Tampilkan postingan dengan label Memoirs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memoirs. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Februari 2021

Sejuta Mimpi Umi

Siapa sangka jika tahun 2021 ini aku sudah punya dua buntut sekaligus, yang akan selalu ngintil di belakangku? Nggak nanggung-nanggung, dua sekaligus: putri pertamaku berusia 30 bulan per Februari ini, dan putraku baru berusia empat bulan. Wowww :) 

Bahkan tiga tahun lalu (2017) pun aku masih belum kepikiran punya anak, karena calon suami pun belum nemu. Tidak, bahkan walaupun menikah dan punya anak masuk dalam lima besar impian teratasku, tapi aku tidak menyangka bahwa aku akan menghadapinya di usia 20-an ku. Benar-benar satu kejutan besar di episode kehidupan usia 20-an ku yang sangat "nano-nano".

But Life goes on and on, aku selaku pemeran utama kisah bernama kehidupanku sendiri, akan menghadapinya dengan berbagai konsekuensi dari keputusan-keputusan teledor masa laluku. Menjadi ibu selama 30 bulan terakhir mengajarkanku untuk tidak diam saja menghadapi keadaan. Menjadi ibu berarti harus bergerak, ibu harus bekerja, ibu harus berkarya dan mempunyai mimpi-mimpi supaya tidak "mati" dalam artian yang sesungguhnya.

Trigger bernama KMO

Akhir tahun 2020 menjadi tonggak penting dalam sejarah hidupku. Berkat ajakan umi (ibuku), aku mengikuti sebuah komunitas menulis bernama KMO (Komunitas Menulis Online) yang didirikan oleh Kak Tendi Murti. Setelah mengikuti proses sarapan kata selama 30 hari terakhir, akhirnya aku menuliskan 10.000 kata pertamaku yang akan menjadi buku solo perdanaku. Di tengah rempongnya mengasuh dua bayi sekaligus ternyata aku berhasil menulis. Apalagi dengan suasana Pandemi dan Bencana dimana-mana, aku sangat bersyukur menemukan kegiatan positif ini. Banyak pikiran buruk yang berhasil kusingkirkan jauh-jauh karena aku benar-benar terfokus ke satu kegiatan menulis ini.

Pagiku selalu lebih berwarna dari pagi-pagi sebelumnya. Aku masih kelelahan setiap bangun pagi (Maklum, busui/Ibu menyusui masih bangun tiga-lima kali dalam semalam untuk menyusui bayik), tetapi aku lebih bersemangat karena harus bersiap upload tulisan ke Facebook KMO dan akun Instagram ku.

Ketika program sarapan kata KMO club berakhir minggu lalu, ternyata aku benar-benar kehilangan suasana pagi alarm jam enam, tanda bahwa aku harus mengupload tugas. Ah, rindu. Terima kasih KMO, telah menyuburkan semangat menulis dalam diriku yang hampir kulupakan setelah aku menjadi seorang umi (ibu).

Menghidupkan Mimpi-mimpi

"Ca, apa mimpimu?" tanya abah padaku setahun yang lalu. Bahkan saat usiaku sudah menginjak 25 tahun lebih, aku masih gelagapan untuk menjawabnya. Aku punya banyak sekali mimpi, yang akhirnya kukubur hidup-hidup sejak kutinggalkan bangku kuliah beberapa tahun yang lalu.

Namun bara api bernama mimpi masih meletup-letup dengan baik di dada. Aku masih memilikinya. Aku memang sudah jadi emak-emak, tapi aku masih punya mimpi yang harus kuwujudkan, demi kebahagiaanku sendiri.

Doakan umimu ini ya anak-anakku. Semoga kalian selalu bersabar mengiringi umi dalam mewujudkan cita-cita. :)

Dengan dukungan penuh dari suami tercinta dan orang tuaku, Bismillah, untuk menjadi sebaik-baik Insan.


