Tampilkan postingan dengan label Reading. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reading. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 November 2017

Penulis-penulis dari Tanah Sumatera

Buku adalah jendela dunia. Dengan membaca dan mencintainya, kita bisa menembus cakrawala nun jauh di mata, tempat antah berantah yang hanya disebutkan di buku, mengenal banyak budaya, mengenal orang-orangnya, sambil berkeliling dunia.

Dan... Melalui penulislah kita dapat membaca sebuah buku, baik buku digital atau buku kertas. Aku akui, aku adalah orang yang tidak cukup konsisten tentang mengagumi seorang penulis, karena bagiku yang harus dikagumi adalah karyanya bukan penulisnya Haha. Satu-satunya hal konsisten yang kulakukan sampai saat ini adalah aku masih konsisten membeli buku terutama novel. hihi
Baiklah, kali ini akan kubahas beberapa penulis Sumatera terkenal mulai dari Andrea Hirata, pendobrak ke-stagnan-an novel Indonesia yang melulu tentang percintaan. Tere Liye dengan jamaah fesbukiyahnya, Asma Nadia dengan film-film hits nya, Helvy Tiana Rosa dengan Puisi-puisinya, dan Ahmad Fuadi dengan backgroundnya yang berwarna.

Andrea Hirata, si Ikal dari Pulau Belitong
Pertengahan 2006, saat itu aku duduk di bangku SMP, aku merengek-rengek ke orang tua untuk dibelikan novel Laskar Pelangi. Selain karena belum ada yang punya di Asrama, juga karena udah kebelet pengen baca.

Kick Andy show waktu itu menampilkan pecandu narkoba yang menangis terisak-isak sambil mendekap sebuah novel tebal, yang ternyata berjudul Laskar Pelangi. Sejak membaca novel ajaib itu, disebutkan bahwa pecandu itu insaf dan tidak terjerumus di lubang dosa lagi...

Apa sebenernya keajaiban yang dikandung Laskar Pelangi?

Tentang harmoni dalam kesederhanaan... Bagi yang sudah membaca dan mendalami novel Laskar Pelangi pasti paham bahwa Andrea Hirata, yang di dalam novel bernama Ikal, hidup dalam keterbatasan di pulau terpencil, terluar dan terisolasi dari kemajuan kota. Ikal masih beruntung karena dapat menimba ilmu di SD Muhammadiyah Gantong, Tanjongpandan, Belitung timur, sampai SMP Muhammadiyah Gantong, dengan kesepuluh Laskar Pelangi lainnya. Dengan Ibu guru Muslimah, tokoh sentral di Laskar Pelangi, mereka melewati hari-hari tak terlupakan bersekolah di sekolah yang struktur bangunannya menyalahi aturan arsitektur: miring, tidak simetris dan terkesan hampir rubuh! Itulah gambaran kecil tentang sebuah sekolah sederhana di pedalaman pulau yang dapat mengantarkan seorang anak bernama Andrea Hirata terbang hingga Universitas Sorbonne, Perancis dan mendapatkan gelar doktor di bidang Ekonomi Mikro dari sana.

Belum ada penulis lain yang menyerupai Andrea Hirata dalam menuliskan kejujuran dan bahasa tingkat tinggi ala-ala alumni yurop (Eropa). Walaupun sebenarnya gaya bahasanya terkesan menohok saking jujur dan apa adanya.

