan apa yang terbaik untuk tujuannya.


Aku mengamati dua malaikat kecilku yang sedang tertidur pulas malam ini. Semoga aku bisa mengupayakan yang terbaik selalu untuk mereka..

Untuk semua perempuan terutama para ibu yang sedang berjuang hidup dan mati untuk orang-orang yang disayanginya... Semoga Allah selalu melindungi kita, para perempuan hebat! Aamiin!

Minggu, 11 September 2022

Melek Skincare di Usia Menjelang 30

Sejak kecil aku tumbuh menyaksikan ibuku sendiri tidak terlalu peduli dengan penampilan. Apalagi skincare. Dalam mindset Umi (ibu) skincare adalah sama dengan bedak dan lipstik. Padahal dua hal itu adalah hal yang sama sekali berbeda. Yang satu ke utara, satunya lagi ke selatan. -__-


Skincare adalah rangkaian perawatan untuk menjaga kesehatan kulit, sedangkan bedak dan lipstik adalah dua contoh produk make up (alat untuk mempercantik penampilan), bukan untuk merawatnya.



Maka hingga di usia menjelang 30 dan beranak dua ini, sama seperti umi, aku tidak terlalu peduli dengan penampilan. Mungkin beberapa alasan yang memperkuat kebiasaan tak peduli penampilan adalah;


1. Hemat

2. Ribet (ternyata rangkaian perawatan itu lumayan ribet, terutama buat pemula).

3. Malas


Ya. Malas.

Setelah berusaha melek dunia per-skincare-an. Ternyata dunia perawatan kulit itu tidak melulu beli-lalu pakai asal saja; tapi juga harus konsisten.

Contohnya saja rangkaian perawatan buat pemula. Salah satu hal yang wajib dipakai untuk pemakai skincare pemula adalah rajin memakai sunscreeen atau tabir surya.


Setelah rutin memakai tabir surya sebelum memulai aktivitas pagi, dan rajin re-apply atau memakai ulang kembali setiap lima jam (atau saat aktivitas di luar ruangan), kita bisa naik ke kebiasaan selanjutnya yaitu rutin memakai moistureizer cream mulai dari day cream lalu night cream. Nah di sinilah konsistensi dan tingkat ketelatenan pemakai skincare mulai diuji. Seberapa konsistenkah memakainya?

Lalu setelah rajin memakai sunscreeen, day cream dan night cream, selanjutnya adalah rangkaian exfoliasi atau membersihkan kulit mati. Nah ribet banget kan wkwkwkwk.


Exfoliasi ini juga tidak boleh terlalu sering dilakukan, karena akan mempertipis lapisan kulit terluar jika dilakukan terlalu sering. Maksimal seminggu tiga kali. Atau seminggu sekali saja sudah cukup. Lumayan hemat biaya!


Jadi buat pemakai skincare pemula sepertiku, rangkaian skincare yang wajib kamu lakukan dulu adalah cobalah dengan memakai 1 produk sunscreen dulu. Minimal sunscreeen dengan SPF 30 (ada yang bilang karena kita tinggal di negara tropis, jadi dianjurkan untuk memakai yang SPF-nya 50). Pokoknya coba dulu selama 3 bulan untuk konsisten memakai sunscreeen di wajah sebelum memulai aktivitas pagi.


Setelah konsisten dengan sunscreeen, barulah kita boleh 'naik kelas' dengan mengoleksi produk wajib lainnya seperti day cream, night cream dan produk exfoliasi.


Kenapa kita harus belajar memakai skincare secara bertahap? 


Tentu saja untuk menghindari impulsive buying atau membeli yang tak perlu. Keadaan kulit setiap individu berbeda jadi perlu dilatih dengan kebiasaan memilih produk sesuai kebutuhan kulit masing-masing. Sampah yang disumbang dari botol/wadah bekas skincare cukup besar, maka dari itu mari kita kurangi jumlah sampah skincare dengan menambah wawasan tentang apa saja yang sebenarnya dibutuhkan oleh kulit kita.


Semangat buat mengglowing bersama, ya, bestie!



Selama belajar konsisten memakai sunscreeen sepanjang 2022 ini, aku baru pakai beberapa produk sunscreen SPF 30 mulai dari Wardah, Emina, dan yang sedang kupakai sekarang sunscreeen 50 SPF L'oreal Paris, sesuai rekomendasi pemakaian sunscreeen di negara tropis.

Kamis, 08 September 2022

Pilih yang mana; Membaca Novel dalam negeri atau luar?

Kapan terakhir kali kamu membaca buku? Buku apa yang kamu baca? Apakah kamu tipe pembaca aktif atau pasif/hanya membaca sekedarnya? Jenis buku fiksi atau non-fiksi apa yang sering kamu baca? 

Aku tak sengaja mempunyai hobi membaca. Awalnya aku hanya penasaran dan ingin menghabiskan waktu luang saja. Karena banyak sekali buku yang bisa kubaca di rumah. Abah bahkan dulu pelanggan setia Gramedia. Setiap setahun tiga kali bahkan kami mendapat bonus buku terjemahan oke dari Gramedia yang dikirim langsung ke rumah. 

Setelah bisa lancar membaca, tentu saja aku semakin aktif mencari buku yang bisa kubaca, karena ternyata semakin kita membaca, semakin penasaran lah kita dibuatnya. Ilmu pengetahuan dan bacaan adalah dahaga bagi manusia yang takkan ada habisnya. Semakin kita membaca, justru kita semakin merasa tak tahu apa-apa. Hobi membacaku dimulai sejak aku berusia delapan tahun. 