Lirik lagu untuk suami tercinta:

Hidupkan lagi mimpi-mimpi (cinta-cinta)
Cita-cita (cinta-cinta)
Yang lama kupendam sendiri
Berdua 'ku bisa percaya
'Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara miliaran manusia
Dan 'ku bisa dengan radarku menemukanmu
_Perahu Kertas_


 

Kamis, 22 November 2018

Cerita Persalinanku di bulan Agustus: bukaan momen

Alhamdulillah, mucus plug—lendir darah tanda mau melahirkan—keluar di saat yang paling tepat. Kok bisa? Ya gimana enggak, suami sudah pulang sejak kemarin, dan hari itu, 12 Agustus, bertepatan dengan jalan sehat kampung sekaligus hari Minggu. Artinya, semua anggota keluarga libur kerja. Lengkap! Inilah kerja sama perdana antara aku dan si sinok baby. Toss dulu, Gendukku sayang! 👏👏👏 Setelah sukses membangunkan satu rumah—yang baru saja lelah menyiapkan doorprize jalan sehat—aku langsung kirim foto lendir darah ke Bu Tina, bidan langganan. Balasannya singkat tapi tegas: “VT ke tempat praktik saya, ya.” Pukul 11 siang, kami sampai di rumah bidan. Begitu jari Bu Tina menyentuh, aku spontan merintih, “Aduh, aduh…” “Belum bukaan, Mbak Ica. Tapi sudah dekok,” jelasnya sambil tersenyum. “Mungkin lahirnya malam ini atau besok. Namanya juga anak pertama.” Keluar dari rumah bidan, kami malah sempat mampir makan bakso di Pasar Kendal. Prinsip Umiku: “Lahiran itu harus kuat makan, biar kuat ngeden!” Masuk waktu zuhur, kontraksi mulai datang. Awalnya timbul-tenggelam, kadang hilang kalau aku sibuk melakukan aktivitas lain. Karena masih kuat, aku malah squat berkali-kali supaya kepala bayi cepat turun. Bumer menelepon, pesannya jelas: jangan tiduran, banyakin jalan. Ya sudah, aku dan suami keliling kompleks lagi—padahal pagi tadi sudah jalan sehat keliling desa. Kali ini tujuannya memancing kontraksi biar lebih intens. Pukul 14.00, kontraksi mulai terasa lebih “serius”. Suami langsung menginstal contraction timer, tapi ritmenya masih nggak konsisten. Sampai rumah, aku masih sempat squat 15 menit (hebat nggak tuh?), tapi akhirnya duduk berhadapan sama suami, lalu membuka mushaf. Aku membaca Surat Maryam. Sampai di ayat yang menceritakan Maryam sendirian menahan sakit kontraksi, aku tidak sanggup menahan air mata. “Kasihan banget Maryam… lahiran nggak ada yang nemenin…” Suamiku menatapku tak bisa berkata-kata. “Ntar kalau aku mau nyerah, kamu harus kuatkan aku, ya.” Kami pun berpelukan seperti teletubbies—minus kostumnya. Pukul 15.00, Umiku memberi saran: “Ke puskesmasnya habis Maghrib aja, biar bukaan udah banyak.” Aku mengangguk, berharap “aamiin” yang tulus di dalam hati. Sore itu aku minta suami belikan pepaya. Bukan craving, tapi demi urusan BAB sebelum lahiran. Baru saja sendok terakhir masuk mulut, pyok!—ketubanku pecah. PANIK! Umi langsung jadi komandan lapangan: “Aabah siapin mobil. Mas Ad nggak usah mandi, siapin tas lahiran sama perlak buat duduk Ica di mobil!” Masalahnya, jalur ke rumah bidan harus lewat arah Jakarta, dan… macet total. Bu Tina menyarankan ke RSI, tapi itu juga arah Jakarta. Solusi: RSUD Soewondo Kendal. Adzan Maghrib berkumandang saat aku sampai di UGD. Hasil VT: baru bukaan 1. Karena ketuban sudah pecah, aku langsung diinfus antibiotik. Pukul 19.00, aku dipindah ke ruang bersalin—pas banget ada ibu lain yang sedang crowning. Aku ikut ngilu. VT lagi: bukaan 2. Kontraksi makin intens, tapi aku masih sempat ke toilet (berkah pepaya, lancar). Keluar dari ruang bersalin, aku duduk di samping suami sambil meminta dibacakan Surat Maryam. Belum sampai setengah, suamiku malah ikut mewek. Bumer dan Pakmer datang membawa kurma. “Ambil napas dalam, keluarkan sambil istighfar,” kata Bumer. Kontraksi makin kuat. Setiap rasa sakit datang, bayangan semua kenakalan dan dosa pada Umi terputar di kepala seperti film hitam putih. Aku menggenggam tangan Umi: “Maafkan semua kesalahan Ica, Mi. Maafkan kalau belum bisa jadi anak yang berbakti.” Pukul 21.00, bidan menegur karena aku keluar dari ruang bersalin. Aku digiring kembali, apalagi setiap rembesan ketuban sudah bercampur darah. Gamis dan kerudung basah kuyup. Jam 22.00, VT lagi: masih bukaan 2. Rasanya… potek hati! Mulesnya sudah level dewa, tapi progresnya lambat. Pikiran mulai kacau: “Jangan-jangan nanti SC?” Dalam hati, aku hanya bisa berdoa: Ya Allah, Engkau yang Maha Memudahkan… bantulah aku melahirkan anakku dengan selamat. Bersambung di Part III…