Tere Liye dan Jamaah Fesbukiyah
Rembulan tenggelam di wajahmu, Hafalan Surat Delisa, Moga Bunda disayang Allah, Pukat, Eliana, Bidadari-bidadari Surga, Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin, Hujan, Matahari, Bumi, Tentang Kamu, Kisah Sang Penandai, dst.. itulah sederet judul novel karangan Novelis seproduktif Bang Darwis Tere Liye. Bang Tere, sebutan akrabnya, telah kukenal juga sejak bangku SMP (Rembulan tenggelam di wajahmu, saat itu pinjam dari Intan Nurniza).
Jika saat ini kamu mengenal Tere Liye dari Fanpage Facebook nya, itu adalah karena hasil kerja kerasnya selama ini dalam menghasilkan lusinan karya novel yang kutipannya menghiasi fanpage Facebook Tere Liye.
Tak apa mengenal Tere Liye dari Fanpage nya terlebih dahulu, asal tak lupa untuk mulai membaca novelnya. Kutipannya hanya mewakili sebagian kecil dari isinya. Maka anak muda, rugilah kamu jika tidak mulai membaca novelnya. *Ini pure testimoninya, karena gak ada bayaran sepeser pun dari Bang Tere. Hahaha
Apapun isu yang berkembang saat ini tentang Bang Tere, saya menghormati apapun keputusannya tentang tidak akan menerbitkan buku fisik lagi berkaitan dengan Pajak Profesi Penulis.
Mungkin beliau sedang putar otak tentang bagaimana caranya menyebarluaskan karyanya agar tetap bisa dinikmati khalayak ramai di ranah digital? Who knows?

Asma Nadia dengan film-film hits nya
Sinetron Catatan Hati Seorang Istri pernah merajai rating pertelevisian Nasional mengalahkan sinetron Ganteng-ganteng Serigala selama berbulan-bulan. Itu tak lain tak bukan adalah karya dari Asma Nadia. Selain itu, novelnya yang sudah difilmkan adalah Love Sparks in Korea, Assalamualaikum Beijing, dan Hijab Traveler.

Asma Nadia mewakili kaumnya (penulis, red) yang telah menikmati kesuksesan di dunia film dan sinetron. Dan beliau ini adalah adik dari Penulis Helvy Tiana Rosa (Ibunya wow bgt yaaa, anaknya 2-2nya jadi penulis buku semua).
Kakaknya, Helvy Tiana Rosa, berprofesi sebagai Guru Besar fakultas ilmu budaya UI dan masih aktif berkarya baik itu novel maupun puisi. Novel yang difilmkan bulan lalu adalah Duka Sedalam Cinta, rilis 19 Oktober 2017.

Ahmad Fuadi, Novelis 'pelangi'?
Mondok di Pondok Modern Gontor namun bercita-cita menjadi insinyur seperti BJ Habibie, serta ingin berkuliah di ITB... Itulah sekilas cita-cita Fuadi yang dituliskan di Negeri Lima Menara.
Cita-cita anak pondok yang luhur biasanya kuliah di Al-Azhar Cairo, atau Ummul Quro Mekkah, syukur-syukur jika bisa melanjutkan di Universitas Islam Madinah. Lah ini? ITB? Emang bisa??

Fuadi membalikkan nasib dengan belajar di Ilmu Hubungan Internasional UNPAD, karena ITB tidak welcome. Itulah titik balik yang membawanya ke Canada, dan... Baca sendiri ya di Ranah 3 Warna.. hehehe
Seorang Reporter yang giat belajar, kemudian beralih profesi menjadi Novelis, dan hobinya melancong keliling dunia.

Terimakasih suamiku buat Novel Anak Rantau-nya Ahmad Fuadi. Maaf karena punya hobi yang 'mahal'. Yaaaa... Aku mengalami perubahan drastis dari harga novel yang masih 30ribuan menjadi 90ribuan... 😭😭😭😭😭
In sya'a Allah membaca membuat kita 'kaya'. Aku yakin itu.. *pinter ngeles 😇😂

Senin, 18 September 2017

Wajah yang menyenangkan dari piawai bercerita

Gara-gara tidak sengaja beli buku-buku Torey Hayden belasan tahun lalu, aku mengenal dunia psikologi secara tidak sengaja sejak dini. Menjadi seorang Psikolog dan Pengajar muda di daerah kumuh Imigran membuat Torey menjadi salah satu guru yang sangat diperhitungkan di bidangnya. Terutama karena dia menulis dan mendokumentasikan aktivitas mengajarnya melalui buku-buku semi novel, yang mendunia sehingga sampai di tanganku.