Buku pertama yang paling berkesan dan terus kuingat hingga saat ini adalah Totto Chan; karangan Tetsuko Kuroyanagi. Lalu buku-buku karangan Torey Hayden. The Devil wears Prada. Buku psikologi Dale Carnegie, novel-novel karya Dan Brown hingga novel dalam negeri Karangan Tere Liye, Asma Nadia, Tasaro Gk, dan tentu saja Andrea Hirata. 



 Mode Naik Turun 
 Karena sebagian besar buku yang kubaca adalah terjemahan luar negeri, tentu ada sensasi naik turun kebudayaan saat sedang membaca buku dalam negeri. Contohnya; setelah membaca novel terbaru Tere Liye Janji, aku lalu membaca ulang novel berjudul Oliver's Story karya Erich Segal. 

Meski novel karya Erich diterbitkan hampir 50 tahun yang lalu, tapi isinya terasa jauh lebih kaya dibandingkan novel terbitan tahun 2021 karangan Tere Liye. (Maaf ya bang Tere, jujur kan gak dosa wkwkwk) Berlatar di New York City tahun 70an, Erich Segal berhasil membawa pembaca pada dinamika kehidupan seorang pengacara di New York city yang sibuk. 

Sejak menyandang status sebagai duda cerai mati 18 belas bulan yang lalu, Oliver didiagnosa sakit jiwa oleh mantan mertuanya, Philip Cavilleri. Dia masih belum bisa melupakan sosok Jenny Cavilleri yang meninggal akibat kanker. Oliver pun pergi menemui dokter jiwa, seorang psikiater yang cukup cuek tapi mampu menggali permasalahan yang sedang dihadapinya. Lalu untuk mengalihkan kesedihan di sore hari, Oliver mulai rutin berlari di Central park hingga dia bertemu sosok cantik yang misterius bernama Marcie Nash. 

Cara bercerita Erich Segal yang sederhana dan mengalir, menggambarkan kehidupan glamor Marcie Nash, seorang CEO muda yang ditipu habis-habisan oleh mantan suaminya. 

Tahun 70an sudah terdapat banyak cafe di NYC. Ini salah satu bukti konkrit bahwa New York sudah jauh lebih maju di tahun itu. Perempuan muda mampu dan bisa mengelola kekayaan yang diwariskan kepadanya menjadi perusahaan yang jauh lebih kuat. 

Berbeda dengan novel Janji Tere Liye yang terbit di tahun 2021, novel Janji terkesan sangat membosankan dibandingkan Oliver's Story milik Erich Segal yang sangat segar dan realistis. Tere Liye masih memakai cangkok bercerita novelis Sumatra pada umumnya yang suka mendayu-dayu dan berpola naratif atau deskripsi terlalu panjang. 

Tapi itulah sisi mengasyikkan dari membaca, kebudayaan dari tiap latar belakang cerita sangat berbeda satu sama lain, yang membuat para penulis memiliki sudut pandangnya masing-masing dalam bercerita.

Novel dalam negeri atau luar negeri akan memperkaya perbendaharaan kata bagi semua yang membacanya. Buku apapun yang sedang kamu baca, bersyukurlah masih banyak orang yang mau meluangkan waktu untuk menuliskan peradaban yang terjadi dengan sangat cepat 20 tahun terakhir ini.

Jadi apakah kamu jadi tertarik baca novel setelah membaca ini? Aku bersyukur meski sudah mempunyai dua anak, aku masih meluangkan waktu untuk menggeluti hobi membacaku yang semakin lama semakin menggila saja. Buku apalagi yaa yang bisa kubaca? Rekom dong!

Sabtu, 10 April 2021

Suami: Teman Hidup "Setara" untuk Istri

 Waktu remaja, aku tak pernah membayangkan jika ikatan cinta bernama pernikahan itu butuh restu semesta. Gak bisa dipaksakan (misal dipaksakan, pasti endingnya gak enak). Aku hobi memaksakan kehendak, yang akhirnya sering menyakiti diriku sendiri (wkwkwk sukurin!).

Beruntungnya aku di pertengahan usia 20-an ku, tepatnya di usia 24 tahun 6 bulan empat tahun lalu, aku dipertemukan jodohku. Finally!! 



Saat itu proses move on-ku dari kisah percintaanku yang selalu kusut hampir selesai. Lelaki bermata tajam itu terlihat kikuk di kursinya. Tapi setelah aku tiba-tiba bertanya tentang hal-hal out of the box tentang cerita masa lalu di pesantren dulu, di luar dugaanku dia mulai bercerita panjang lebar, yaang membuat proses perkenalan kami semakin "mulus", seperti masuk jalan tol. Prosesnya yang cepat, lancar dan membahagiakan membuat kami tak merasakan galau pra-nikah. Agak sembrono memang. Tapi, namanya Johan, ya. Ga ada yang tahu. (Johan: Jodoh dari tuHan)

Sejak awal menikah, aku selalu menekankan betapa pentingnya komunikasi yang pro aktif di antara kita. Paling anti kode-kode-an. Selama bisa diomongin, ya ngomonglah yang baik. Apalagi keluarga besar yang tinggal berdekatan, membuat kita berdua harus lebih piawai dalam menjaga hati banyak orang.

