Tampilkan postingan dengan label Books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Books. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Februari 2021

Sejuta Mimpi Umi

Siapa sangka jika tahun 2021 ini aku sudah punya dua buntut sekaligus, yang akan selalu ngintil di belakangku? Nggak nanggung-nanggung, dua sekaligus: putri pertamaku berusia 30 bulan per Februari ini, dan putraku baru berusia empat bulan. Wowww :) 

Bahkan tiga tahun lalu (2017) pun aku masih belum kepikiran punya anak, karena calon suami pun belum nemu. Tidak, bahkan walaupun menikah dan punya anak masuk dalam lima besar impian teratasku, tapi aku tidak menyangka bahwa aku akan menghadapinya di usia 20-an ku. Benar-benar satu kejutan besar di episode kehidupan usia 20-an ku yang sangat "nano-nano".

But Life goes on and on, aku selaku pemeran utama kisah bernama kehidupanku sendiri, akan menghadapinya dengan berbagai konsekuensi dari keputusan-keputusan teledor masa laluku. Menjadi ibu selama 30 bulan terakhir mengajarkanku untuk tidak diam saja menghadapi keadaan. Menjadi ibu berarti harus bergerak, ibu harus bekerja, ibu harus berkarya dan mempunyai mimpi-mimpi supaya tidak "mati" dalam artian yang sesungguhnya.

Trigger bernama KMO

Akhir tahun 2020 menjadi tonggak penting dalam sejarah hidupku. Berkat ajakan umi (ibuku), aku mengikuti sebuah komunitas menulis bernama KMO (Komunitas Menulis Online) yang didirikan oleh Kak Tendi Murti. Setelah mengikuti proses sarapan kata selama 30 hari terakhir, akhirnya aku menuliskan 10.000 kata pertamaku yang akan menjadi buku solo perdanaku. Di tengah rempongnya mengasuh dua bayi sekaligus ternyata aku berhasil menulis. Apalagi dengan suasana Pandemi dan Bencana dimana-mana, aku sangat bersyukur menemukan kegiatan positif ini. Banyak pikiran buruk yang berhasil kusingkirkan jauh-jauh karena aku benar-benar terfokus ke satu kegiatan menulis ini.

Pagiku selalu lebih berwarna dari pagi-pagi sebelumnya. Aku masih kelelahan setiap bangun pagi (Maklum, busui/Ibu menyusui masih bangun tiga-lima kali dalam semalam untuk menyusui bayik), tetapi aku lebih bersemangat karena harus bersiap upload tulisan ke Facebook KMO dan akun Instagram ku.

Ketika program sarapan kata KMO club berakhir minggu lalu, ternyata aku benar-benar kehilangan suasana pagi alarm jam enam, tanda bahwa aku harus mengupload tugas. Ah, rindu. Terima kasih KMO, telah menyuburkan semangat menulis dalam diriku yang hampir kulupakan setelah aku menjadi seorang umi (ibu).

Menghidupkan Mimpi-mimpi

"Ca, apa mimpimu?" tanya abah padaku setahun yang lalu. Bahkan saat usiaku sudah menginjak 25 tahun lebih, aku masih gelagapan untuk menjawabnya. Aku punya banyak sekali mimpi, yang akhirnya kukubur hidup-hidup sejak kutinggalkan bangku kuliah beberapa tahun yang lalu.

Namun bara api bernama mimpi masih meletup-letup dengan baik di dada. Aku masih memilikinya. Aku memang sudah jadi emak-emak, tapi aku masih punya mimpi yang harus kuwujudkan, demi kebahagiaanku sendiri.

Doakan umimu ini ya anak-anakku. Semoga kalian selalu bersabar mengiringi umi dalam mewujudkan cita-cita. :)

Dengan dukungan penuh dari suami tercinta dan orang tuaku, Bismillah, untuk menjadi sebaik-baik Insan.