Minggu, 05 Agustus 2018

Euforia Bulan ini❤

Jika ada rasa sakit yang membahagiakan, itu adalah proses persalinan untuk menyambutmu, nak...

9 bulan sudah kau berada di rahimku. Masih 4 hari lagi menjelang HPL (Hari Perkiraan Lahir), tapi euforia menyambutmu begitu membuncah... 😘😘
In syaa Allah kami masih sabar menunggumu. Kapanpun kamu ingin keluar: umi, abi, nenek, kakek, dan om-ommu siap.
Ayo nak, kita berjuang bareng!

Hormon bahagia

Awal kehamilan, di trimester pertama, aku sama sekali tidak mengalami mual muntah seperti kebanyakan bumil lainnya. Jika ibu mertua tidak menemani USG ke obsgyn untuk pertama kalinya, aku juga masih gak yakin kalo lagi hamil😂😂😂😂

Melihatmu untuk pertama kalinya di layar USG... Bahagia tiada tara 😍 walopun terselip rasa takut di lubuk hati yang paling dalam: Apakah aku bisa menjadi madrasah utama yang baik bagimu? Bismillah, menjadi orang tua adalah menjadi orang yang harus berusaha berfikir positif.. agar selalu berjuang untuk anak-anaknya.😘

Edisi baper karena di usia kehamilan 36 week harus ditinggal suami ke Jakarta selama sebulan..

Kak, keluarnya nunggu Abi pulang mawon, nggih?

Karena doula terbaik adalah suami 😍

Kendal, 4 Agustus 2018

#tulisan menjelang persalinan

Selasa, 10 Juli 2018

Diorama Sepasang Al-Banna

Rani memandangi parasnya di cermin meja rias sambil menyisir rambutnya dengan pelan. Wajahku amat sederhana... Untuk seorang suami seperti Rayyan Fikri...
Tak sengaja pandangan matanya bertemu mata Ryan, suaminya di dalam cermin.
Deg! Hatinya seketika berdesir. Malu.
"Kau sedang memikirkan apa, sayang?" Tanya Ryan.
*Cuplikan novel

Kau tahu, sayang? Aku sangat bersyukur tidak melewatkan membaca satu novel ini: Diorama Sepasang Al-Banna nya Ari Nur. Salah satu novel yang sarat informasi tentang kehidupan berumah tangga, bagi yang ingin memelihara rumah tangganya sakinah mawadah warahmah. Walopun sebenarnya aku membacanya terlalu dini (saat masih kelas 2 SMP), yang menyebabkan virus ingin nikah muda wkwkwk.

Novel yang baik menurutku, karena menggambarkan bahwa tak ada yang namanya pernikahan yang sempurna. Tetapi semua anggota keluargalah yang berperan menyempurnakan pernikahan itu..

Tentang perkenalan singkat Rani dan Ryan, yang berujung pada taaruf dan menikah which is sama dengan yang kita alami..

Masih terekam dengan jelas, bulan puasa tahun lalu, saat ibumu meneleponku dengan tiba-tiba setelah malam perkenalan...
"Nok, mom serius lho pengen Ica jadi mantu mom," simple and to the point. Sebenarnya karena ini jugalah aku memantapkan hati untuk mulai "mengenalmu".

Ta'aruf, perkenalan secara kekeluargaan yang prosesnya hanya 3 bulan. Terhitung singkat, bukan?

Terimakasih, untuk menjadi teman diskusi yang mengasyikkan sehingga kita tak perlu rempong mengalami miskomunikasi seperti yang dialami Rani dan Ryan dalam novel. 😄

Maafkan aku jika masih berbenah diri sampai 9 bulan ini... Ya, kamu benar, apapun yang kita hadapi asalkan berdua denganmu terasa lebih menyenangkan..