Teman Hidup, Setara, tak selalu se-Iya, tapi se-Rasa

Experience is the best teacher. It works for me. Finding a great husband is like building your dream home. You work on it.

3 tahun dan  dua anak: kerja keras dan kerja ikhlas. Makasih ya, sayang, udah jadi suami dan ayah yang baik. I knew you'll make a good husband and father. Meskipun aral melintang, tetep gandeng mesra tanganku, yo, ojo ragu-ragu. Mantep terus pokoke persis kayak waktu kamu lantang meminangku dulu.

Maaf kalo aku sering ngajak debat. Aku cuma mau nemuin your true colour. Kalo ga pake debat, ga keliatan aslinya. Biar kemampuanmu berargumentasi juga meningkat tajam. Ternyata sukses, to. HIHIHI. 

Terimakasih untuk selalu menjadikanku teman setara untuk berdiskusi, bertengkar, merajuk, momong anak, dan dalam banyak hal yang akan kita hadapi di masa depan nanti. Aku tahu di luar sana masih banyak suami yang menyepelekan istrinya sendiri, tanpa tahu manfaat memuliakan istrinya dengan menjadikannya teman SETARA.

Tetep jadi versi terbaik dirimu, ya, My partner in life. XOXO

Selasa, 23 Februari 2021

Sejuta Mimpi Umi

Siapa sangka jika tahun 2021 ini aku sudah punya dua buntut sekaligus, yang akan selalu ngintil di belakangku? Nggak nanggung-nanggung, dua sekaligus: putri pertamaku berusia 30 bulan per Februari ini, dan putraku baru berusia empat bulan. Wowww :) 

Bahkan tiga tahun lalu (2017) pun aku masih belum kepikiran punya anak, karena calon suami pun belum nemu. Tidak, bahkan walaupun menikah dan punya anak masuk dalam lima besar impian teratasku, tapi aku tidak menyangka bahwa aku akan menghadapinya di usia 20-an ku. Benar-benar satu kejutan besar di episode kehidupan usia 20-an ku yang sangat "nano-nano".

But Life goes on and on, aku selaku pemeran utama kisah bernama kehidupanku sendiri, akan menghadapinya dengan berbagai konsekuensi dari keputusan-keputusan teledor masa laluku. Menjadi ibu selama 30 bulan terakhir mengajarkanku untuk tidak diam saja menghadapi keadaan. Menjadi ibu berarti harus bergerak, ibu harus bekerja, ibu harus berkarya dan mempunyai mimpi-mimpi supaya tidak "mati" dalam artian yang sesungguhnya.

Trigger bernama KMO

Akhir tahun 2020 menjadi tonggak penting dalam sejarah hidupku. Berkat ajakan umi (ibuku), aku mengikuti sebuah komunitas menulis bernama KMO (Komunitas Menulis Online) yang didirikan oleh Kak Tendi Murti. Setelah mengikuti proses sarapan kata selama 30 hari terakhir, akhirnya aku menuliskan 10.000 kata pertamaku yang akan menjadi buku solo perdanaku. Di tengah rempongnya mengasuh dua bayi sekaligus ternyata aku berhasil menulis. Apalagi dengan suasana Pandemi dan Bencana dimana-mana, aku sangat bersyukur menemukan kegiatan positif ini. Banyak pikiran buruk yang berhasil kusingkirkan jauh-jauh karena aku benar-benar terfokus ke satu kegiatan menulis ini.

Pagiku selalu lebih berwarna dari pagi-pagi sebelumnya. Aku masih kelelahan setiap bangun pagi (Maklum, busui/Ibu menyusui masih bangun tiga-lima kali dalam semalam untuk menyusui bayik), tetapi aku lebih bersemangat karena harus bersiap upload tulisan ke Facebook KMO dan akun Instagram ku.

Ketika program sarapan kata KMO club berakhir minggu lalu, ternyata aku benar-benar kehilangan suasana pagi alarm jam enam, tanda bahwa aku harus mengupload tugas. Ah, rindu. Terima kasih KMO, telah menyuburkan semangat menulis dalam diriku yang hampir kulupakan setelah aku menjadi seorang umi (ibu).

Menghidupkan Mimpi-mimpi

"Ca, apa mimpimu?" tanya abah padaku setahun yang lalu. Bahkan saat usiaku sudah menginjak 25 tahun lebih, aku masih gelagapan untuk menjawabnya. Aku punya banyak sekali mimpi, yang akhirnya kukubur hidup-hidup sejak kutinggalkan bangku kuliah beberapa tahun yang lalu.

Namun bara api bernama mimpi masih meletup-letup dengan baik di dada. Aku masih memilikinya. Aku memang sudah jadi emak-emak, tapi aku masih punya mimpi yang harus kuwujudkan, demi kebahagiaanku sendiri.

Doakan umimu ini ya anak-anakku. Semoga kalian selalu bersabar mengiringi umi dalam mewujudkan cita-cita. :)

Dengan dukungan penuh dari suami tercinta dan orang tuaku, Bismillah, untuk menjadi sebaik-baik Insan.