Lirik lagu untuk suami tercinta:

Hidupkan lagi mimpi-mimpi (cinta-cinta)
Cita-cita (cinta-cinta)
Yang lama kupendam sendiri
Berdua 'ku bisa percaya
'Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara miliaran manusia
Dan 'ku bisa dengan radarku menemukanmu
_Perahu Kertas_


 

Kamis, 09 November 2017

Penulis-penulis dari Tanah Sumatera

Buku adalah jendela dunia. Dengan membaca dan mencintainya, kita bisa menembus cakrawala nun jauh di mata, tempat antah berantah yang hanya disebutkan di buku, mengenal banyak budaya, mengenal orang-orangnya, sambil berkeliling dunia.

Dan... Melalui penulislah kita dapat membaca sebuah buku, baik buku digital atau buku kertas. Aku akui, aku adalah orang yang tidak cukup konsisten tentang mengagumi seorang penulis, karena bagiku yang harus dikagumi adalah karyanya bukan penulisnya Haha. Satu-satunya hal konsisten yang kulakukan sampai saat ini adalah aku masih konsisten membeli buku terutama novel. hihi
Baiklah, kali ini akan kubahas beberapa penulis Sumatera terkenal mulai dari Andrea Hirata, pendobrak ke-stagnan-an novel Indonesia yang melulu tentang percintaan. Tere Liye dengan jamaah fesbukiyahnya, Asma Nadia dengan film-film hits nya, Helvy Tiana Rosa dengan Puisi-puisinya, dan Ahmad Fuadi dengan backgroundnya yang berwarna.

Andrea Hirata, si Ikal dari Pulau Belitong
Pertengahan 2006, saat itu aku duduk di bangku SMP, aku merengek-rengek ke orang tua untuk dibelikan novel Laskar Pelangi. Selain karena belum ada yang punya di Asrama, juga karena udah kebelet pengen baca.

Kick Andy show waktu itu menampilkan pecandu narkoba yang menangis terisak-isak sambil mendekap sebuah novel tebal, yang ternyata berjudul Laskar Pelangi. Sejak membaca novel ajaib itu, disebutkan bahwa pecandu itu insaf dan tidak terjerumus di lubang dosa lagi...

Apa sebenernya keajaiban yang dikandung Laskar Pelangi?

Tentang harmoni dalam kesederhanaan... Bagi yang sudah membaca dan mendalami novel Laskar Pelangi pasti paham bahwa Andrea Hirata, yang di dalam novel bernama Ikal, hidup dalam keterbatasan di pulau terpencil, terluar dan terisolasi dari kemajuan kota. Ikal masih beruntung karena dapat menimba ilmu di SD Muhammadiyah Gantong, Tanjongpandan, Belitung timur, sampai SMP Muhammadiyah Gantong, dengan kesepuluh Laskar Pelangi lainnya. Dengan Ibu guru Muslimah, tokoh sentral di Laskar Pelangi, mereka melewati hari-hari tak terlupakan bersekolah di sekolah yang struktur bangunannya menyalahi aturan arsitektur: miring, tidak simetris dan terkesan hampir rubuh! Itulah gambaran kecil tentang sebuah sekolah sederhana di pedalaman pulau yang dapat mengantarkan seorang anak bernama Andrea Hirata terbang hingga Universitas Sorbonne, Perancis dan mendapatkan gelar doktor di bidang Ekonomi Mikro dari sana.

Belum ada penulis lain yang menyerupai Andrea Hirata dalam menuliskan kejujuran dan bahasa tingkat tinggi ala-ala alumni yurop (Eropa). Walaupun sebenarnya gaya bahasanya terkesan menohok saking jujur dan apa adanya.