#monthyversarry

Sabtu, 27 Februari 2016

Being Maximal!




I’m not working for money, nor passion, I’m working for contribution. -Anonymous
Khairun-naasi anfa’uhum wa ahsanuhum khuluqan.
Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang-orang lainnya (kepentingan banyak orang, jamak) dengan akhlaq yang sebaik-baiknya. ~Arabic proverb


Pernahkah kamu benar-benar merenungkan hidup, bahwa apakah kamu benar-benar telah menjalaninya dengan maksimal? Aku sedang memikirkannya. Bagaimana jika aku benar-benar menjalankan segala sesuatunya dengan maksimal? Apakah akan seperti ini jadinya? Atau, dengan nada paling pesimis dari hati, ah, walaupun sudah berusaha maksimal pun toh akan begini-begini saja.

Tetapi kita muslim yang sangat tidak dianjurkan untuk berandai-andai saja. Demi waktu yang bergerak dengan cepat, akhirnya aku pun mulai bergerak dengan cepat mengiringi langkah sang waktu, walaupun seringkali terseok-seok ketika berjalan, bahkan terjatuh. Lalu bangkit. Lalu jatuh lagi. Kemudian, ketika bangkit lagi, aku menemukan banyak sumber tenaga, dukungan dan kebahagiaan dimana-mana. Demi berubahnya zaman, aku harus berubah. Lalu seiring berakhirnya bulan Februari awal tahun baru ini, aku pun menyadari satu hal: Aku bertransformasi menjadi orang lain yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku mulai mengerjakan apapun yang ada di depanku dengan sungguh-sungguh. 

Ketika menyambut hari yang baru, aku bisa merasakan sensasi hari itu, dari perasaan menggebu-nggebu akan menyambut pekerjaan, atau mau masak sarapan apa hari ini, senang, gundah gulana, dan yang terlebih dari semua sensasi itu adalah hati yang berseri-seri. Seolah-olah seperti aku menemukan ritme hidupku. Adakah hari-hari yang lebih berbahagia selain menyambut hari itu dengan hati yang berseri-seri? :)
Ah, benarkah aku sudah sedewasa itu? Lalu siapa lagi yang akan merubah diri kita jika bukan kita sendiri yang merubahnya? *dalem

Berawal dari kelas bercerita
Sejak penghujung 2015, tawaran mengajar menghampiriku. Alih-alih langsung menerima, aku ciut. Nggak pede. Banyak orang yang ingin bekerja dengan harus melamar terdahulu, bersusah-payah bikin resume diri, kok aku langsung dengan gampangnya dilamar pekerjaan? Sadar dong caaa, heyyy siapa elo?? Suara berkecil hati terus-menerus merongrong menambah sisi pesimisku. 

Tapi ini adalah tantangan, kata abah. Ortu terus mendukungku sampai sebulan kemudian, Aku bertemu ketua komite sekolah lain yang meminta hal yang kurang lebih sama: tawaran mengajar yang lain. Padahal, aku tengah mengurus lamaran kerjaku yang pertama untuk sebuah Institusi Pemerintah di awal tahun ini. Akhirnya pertimbangan yang matang dimulai. Karena opsi pertama adalah sekolah baru yang baru meluluskan satu generasi, yang insyaALLAH menurutku adalah sekolah yang embrionya akan terus tumbuh berkembang, jadi aku putuskan masuk ke sekolah itu, dan aku akan ikut berkembang di dalamnya. Opsi lainnya adalah karena sekolah itulah yang melamar duluan, tentu saja. Dengan catatan: Aku akan mengawal murid-muridku menjadi melek dunia literasi, di samping mengajar bahasa Inggris.

Akhirnya setiap malam sebelum mengajar keesokan harinya aku kembali menemukan diriku yang baru. Besok materi apa yang akan kusampaikan? Apakah buku ini kira-kira baik untuk materi minggu depan? AH! Harus ke toko buku lagi. Stok materi habis! Setiap hari selalu ada insiden kebakaran jenggot karena perubahan dari wanita malam menjadi wanita pagi! Hahaha

Dan aku menamai kelasku dengan kelas bercerita. Satu kelas yang benar-benar terinspirasi dari orang lain yang akhirnya kuwujudkan!