Lirik lagu untuk suami tercinta:

Hidupkan lagi mimpi-mimpi (cinta-cinta)
Cita-cita (cinta-cinta)
Yang lama kupendam sendiri
Berdua 'ku bisa percaya
'Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara miliaran manusia
Dan 'ku bisa dengan radarku menemukanmu
_Perahu Kertas_


 

Sabtu, 13 Februari 2021

Ibu Tanpa Dukungan

Setelah jadi ibu, ada satu hal penting yang kupelajari yaitu tahu cara meminta tolong saat benar-benar membutuhkan. Karena aku tidak akan sanggup berjuang sendirian. It says, it takes a village to raise a child. Jadi daripada aku berpayah-payah sendirian, aku berusaha semaksimal mungkin melibatkan suamiku dalam pengasuhan anak, termasuk dalam urusan ganti popok dan memandikan bayi. Karena aku dan suami hanya tinggal sendiri di rantau tanpa bantuan Asisten Rumah Tangga.
Jika mengingat proses ta’aruf sebelum menikah dengan suami dulu, aku memantapkan diri untuk menikah dengannya karena dari sorot matanya yang terlihat selalu sedih, ada suatu sorot kelembutan yang membuatku yakin bahwa dia akan menjadi sosok suami dan ayah yang baik untuk anak-anakku. Waktu pun membuktikan itu. Suamiku bahkan berani mendampingiku selama berjuang melahirkan. Padahal aku mengalami ketuban pecah dini, dan selama persalinan terus menerus mengeluarkan darah. Butuh mental baja untuk berani mendampingi proses persalinan yang “seperti” itu.
Aku makin memercayakan urusan pengasuhan kepadanya. Jika seorang ibu tidak melibatkan suaminya dalam pengasuhan anak sejak dini, maka dia akan semakin sulit melakukan ikatan dengan anak karena tidak pernah diberi kesempatan.
Pagi ini seorang teman dari grup chat supermom 2018 mengirimkan chat berupa curhatan tentang suaminya yang tidak mau tau tentang urusan pengasuhan anak sama sekali.
“Mak, aku pengen suamiku juga ikut bantu urus bayi dikit-dikit. Tapi tiap kusuruh bikini sufor selalu menolak. Ada aja alasannya. Aku di titik ogah minta tolong ke suamiku lagi,” I feel you, mak. Aku sepertinya pernah di posisi ini. Tapi aku berhasil mengajak suamiku untuk lebih peduli.
“Aku juga sebentar lagi berangkat kerja, mak. Sedangkan ART belum dapat juga sampai detik ini. Ada saran kah, harus cari ART khusus mengasuh bayi dimana? Kebetulan ibuku masih bekerja, jadi tidak bisa dimintai tolong mengasuh cucunya.”
Melihat keadaan ibu satu ini, jujur, di hati yang paling dalam, aku bersyukur karena mempunyai suami yang sangat suportif. Dia selalu mendukungku dalam banyak hal, termasuk urusan eksistensi diri, seperti membolehkanku untuk tetap aktif berorganisasi walaupun sudah menikah. Aku yakin jika berada di posisi ibu itu pasti sudah uring-uringan tak karuan. Sudah harus kerja, eh, suami gak mau tahu urusan anaknya sama sekali. Lalu apa gunanya menikah dan punya suami?

Perempuan hanya punya 3 tugas kodrati, yaitu hamil, melahirkan, dan menyusui. Selebihnya adalah tugas-tugas kehidupan yang sama seperti laki-laki.
Artinya, masak dan mengurus rumah, mendidik anak, itu bukan tugas kodrati perempuan. Tidak ada kodrat yang melekat di situ. Itu adalah tugas bersama, laki-laki dan perempuan.
(Dari postingan facebook Dr. Hasanudin Abdurrahman, 8 Maret 2018)

Aku sangat setuju dengan status facebook ini. Betapa berat tugas pengasuhan anak jika hanya dibebankan kepada perempuan. Padahal menurut kitab suci Al-qur’an, sosok pendidik terbaik justru hadir dari kaum laki-laki, yaitu Nabi Ibrahim dan Imran, ayahanda Maryam, ibunda Nabi Isa.
Hari ini grup whatsapp supermom ramai karena curhatan ibu satu ini. Ada yang menyemangati, memberi solusi, bahkan ada yang ikut curcol, curhat colongan.
“Suamiku juga begitu, mak. Sebel banget deh liat dia main game mulu. Padahal aku kerepotan urus anak,” balas seseorang di grup.
“Suamiku cukup membantu, mak. Kecuali ganti popok. Masih ogah sampe sekarang,”
“Ayo mak, ajak suami terus sampe mau terlibat dalam pengasuhan anak,” seseorang lagi menyemangati teman yang suaminya belum mau terlibat, agar berusaha lebih keras untuk mengajak suaminya.
Sungguh, aku saksi hidup pernikahan orang tuaku, betapa kelanggengan dan kebahagiaan pernikahan mereka setelah punya anak ditentukan oleh ketersalingan dan pengertian yang mendalam tentang berbagi peran, tidak membebankan tugas pengasuhan hanya kepada salah satu pihak saja.
Sering kali karena salah satu pihak memilih untuk memendam perasaan saat kerepotan mengurus anak, biasanya pihak istri, akan menjadi bom waktu yang akan meledak suatu saat nanti. Bisa 3-5 tahun kemudian, bahkan saat anak-anaknya sudah dewasa kelak. Saat anak tiba-tiba berulah dan memiliki masalah pelik, dan seorang suami menyalahkan istrinya akan keadaan tersebut, masalah ini dapat menyebabkan konflik yang lebih besar.
Pola komunikasi yang baik selama menjadi suami istri berpengaruh pada keharmonisan rumah tangga setelah punya anak, agar tidak terucap kata-kata seperti ini, “kamu sih, enak. Selama ini gak mau tahu urusan anak. Saat anak bermasalah, justru menyalahkanku. Lalu kemana saja kamu selama ini, sebagai seorang bapak?”