Tere Liye dan Jamaah Fesbukiyah
Rembulan tenggelam di wajahmu, Hafalan Surat Delisa, Moga Bunda disayang Allah, Pukat, Eliana, Bidadari-bidadari Surga, Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin, Hujan, Matahari, Bumi, Tentang Kamu, Kisah Sang Penandai, dst.. itulah sederet judul novel karangan Novelis seproduktif Bang Darwis Tere Liye. Bang Tere, sebutan akrabnya, telah kukenal juga sejak bangku SMP (Rembulan tenggelam di wajahmu, saat itu pinjam dari Intan Nurniza).
Jika saat ini kamu mengenal Tere Liye dari Fanpage Facebook nya, itu adalah karena hasil kerja kerasnya selama ini dalam menghasilkan lusinan karya novel yang kutipannya menghiasi fanpage Facebook Tere Liye.
Tak apa mengenal Tere Liye dari Fanpage nya terlebih dahulu, asal tak lupa untuk mulai membaca novelnya. Kutipannya hanya mewakili sebagian kecil dari isinya. Maka anak muda, rugilah kamu jika tidak mulai membaca novelnya. *Ini pure testimoninya, karena gak ada bayaran sepeser pun dari Bang Tere. Hahaha
Apapun isu yang berkembang saat ini tentang Bang Tere, saya menghormati apapun keputusannya tentang tidak akan menerbitkan buku fisik lagi berkaitan dengan Pajak Profesi Penulis.
Mungkin beliau sedang putar otak tentang bagaimana caranya menyebarluaskan karyanya agar tetap bisa dinikmati khalayak ramai di ranah digital? Who knows?

Asma Nadia dengan film-film hits nya
Sinetron Catatan Hati Seorang Istri pernah merajai rating pertelevisian Nasional mengalahkan sinetron Ganteng-ganteng Serigala selama berbulan-bulan. Itu tak lain tak bukan adalah karya dari Asma Nadia. Selain itu, novelnya yang sudah difilmkan adalah Love Sparks in Korea, Assalamualaikum Beijing, dan Hijab Traveler.

Asma Nadia mewakili kaumnya (penulis, red) yang telah menikmati kesuksesan di dunia film dan sinetron. Dan beliau ini adalah adik dari Penulis Helvy Tiana Rosa (Ibunya wow bgt yaaa, anaknya 2-2nya jadi penulis buku semua).
Kakaknya, Helvy Tiana Rosa, berprofesi sebagai Guru Besar fakultas ilmu budaya UI dan masih aktif berkarya baik itu novel maupun puisi. Novel yang difilmkan bulan lalu adalah Duka Sedalam Cinta, rilis 19 Oktober 2017.

Ahmad Fuadi, Novelis 'pelangi'?
Mondok di Pondok Modern Gontor namun bercita-cita menjadi insinyur seperti BJ Habibie, serta ingin berkuliah di ITB... Itulah sekilas cita-cita Fuadi yang dituliskan di Negeri Lima Menara.
Cita-cita anak pondok yang luhur biasanya kuliah di Al-Azhar Cairo, atau Ummul Quro Mekkah, syukur-syukur jika bisa melanjutkan di Universitas Islam Madinah. Lah ini? ITB? Emang bisa??

Fuadi membalikkan nasib dengan belajar di Ilmu Hubungan Internasional UNPAD, karena ITB tidak welcome. Itulah titik balik yang membawanya ke Canada, dan... Baca sendiri ya di Ranah 3 Warna.. hehehe
Seorang Reporter yang giat belajar, kemudian beralih profesi menjadi Novelis, dan hobinya melancong keliling dunia.

Terimakasih suamiku buat Novel Anak Rantau-nya Ahmad Fuadi. Maaf karena punya hobi yang 'mahal'. Yaaaa... Aku mengalami perubahan drastis dari harga novel yang masih 30ribuan menjadi 90ribuan... 😭😭😭😭😭
In sya'a Allah membaca membuat kita 'kaya'. Aku yakin itu.. *pinter ngeles 😇😂