--Torey, panggilan akrab dari Victoria Hayden, berhadapan langsung dengan penderita skizofrenia akut, anak-anak autis, dan seorang anak yang masuk pengadilan negara karena membakar hidup-hidup anak usia 8 tahun (Sheila; Luka Hati Seorang gadis kecil) dalam satu kelas sekaligus. Bisa dibayangkan? Gak kebayang kalo itu jadi kelasku! Seremmm!!!

Di tangan Torey, anak-anak itu dapat menghabiskan beberapa semester untuk mengikuti kelas dan menjalani pengobatan intensif. Satu hal yang terekam jelas dalam buku-buku Torey adalah metode bercerita miliknya. Face to face.

--Torey memiliki wajah yang menyenangkan dan piawai bercerita, sehingga di tangannya anak-anak berkebutuhan khusus dapat lebih membuka diri dan bercerita tentang ketakutan-ketakutan yang dideritanya. Anak-anak pun lebih mudah percaya dan terbuka. Faktor keikhlasan juga salah satu kunci sukses sehingga kelasnya bisa menjadi kelas inspiratif dan menghasilkan buku-buku yang mendunia.

Rabu, 13 September 2017

Agar Mereka Suka Membaca

Dengan membaca, anak-anak melihat dunia.

Dengan membaca, anak-anak bisa berada dimana saja di belahan bumi ini.

Dengan  membaca, anak-anak bisa menjadi apa saja.

Dengan buku, imajinasi anak-anak akan terbangun.

Buku adalah jendela dunia.

Buku adalah kendaraan anak-anak untuk melihat dunia yang lebih luas.

Senin, 04 Januari 2016

Learn from the Owner of Nulisbuku.com

Let's learn how to generate our ideas from kak Ollie, the writer of most recent book I reviewed 'Passport to Happiness'

Spend morning in a bookshop or cafe

Keep a notebook to compile ideas--or in my case; a cup of coffee and a notebook
Read ALL kinds of books; yes I still read more than 2 books a day--I still try my best to do it
Break your routines, try to ignite stories--definitely!
“Steal” conversations from people--OMG kak Ollie, I love to do that too, although sometimes look like 'Nguping' hehe. is it still polite?

Jumat, 01 Januari 2016

Diary Coklat Ummi

Diary itu berwarna coklat usang. Karena termakan usia, terlihat usang dan warna coklatnya sedikit memudar. Aku menemukannya di usiaku yang ke lima belas, di suatu rak pojok rumah. Diary Coklat Ummi. Diary itu adalah salah satu sumber sejarah yang menceritakan masa kanakku yang indah.

Kamis, 31 Desember 2015

Kisah Tania dan Danar

Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin. Dia membiarkan  dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya…”
Ungkapan di atas adalah salah satu kutipan dari novel favoritku, karangan Tere-Liye. Dalam beberapa hal terdapat beberapa kesamaan cerita antara aku dan tokoh utama, Tania. Tapi yang jelas, Aku tidak secantik dan sepintar Tania. :D

Cara Terbaik

Ini hanya salah satu corat-coret yang pernah kutulis, jadi jangan dianggap serius yah :).
Tiga cara mencintai (yang kutahu).
Yang pertama, dia lugas dan tanpa basa-basi memberi tahu pujaan hatinya bahwa Ia menyukainya. Ia tak pernah berpikir panjang akan akibat dari pengakuannya; bagaimana pertemanan mereka yang sudah dijalin lama dengan baik? Atau hubungan mereka kelak jika tidak berhasil sebagai pasangan nanti.

Minggu, 20 Desember 2015

Budaya Membaca ala Pesantren

Aku bersyukur terlahir di lingkungan yang mencintai buku. Entah seberapa dalam kecintaannya pada buku, tapi abahku sukaa sekali memborong buku. Walaupun seringkali buku-buku itu tidak dibaca sampai selesai. Abah banyak membeli buku-buku motivasi, buku pendidikan, buku agama, novel dalam negeri, bahkan novel luar negeri alias terjemahan yang menghiasi sebagian besar rak di rumah. Manfaat dari buku-buku itu tentu saja sangat banyak—terutama untukku.