Skala Prioritas Ibu

 Setelah menempati rumah sendiri tanpa keberadaan orang tua, mertua, dan adik membuatku mengubah skala prioritasku. Terutama saat pagi hari. Prioritas utamaku adalah sarapan pagi siap maksimal jam 06.30 WIB, karena suamiku sudah harus di kantor pada pukul tujuh tepat. Entah karena cuaca kotanya yang nyaman atau mungkin karena ketenangan hatiku yang menular ke putri kecilku, rentang tidur malam bayiku jadi jauh lebih panjang dari biasanya. Aku bisa memanfaatkan waktu tidurnya untuk memasak, mandi, dan beres-beres rumah.
Pagi ini aku memasak menu sederhana: sayur ca sawi dan tempe goreng, menu andalan umiku jika sedang terburu-buru. Tepat saat aku selesai masak, suamiku selesai mandi. Aku melihat jam dinding. Masih jam 06.10 WIB. Aku bisa menyempatkan diri untuk mandi pagi. Aku menikmati setiap kucuran air yang membasahi muka. Setelah punya bayi, jarang sekali aku bisa menikmati momen mandi. Biasanya setiap mandi seperti dikejar-kejar waktu.
Aku menemani suamiku sarapan.
“Yang, makan tempe aja gak papa, to?”
“Asal makannya sama kamu, makan nasi pakai garam aja gak papa buatku,” gombal parah. Aku mencubit pelan hidung mancungnya.
“Mulaiiii jurus gombalnya,”
“Serius, sayang. Kalau sama kamu, aku ngerasa bisa melakukan semuanya,” benar juga. Suamiku yang awalnya sangat pemalu menjadi percaya diri dan berani tampil di depan umum setelah menikah denganku. Aku akui ini salah satu perkembangan besarnya.
“Lanjut nanti lagi ngobrolnya. Sekarang mari kita sarapan menu sederhana ini. Takut kalau kamu terlambat,” ucapku.
Pada pukul 06.40 suamiku berangkat kerja. Setelah motor suami menghilang di tikungan, aku bergegas membereskan piring kotor dan mulai mencucinya. Tak lupa menggiling pakaian kotor dalam mesin cuci otomatis. Aku benar-benar beruntung mendapatkan rumah kontrakan yang selain bagus isinya juga sangat lengkap, termasuk mesin cuci otomatis tadi. Rejeki ibu solehah, alhamdulillah.
Aku menggunakan waktu yang tersisa untuk belajar tentang MPASI (Makanan Pendamping ASI). Dua bulan lagi aku akan memberi bayiku MPASI, jadi paling tidak aku punya bekal informasi yang memadai untuk menghadapinya. Pada pukul tujuh persis, bayiku menangis terbangun. Saatnya memulai pekerjaanku yang sesungguhnya. Momong bayi.

Tetangga Baru

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga
Sepertinya lagu ini sangat pas diputar dalam suasana pagi ini. Nenekku yang berusia hampir 80 tahun sedang menyiapkan sarapan pagi untuk kami semua: anak, mantu, cucu dan cicitnya. Kami berkumpul untuk menikmati sarapan pagi dalam momen pindahan rumahku. Menu utamanya adalah nasi kluban, sayuran berbagai macam yang direbus dengan topping sambal parutan kelapa dan lauk pauk dari ayam opor, tahu dan tempe kuning serta tak ketinggalan ikan teri. Nikmat sekali rasanya karena dinikmati bersama orang-orang yang kusayangi.
Anakku yang baru berusia empat bulan masih sering tertidur setelah sesi menyusui. Sepupuku yang berusia 7 bulan sedang disuapi oleh ibunya, tanteku. Aku membantu nenekku supaya lebih cepat menyiapkan sarapan bersama ini.
“Ca, kayaknya ada sayur kelilingan di depan rumah. Beli sekalian buat stokmu di kulkas. Sekalian kenalan sama tetangga sekitar sini,” kata umi.
“Oke mi, tak ambil uang dulu,” jawabku sembari berjalan masuk kamar, mengambil dompet.
Ketika aku keluar rumah, beberapa ibu sedang mengerumuni tukang sayur keliling. Aku tersenyum ke arah mereka, yang langsung dibalas dengan senyuman ramah dari mereka. Mayoritas ibu separuh baya, di atas usia umiku mungkin.
“Baru pindahan ya, mbak?” tanya seorang ibu berkacamata. Aku mengangguk.
“Nggih, bu, semalam malam pertama di sini,” jawabku.
“Pantesan, aku kayak denger ada suara bayi. Bayi jenengan, kah?”
“Oo iya bu, bayi saya mungkin semalam menangis. Maaf ya, bu, mengganggu istirahatnya,”
“Walah, gak apa-apa mbak. Maklum kalau bayi menangis,” aku melanjutkan obrolan pagi sambil memilih sayuran, berkenalan dengan tetangga baruku satu-satu. Ternyata benar dugaanku, mayoritas nenek-nenek yang usianya jauh di atas ibuku. Ada eyang Uti, eyang Emo, bu Tatik, dan dokter Risna. Ketika nenekku berjalan keluar rumah membuang sampah, aku pun memperkenalkan nenekku. “Niki simbah saya, bu,”
“Sehat nggih mbah,” ujar bu Tatik.
“Nggih, Alhamdulillah bu. Titip cucu saya ya bu, kalau nakal dijewer mawon,” ucap nenekku disambut derai tawa dari ibu-ibu tetangga baruku. Aku pun ikut tertawa. Dasar, mbah Mun. Bisa aja bercandanya.