Ada yang sudah baca Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin nya bang Tere-Liye? Yang sudah baca pasti kenal dengan karakter kak Danar. Okey kuakui aku emang terhanyut-hanyut dengan novel satu ini alias fans nomor wahid. Tapi itu semata-mata karena baru kali ini baca novel Tere-Liye dengan plot flash back dan kebetulan saja beberapa kisahnya memang pernah kualami. (yang terakhir gak usah terlalu percaya aja).
Kak danar adalah penyelamat hidup Tania, seperti seorang dewa yang khusus dikirim Allah untuk memberi Tania dan keluarga kecilnya harapan hidup yang lebih baik dari kerasnya hidup di jalanan. Dan kak Danar ini, mempunyai kelas bercerita untuk anak-anak kompleks tiap minggu di rumahnya. Kebiasaan yang Akhirnya menurun kepada Tania dan Dede, adiknya, ketika mereka berdua tinggal bersama kak Danar dan beranjak dewasa.

Kembali ke kelas bercerita, ada kepuasan tersendiri dari berbagi apa yang telah kita lihat dan baca dari buku, bahkan hidup, untuk orang lain. Apalagi melihat ekspresi penasaran anak-anak yang menunggu kelanjutan ceritaku sambil melingkar duduk di sekitarku. Sebisa mungkin, walaupun aku memang bakat galak, aku membuat kelasku senyaman-nyamannya kelas yang ingin aku ciptakan, agar apa yang aku sampaikan, mengena ke sanubari kecil mereka. Tentunya dengan diiringi materi-materi yang baik untuk anak-anak seumur mereka.

Jauh sebelum aku mengenal Daun yang Jatuh Tidak pernah membenci angin, aku mengenal dunia bercerita dari Almarhum kakekku. Beliau adalah pencerita ulung di madrasah tempat aku menimba ilmu agama dulu, yang bisa memainkan mimik dengan ekspresif (Sampai saat ini aku masih berusaha bermimik bagus sesuai alur cerita, tapi masih susah). Dan putrinya, alias Ummi, Ibundaku, yang juga pendongeng sejati. Mungkin dari situlah intuisi berceritaku dimulai, hingga akhirnya tercipta kelas bercerita. Bukan main-main... ini bukan hanya khayalan atau bayangan saja...
Kelas berceritaku akhirnya benar-benar tercipta! Alhamdulillah! Terima kasih Ya Rabb!



Asal kau tahu, kamu akan selalu menemukan dirimu yang lain, dirimu yang kamu belum pernah menjadinya sebelumnya. Walaupun seringkali manusia melakukan kesalahan, yang terbaik adalah memperbaiki diri. Manusia memang telah diilhami oleh penciptanya untuk terus berkembang menjadi insan yang lebih baik, selalu.

Rabu, 03 Februari 2016

Every place has its story—Meeting Hall 5 tahun 7 bulan yang lalu




Setiap tempat punya ceritanya sendiri. Seperti setiap orang yang punya cerita masing-masing. Sebenernya aku terinspirasi nulis cerita ini karena kebetulan seminggu yang lalu aku berkesempatan mengunjungi Ponorogoku tercinta. Yah, walopun sebentar sih, nevermind.

Jadi karena waktu yang sebentar itu, aku dan sohibku yang setia mengantar-jemputku selama di PO (Ponorogo-red)—Oci, memanfaatkan waktu yang sempit sebaik-baiknya untuk kengen-kangenan dengan teman-teman yang masih di asrama. Setelah urusan di sekolah kelar jam 9 pagi, kami cus meluncur ke asrama. 

Motor Oci langsung terparkir di depan bagian Pengasuhan—Flashback- 5 tahun yang lalu, sebelum kita lulus, boro-boro parkir di depan pengasuhan. Lewat aja dag-dig-dug-der. Dulu aku hanya ke bagian Pengasuhan saat berurusan dengan perizinan keluar asrama aja. Pokoknya asal dapet izin—hawanya mangkirr aja dari satu kantor itu... *segitunya emang, karena cuma yang pernah tinggal di asrama aja yang tahu rasanya minta izin keluar dari bagian Pengasuhan cuma buat ke kota setiap hari jumat.*

Alhamdulillah bisa berjam-jam ngobras sama Rintul *panggilan akrab teman-teman seangkatan buat ustazah Rina.. kalo bukan seangkatan haram lohya panggil rintul, haha^^* cerita banyak hal ngalor-ngidul, pokonya bahas sana-bahas sini. Saking asyiknya kita sampe lupa waktu—hampir 3 jam aku, oci & rintul ngobrol di depan kamar rintul (MABIKORI). 
Maklumlah teman lama mah gak pernah kehabisan bahan obrolan. Toss dulu kite-kite..