Aku tak ingat apa buku pertama yang selesai kubaca sampai halaman terakhir, tapi buku lumayan tebal paling berkesan yang kubaca dan kunikmati sampai halaman terakhir adalah buku karangan penulis Jepang, Tetsuko Kuroyanagi; Totto Chan, Gadis Cilik di Jendela. Saat itu usiaku masih delapan tahun. Sampai sekarang, sudah tiga kali aku membaca ulang novel itu. Dan masih saja senyum-senyum sendiri saat membacanya.

Hingga saatnya aku pergi jauh dari rumah untuk masuk ke salah satu pesantren putri di Ponorogo, Jawa Timur, kesukaanku membaca semakin menjadi-jadi. Apalagi dengan jumlah buku yang beragam dan berlipatganda melimpahnya! Karena sudah menjamur budaya pinjam-meminjam dan antri membaca buku dalam lingkungan pesantren itu. Dari ratusan orang yang tinggal di pesantren, jika setiap orang misalnya membawa 2-3 buku, bayangkan, berapa jumlah buku yang bisa kalian baca selama setahun?

Di pesantrenku hanya boleh bicara menggunakan bahasa Arab dan Inggris, bergilir bergantian tiap minggunya. Saat itu, kata yang kupelajari untuk mengantri meminjam buku adalah “Ba’daki!” dalam bahasa Arab dan “After you!” dalam bahasa anggris, yang berarti, "habis kamu ya!". Jika ada seeorang yang terlihat sedang membaca buku baru di kamar yang berisi 10-15 orang (Yaa, dulu aku punya kamar se-rame itu!) bisa dipastikan, akan ada sahut-menyahut panjang dan perdebatan “after you” tentang giliran membaca buku terbaru itu. Benar-benar saat-saat yang mengasyikkan dan ngangeni.

Tahun pertama, buku yang menjamur masa itu adalah novel-novel milik Asma Nadia; Aisyah Putri 1, 2, dan 3. Lalu Diorama Sepasang Al-Banna dan Dilatasi Memori milik Ari Nur, Kumpulan cerpen Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa. Dan... Tere Liye! OMG, ternyata aku sudah mengenal tere liye bahkan sejak SMP!

Saat naik kelas, ketika aku mulai berani berinteraksi dengan kakak angkatan, seleraku merambah buku-buku terjemahan luar negeri milik Torey Hayden seperti Sheila; Luka Hati Seorang Gadis Kecil dan Kevin; sebuah Memoar dan The Devi wears Prada. Lewati beberapa masa sibuk kelas 4-5, saat itu adalah tahun tersibuk di pesantren, karena tahun SKU, SAKA Bhakti Husada, menjadi pengurus, hingga KMD. Otomatis buku-buku yang bisa dibaca berkurang di waktu super sibuk itu. Ah, ya, tetap saja kami tidak ketinggalan membaca Serial terakhir  Harry Potter and the deathly hallows, novel berbahasa Inggris yang dibawa langsung dari Amerika oleh guru Native kami, Miss Natalie Binder. Tahun itu novel karya Dan Brown juga sedang menjamur di indonesia, dan berkat meminjam aku bisa membaca dua di antaranya yaitu The Da vinci Code dan Angels and Demons.

Saking banyaknya pilihan buku dan panjangnya antrian membaca, otomatis kecepatan membacaku meningkat karena dikejar-kejar waktu.  Betapa saat itu adalah masa emas dalam dunia membacaku. Terima kasih, teman-teman dan para kakak dan adik kelas yang telah membawa buku-buku keren saat itu ke pesantren!

Sore tadi aku mendapat oleh-oleh sebuah novel berjudul Menantu Untuk Ibu karangan Faradhina Izdhihary yang sudah setengah-selesai. Mungkin malam ini tamat. 
Lalu, buku apa yang sedang kamu baca saat ini?