2019: Awal yang Baru


Pagi ini aku bangun dengan badan yang lebih bugar dari biasanya. Adzan subuh berkumandang dari masjid As-sakinah, masjid di dalam kompleks perumahan. Aku membangunkan suamiku untuk segera mengambil wudhu. Setelah membangunkan suamiku, aku bergegas ke kamar mandi untuk buang air kecil dan, brrrrrr, air sejuk pegunungan menusuk kulitku seketika. Dingiiin sekali. Benar-benar kontras dengan cuaca di kotaku dulu. Suamiku beranjak dari tempat tidur begitu aku masuk kamar.
Setelah solat subuh, aku menyeduh dua cangkir teh panas untuk menghangatkan badan. Suamiku masuk rumah setelah menunaikan solat subuh berjamaah. Aku tersenyum simpul ke arahnya.
“Buatku, yang?” tanyanya polos.
“Of course, honey,” aku mengedipkan mata.
“Kenapa kok senyum terus? Masih pagi loh ini?”
“Pilih disenyumin ato dicemberutin?” tanyaku jahil.
“oke, oke, pilih disenyumin aja deh,” aku mengulurkan cangkir teh kepada suamiku.
“Ternyata enak banget ya rasanya serumah sama kamu aja gini. Gak ada yang gangguin. Cuma ada kita bertiga. Kita jadi punya privacy. Kenapa gak dari dulu aja?”
“Semua udah yang terbaik kok, yang… Kamu jadi dapet training momong anak langsung dari Umi sama Mom. Jadi syukuri apa yang sudah terjadi,” suamiku mengingatkanku. Aku mengangguk setuju.
Hari ini tepat tanggal 1 Januari 2019. Aku mengawali pagiku di udara sejuk tanah rantau Salatiga, bersama suamiku dan si bayi yang masih tertidur pulas. Aku bisa mengobrol santai dengan suamiku sampai matahari terbit. Kami menunggu keluarga besarku datang dari Kendal. Seperti sudah tradisi di keluarga umiku, jika ada anggota keluarga yang boyongan/ pindahan rumah, maka anggota keluarga yang lain saling support dengan mendatangi rumah baru dengan makan nasi kluban bersama, mensyukuri nikmat pindahan rumah. Sekaligus menitipkan keluarga yang pindahan kepada tetangga sekitar.
Pada jam setengah tujuh pagi, suara klakson mobil yang khas terdengar di depan rumah. Pasti mereka sudah datang. Aku membukakan pintu. Benar, mobil putih milik abah. Begitu pintu mobil terbuka, aku melihat wajah abah, umi, budhe, pakdhe, nenek, tante dan kedua anaknya. Formasi lengkap. Aku mengawali tahun baru ini dengan nuansa kekeluargaan yang erat.
2019, aku siap momong anak!

 

Pindahan Rumah!


Aku dan suami sepakat akan pindahan ke rumah kontrakan di penghujung tahun 2018 ini. Kepala sekolah di tempat suamiku bekerja telah mengirim pesan via whatsapp bahwa kami boleh memakai salah satu rumah milik wali santri yang tidak digunakan. Kondisi rumah fully furnished, berperabot lengkap. Jadi kami tak perlu membawa banyak barang dari rumah Kendal.
Setelah beberapa bulan “training” langsung dengan umiku dan mom (ibu mertua) tentang dunia momong anak, aku mengizinkan diri sendiri untuk mulai percaya diri bahwa aku bisa mengurus bayiku. Keluarga besar umiku yang terdiri dari nenek, om, tante, budhe dan sepupu-sepupuku akan mengantar saat pindahan nanti. Nenekku sudah bersiap memasakkan nasi kluban untuk dibagi-bagikan ke tetangga sekitar saat pindahan nanti.
Pada tanggal 31 Desember 2018 aku dan bayiku diantar oleh orangtuaku ke Salatiga. Kami sengaja berangkat sehari sebelum keluarga besar tiba untuk survei langsung keadaan rumah yang akan kutempati. Tol Semarang-Solo baru saja jadi. Abahku ingin menjajal tol baru, jadi kami bablas Solo dan makan siang di Pasar Songgo Langit, Surakarta. Jarak Kendal-Solo yang biasanya hampir empat jam hanya ditempuh selama dua jam via tol. Sebelum adzan ashar berkumandang, kami sampai di depan rumah kontrakanku, rumah tipe 45 berpagar hitam di perumahan baru yang sangat asri. Begitu kami masuk kompleks perumahan, nuansa sejuk dan damai meliputinya. Suamiku sudah menunggu di beranda. Seketika aku disambut hawa dingin kota ini, kontras sekali dengan cuaca di kotaku, Kendal.
Aku cukup beruntung karena mendapatkan rumah yang benar-benar siap huni. Sudah terpasang kompor gas dan water heater, satu keharusan di tengah dinginnya kota Salatiga. Jika sewaktu-waktu ingin mandi air hangat, aku tak perlu memanaskan air lagi. Kondisi rumah cukup berdebu karena hampir setahun tidak dihuni oleh pemiliknya. Sore itu kami gotong royong membersihkan rumah. Tepat setelah berjamaah solat maghrib, orang tuaku berpamitan pulang. Umiku memelukku agak lama. “Yang rukun ya, kalian cuma bertiga di sini. Kalau ada apa-apa hubungi kami,” bisik umiku. Aku mengangguk.
Satu episode baru kehidupan rumah tanggaku dimulai. Aku menyambut awal tahun 2019 dengan penuh semangat baru. Rumah baru. Tetangga baru. Kesibukan baru. Dan keyakinan baru tentang kemampuan diri sendiri. Aku bisa!