Kamis, 16 Juni 2016

Review; The Rossetti Letter

"Aku tidak mengerti kenapa."
"Kenapa apa?"
"Kenapa para laki-laki menyukaimu."
"Apa maksudmu?"
"Para laki-laki menyukaimu. Mereka memandangmu, mereka tersenyum padamu, mereka menggodamu."
Kecuali Giancarlo, Claire tidak melihat ada yang menggodanya, dan memang begitu.
Gwen menghitung dengan jarinya. "Laki-laki di perahu, di hotel, dan yang ini, John apa. Aku tidak mengerti. Kau bukan tipe penggoda yang nakal atau semacamnya."
"Terima kasih banyak."
"Aku bukan bermaksud itu dalam arti jelek."
"Apakah ada arti bagus?"
"Maksudku, kau cantik, tetapi bukan cantik yang mencolok."
"Mungkin laki-laki memang suka yang tidak mencolok. Pendekatan yang halus bisa efektif juga."
"Masalahnya kau tidak pakai make up, dan kelihatannya semua yang kau pakai berasal dari LL. Bean. Membosankan."
Claire menahan diri untuk memberitahu Gwen bahwa hampir semua pakaian yang dimilikinya berasal dari katalog L.L. Bean. Katalog obral.
"Jadi, apa semua laki-laki menyukaimu?" tanya Gwen.
Claire teringat Michael. "Tidak."

Awalnya kukira novel tentang sejarah akan sangat membosankan. Tapi di tangan yang handal, sejarah bisa jadi plot yang menyenangkan. Apalagi diselipi kejadian masa kini; Jadi di dalam novel ini akan menceritakan kehidupan Alessandra Rossetti di tahun 1618 awal dan masa kini yaitu penelitian Claire Donovan tentang Konspirasi Spanyol 1618-Surat Alessandra Rosseti. Judul disertasinya akan dibahas oleh Andrea Kent, Seorang profesor Cambridge tersohor di Konferensi Sejarawan universitas Venesia. Jika Claire tidak pergi ke Venesia, maka tamat sudah disertasi yang telah dikerjakannya selama bertahun-tahun.

Kutipan percakapan antara Claire (Kandidat phd Columbia University, 32) dan Gwen (Siswa Forsythe high school, 14 tahun) dari Novel the Rossetti letter halaman 147. Dua perempuan ini awalnya melakukan perjalanan ke Venesia dengan saling terpaksa; Claire membutuhkan suntikan dana dari Ayah Gwen untuk mengikuti konferensi Sejarawan di Venesia untuk menyelamatkan disertasinya. Sedangkan Gwen butuh pendamping selama 2 minggu di Venesia. Namun setibanya di Venesia, ke kebetulan-kebetulan yang mengejutkan menyambut mereka.

Buku : Novel
Judul : The Rossetti Letter
Penulis: Christi Phillips
Jumlah halaman : 523 halaman
Genre : Sejarah, Traveling, Romansa

Wait my another review next chapter :)

Senin, 04 April 2016

A Guest House


“This human being is a guest house.
Every morning a new arrival.
A joy, a depression, a meanness,
some momentory awareness comes as unexpected visitor.

Welcome and entertain them all
Even if they’re a crowd of sorrows,
who violently sweep your house empty of its furniture,

Still, treat each guest honorably.
He may be clearing you out for some new delight. (!)

The dark thought, the shame, the mal-ice,
Meet them at the door laughing and invite them in.”


Sebuah penggalan puisi Rumi di depan pintu rumah seorang perempuan di Ghent, Belgia. A spiritualist. 