Meeting Hall: tempat dengan sejuta memori

Mabikori (Majelis Pembimbing Koordinator) berada tepat di depan kamarku saat jadi pengurus dulu, namanya Syaula (First Aisyah Office)—singkatan dari Aisyah ‘Ula atau artinya Aisyah Satu. Syaula itu semacam white house-nya pesantren karena pusat pemerintahan pesantren ada disitu *uju bunenggg kok terkesan lebay seh*. 

Hmm gimana yaa, emang bener sih, roda kehidupan di asrama tuh bergantung sama kepengurusan OSWAH-semacam OSIS SMA, tapi beda jauhhh. Kalo OSIS ngurusinnya kegiatan ekstra di sekolah tok kan ya, nah OSWAH ini mengurusi kehidupan sehari-hari santriwati. Dari bangun tidur sampe tidur terus sampe bangun lagi... Widiwww... kurang wow apa coba?

Makanya bagian-bagian dari pengurus OSWAH itu seabrek: ada yang namanya bagian Keamanan (Security Section), Bagian Pengajaran (Education Section), bagian Bahasa (Language Section), bagian penerangan (Information Section), bagian pramuka (Coordinator office), kebersihan (Cleaning Section), dan seterusnya sampe kantin, koperasi, de el el, masih banyak lagi yang lainnya yang pastinya panjang banget kalo ditulis satu-satu di postingan iniii... harus buka buku LPJ buat nulisin semua *Laporan Pertanggung Jawaban*.

Kantor Syaula juga berhadapan dengan kantor Pengasuhan, dan bersebelahan dengan Meeting Hall. Mungkin kalau ada foto tampak udara gitu bentuknya jadi segitiga antara Syaula-Meeting Hall-Pengasuhan. Tiga gedung ini memang berhubungan satu sama lain. Meeting Hall, selain untuk mengadakan acara-acara besar seperti Bazaar, Pergantian pengurus, LPJ, Etiquette, dan perpisahan... Meeting Hall juga adalah tempat untuk pameran (bukan arti yang sebenarnya). 

Jadi gini, dulu untuk memberi efek jera buat para trouble maker, biasanya si pelanggar hukum akan dihukum berdiri selama jam makan malam—dari maghrib sampe isya di meeting hall, di tempat banyak orang berlalu lalang di jam itu, sambil dikalungkan tulisan besar-besar dalam kardus sebesar hukumannya—seberapa besar sanksinya, sebesar itu pula tulisan kardus pelanggarnya. Para trouble maker akan berdiri *ngga boleh senyum ato mangap-buka mulut sedikitpun* selama 1 jam an. Tergantung lama waktu antara maghrib dan isya.

Dari zaman SMP sampe jadi si empu lonceng legendaris, Bagian Keamanan, Meeting hall telah menyimpan banyak cerita. Saat pertama kali mengikuti Khutbatul Arsy kelas satu SMP dulu, tempat etiquette kepulanganku yang pertama, Bazaar Oswah, Bazaar Akbar *Nge MC bareng MC mate ku, Tyas*, PSTJ, LPJ, sampe perpisahan.

Atau ketika aku duduk di kelas empat (1 SMA) saat seluruh teman seangkatanku dihukum massal oleh bagian keamanan, bahasa, dan bagian pengajaran sekaligus karena entah alasan apalah itu. Kemudian dari kejadian ini terciptalah lirik “We are forever trouble maker” gubahan dari lagu “FIFA forever” kalo gak salah...


Meeting Hall juga jadi saksi bisu panggung Drama Arena dan Panggung Gembira. Atau saat aku dan teman-teman sujud syukur di halaman Syaula, waktu kita resmi jadi bantara sejati di hari terakhir SKU pramuka. Waktu itu aku gak jadi come back forever—yang satu ini akan dibahas dijudul postingan baru, soalnya udah kepanjangan di sini. :D

Semuanya, jika dirangkai jadi satu cerita, mungkin akan jadi novel yang lebih panjang halamannya dari Negeri Lima Menara-nya Ahmad Fuadi, karena ini tentang cerita ratusan perempuan *cantik, uhuk* yang hidup dalam satu atap dengan berbagai macam permasalahannya. 

With love, for my beloved Almamater Al-Mawaddah Coper, Jetis, Ponorogo