Pondok Indah Mertua


Aku sedang memakan alpukat ketika umiku mengajakku bicara empat mata.
“Ca, dah 3 minggu lho kamu di sini. Rumah mertuamu dekat. Waktunya berkunjung kesana,”
Aku pun terdiam. Sebenarnya aku lebih nyaman tinggal di rumah orang tua sendiri. Setelah jadi ibu menyusui, pasti risih dan malu tinggal serumah dengan adik ipar yang notabene laki-laki semua, terutama karena aku harus sering menyusui bayiku. Suamiku mempunyai dua adik laki-laki yang masih tinggal di rumah mertua.
“Umi takut jadi nenek egois, mertuamu juga baru jadi kakek-nenek, mereka juga berhak bertemu cucunya,” lanjut umi menasihatiku. Benar juga, ya. Aku tidak berpikir sampai ke situ. Aku tak berniat menahan bayiku untuk tidak bertemu kakek-neneknya. Hanya saja kenyamanan selama menjalani peran baru menjadi ibu, membuatku masih ingin dekat dengan ibuku sendiri. Aku masih butuh banyak bimbingan. Namun tanpa berpikir panjang, aku menjawab, “Oke, lusa aku berkunjung ke sana.”
Sebenarnya sejak hamil muda aku sempat tinggal agak lama di rumah mertua. Jadi tidak terlalu canggung jika harus berpindah-pindah dari rumah orangtuaku ke rumah mertuaku. Pada rabu sore, aku pergi ke rumah mertua dengan barang bawaan yang sangat banyak. Ternyata bayi mungil ini membutuhkan banyak hal—dari popok bayi, baju ganti lusinan, handuk-handuk kecil, bantal menyusui, Kasur bayi, bouncer,dan stroller.Saat menurunkan barang, aku geleng-geleng kepala sendiri, takjub akan barang milik bayi mungilku yang seabrek. Seumur-umur baru kali ini aku membawa barang sebanyak ini. Sepertinya kemah pun, barang bawaanku tidak sebanyak ini. Paling hanya ransel tanggung. Rekor bawaan terbanyak adalah saat aku harus kemah selama dua minggu berturut-turut di Pondok haji Surabaya dan lanjut berkemah di Cibubur. Itu pun hanya ransel gunung ukuran 17 liter.
“Assalamualaikum, Mom,” aku mengucapkan salam pada ibu mertuaku yang biasa kupanggil mom.
“Wah, cucu yangti datang,” beliau segera mengambil bayiku dari gendonganku. Aku tersenyum. Senang sekali kamu, nak, mempunyai nenek lincah baik dari pihak ibuku sendiri dan ibu mertuaku. Kamu akan tumbuh dengan menerima banyak cinta. Aku berbincang-bincang sejenak dengan bapak dan ibu mertuaku di ruang tamu, membahas rencanaku dan suami yang akan pindah ke Salatiga dua bulan lagi.
Menikah menjadi sangat menyenangkan karena dua keluarga yang penuh cinta telah bersatu.

Anak Umi sudah jadi Umi


Aku yang sekarang adalah nyowo turahan, nyawa yang tersisa. Entah sudah tak terhitung aku berhasil melewati momen antara hidup dan mati. Dulu sekali, saat masih duduk di sekolah dasar, aku harus menaiki sepeda cukup jauh sepanjang 3 km dan melewati rel kereta api tanpa palang pelindung hanya untuk pergi ke sekolah.
Pagi itu kelas kami dipulangkan lebih awal karena para guru akan mengadakan rapat awal tahun. Aku dan Wiwin, teman akrabku yang kebetulan rumahnya searah, pulang bersama. Seperti biasa, saat melewati rel kereta tanpa palang itu kami turun dari sepeda sembari menuntunnya. Tak lupa waspada menengok ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada cahaya lampu kereta yang akan lewat. Demi keselamatan kami berdua. Setelah memastikan keadaan aman, kami pun menyebrang rel dan wiwin berhasil melewati lebih cepat.
Sepedaku terhenti, tak bisa melewati rel yang agak tinggi dengan mudah. Saat roda belakang sedang kuangkat, aku mendengar suara kereta yang tiba-tiba dekat sekali. Sekilas aku mendengar seorang laki-laki meneriakiku, “Awaaasss!” dan aku didorong kemudian terjerembab jatuh ke dekat Wiwin. Hampir saja aku tertabrak kereta dengan kecepatan tinggi. Setelah kereta menghilang di tikungan, aku dan Wiwin menengok ke segala penjuru mencari sosok yang menolongku, namun nihil. Sosok laki-laki itu benar-benar menghilang dari pandangan. Merinding sekali mengingat kejadian itu, namun berkat lelaki itu aku selamat dari maut.
Aku ingat 10 tahun lalu pernah mengalami kecelakaan tunggal saat menaiki motor sendiri. Hanya kaki kananku yang cedera, tapi motor supraku rusak berat. Beruntung saat itu ada polisi lalu lintas yang berbaik hati mengurus administrasi rumah sakit dan mengantarkanku pulang.
Malam ini setelah menyusui bayiku tiba-tiba aku merasa pusing dan kedinginan. Abah sedang dinas ke luar kota, dan suamiku juga bekerja di luar kota. Hanya aku, umi dan bayiku di rumah.
“Kalau mandi jangan kemaleman, mbuk’an,”umiku menasihatiku. Tadi sore anakku menyusu hampir satu jam, jadi aku baru bisa mandi setelah adzan maghrib. “Sini tak kerokin, kasihan anakmu kalau ibunya sakit,” aku mengangguk.
Bukannya membaik, setelah dikerokin oleh umiku badanku justru makin panas. Aku demam tinggi. Puncaknya pada jam 11 malam, badanku menggigil. Aku merasa sangat kedinginan. Beruntung, bayiku tenang sekali malam itu, tidak rewel. Umiku memakaikan jaket untukku, lalu mengambil tumpukan bed cover di pojok kamar, menyelimutiku dengan dua bed cover tebal sekaligus. Aku menggigil makin hebat. Gigiku menggeletuk dibuatnya.
“Mi, dingin banget,” umiku tak kekurangan akal, dia menindihiku di atas bed cover tebal. Tubuhku bergetar. Setelah hampir satu jam berlalu, akhirnya aku mulai merasa hangat lagi. Bayiku menangis, namun umiku dengan segera menggendongnya. Aku menangis terharu, bersyukur sekali menghadapi kejadian ini dengan umi di sampingku. Meskipun sudah jadi ibu, aku masih sangat bergantung pada ibuku.

Belajar dari Mbah Mun


Mbah Mun adalah nama panggilan nenekku. Tak ada yang tahu persis berapa usianya. Tapi di KTP terbarunya yang baru saja jadi, tertulis 31 Desember 1941 sebagai tanggal lahirnya. Jika dihitung sudah hampir 80 tahun usia beliau. Di usia yang umumnya manusia sudah merasa senja, beliau masih sangat bergairah dan enerjik. Ia masih sangat sanggup mengasuh cucunya yang seumuran Mima, anak pertamaku, karena mbah Mun sangat menyukai anak-anak. Beliau sudah mengasuh belasan anak-anak walaupun mereka tidak dikandungnya. Termasuk aku dan adikku yang sejak kecil diasuhnya sampai kami merasa sangat dekat dengannya.

Mbah Mun sangat terkenal di Kaliwungu. Sebelum pandemi menguasai dunia, mbah Mun adalah juru memandikan jenazah perempuan di desa. Dan tak jarang ia diminta tolong memandikan jenazah di desa lain dalam satu kecamatan. Ini adalah pekerjaan sukarela yang dikerjakan mbah mun sejak 15 tahun terakhir. Oleh karena itu ia dikenal oleh banyak orang. Jika aku sedang jalan-jalan sore dengan mbah mun, aku harus mengalah dengan menunggunya bertegur sapa dengan banyak orang. Karena setiap tikungan gang yang kita lewati, orang pasti mengenalnya.

Mbah Mun buta alfabet, namun bisa membaca Al-qur’an dengan lancar. Walau sudah sepuh, beliau sangat cerdas dengan ingatan yang kuat. Mbah Mun masih hafal silsilah pohon keluarga dari si Fulandan Fulanah. Saat tahu bahwa aku, cucu kesayangannya, akan menikah dengan keturunan orang Kaliwungu, mbah Mun dengan senang hati mendatangi temannya yang ternyata adalah adik dari nenek suamiku. “Mun—(panggilan untuk adik nenek suami, namanya sama), putuku entuk putumu,” seru mbah mun, agak histeris.

Alhamdulillah, putuku sing endi?” tanya kawan mbah Mun.

“Putumu sing Truko!”

“Maa Syaa Allah, Alhamdulillah!”

Ya, seheboh itulah mbah Mun. Jadi harap maklum, aku memang punya darah heboh sudah dari sana-nya.
Meski terlihat galak, mbah mun memperlakukan setiap orang dengan baik. Di usianya yang sudah sepuh, mbah mun masih kuat mencuci piring, mencuci baju, belanja di pasar, berangkat ke pengajian dengan berjalan kaki sepanjang 2 km, bahkan memandikan jenazah dengan sukarela, sampai ditawari posisi sebagai pegawai tetap kelurahan, sebagai tanda jasa atas kesukarelaannya memandikan jenazah wanita. Namun beliau tolak.
Suatu hari mbah mun mengeluh tulang kakinya sakit, padahal beberapa hari lagi mbah mun akan ikut orang tuaku menikahkan adik laki-lakiku di pulau seberang, Medan. Tapi bukan mbah Mun namanya jika sakit sedikit mengeluh. Mbah Mun tetap ikut ke Medan dan berkunjung ke Danau Toba, Pulau Samosir. Senang sekali melihat mbah Mun masih kuat dan bugar selama perjalanan jarak jauh.
Dari mbah Mun aku belajar untuk selalu memberi dan berbuat baik sepanjang usia, satu rahasia panjang umur dan sumber kesehatan raganya.