Senin, 01 Februari 2016

Muhammad: masa bungkam

Nun. 
Demi pena, dan apa yang mereka tulis. 
Berkat nikmat Tuhanmu, kamu sekali-kali bukan orang gila. 
Dan, sesungguhnya bagi kamu pahala yang besar yang yang tidak putus-putusnya.
Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung (Q. 68: 1-4)

Masa bungkam pada masa-masa turunnya wahyu—pesan-pesan pertama setelah turunnya surat di atas. Selama masa bungkam tersebut tidak ada wahyu baru yang turun pada Nabi (Muhammad). Beliau pun khawatir kalau dirinya telah menyebabkan ketidak senangan Tuhan. Meskipun demikian, Khadijah senantiasa meyakinkannya bahwa itu tidak mungkin. Kemudian, masa bungkam itu berakhir. Datanglah kepastian yang memuat perintah pertama berkaitan langsung dengan misinya:
Demi terangnya waktu pagi. 
Demi malam tatkala sunyi. 
Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu. 
Sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. 
Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? 
Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. 
Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.
Maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim. 
Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. 
Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka siarkanlah (Q. 93: 1-11)

Ngaji pagi buku Muhammad yang ditulis Marthin Lings (Abu Bakr Siraj al Din) hal 81-82

Minggu, 31 Januari 2016

Book Review: Totto-chan



Totto-chan. Sebuah nama yang telah kukenal sejak kanak-kanak dari buku favoritku, tapi beberapa tahun yang lalu mulai kubaca ulang karena pasti beda kan kacamata anak-anak dan dewasa? Bahkan setelah dibaca ulang pun Aku tetap senyum-senyum sendiri—yang artinya seperti: Ya ampun! Walopun ini buku udah tuir (tua) tapi nggak mengurangi kelucuan dari ceritanya, karena memang pemeran utamanya anak-anak SD dengan segala kekonyolan dan kenakalannya. 

Totto-chan adalah nama panggilan dari Tetsuko Kuroyanagi sewaktu kecil. Dia pernah dikeluarkan dari SD karena alasan yang aneh: terlalu berisik di kelas. Lalu Totto bersekolah di Tomoe Gakuen yang kepala sekolahnya sangat memahami karakter Totto-chan sejak hari pertama mereka bertemu. Tetsuko Kuroyanagi bahkan di epilog menulis begini; bagaimana jadinya jika Ia bukan putri Ibunya? Dia akan menganggap dirinya anak nakal seumur hidup—yang bahkan pernah dikeluarkan sejak sekolah pertamanya-SD (Ibunya menyembunyikan fakta bahwa totto-chan pernah dikeluarkan saat kelas 1 SD sampai ia berulang tahun ke-20).


Kutipan dari catatan akhir Tetsuko di halaman terakhir buku;

Dalam kasusku sendiri, sulit bagiku untuk mengukur betapa aku sangat tertolong oleh cara Mr. Kobayasi (Kepala Sekolah di SD Tomoe Gakuen) mengatakan padaku berulang-ulang, "Kau anak yang benar-benar baik, kau tahu itu, kan?" Seandainya aku tidak bersekolah di Tomoe dan tidak pernah bertemu Mr. Kobayasi, mungkin aku akan dicap "anak nakal", tumbuh tanpa rasa percaya diri dan bingung.

Menulis tentang Tomoe dan Mr. Sosaku Kobayasi, orang yang mendirikan dan mengelolanya, adalah satu hal yang sudah lama ingin aku lakukan. Aku tidak mengarang-ngarang satu bagian pun. Semua hal itu benar-benar terjadi, dan untunglah, aku bisa mengingat-ingat cukup banyak. Kecuali aku ingin menuliskannya, aku ingin sekali menuntaskan janji yang tidak kutepati pada Mr. Kobayasi untuk menjadi guru di Tomoe.

Mr. Kobayasi meninggal di tahun 1963. Seaindainya Ia masih hidup sekarang, pasti akan lebih banyak yang ia ceritakan padaku. Bahkan ketika menulis ini, aku sadar betapa banyak episode yang dulu seperti kenangan indah masa kanak-kanak bagiku, ternyata merupakan kegiatan yang dengan cermat dirancang dan dipikirkannya masa-masak olehnya agar bisa memperoleh hasil-hasil tertentu.

Buku tentang pendidikan masa Sekolah Dasar di Jepang yang dapat membentuk kepribadian anak-anak menjadi cemerlang dan khas—yang hingga kini dijadikan rujukan sebagai patokan pendidikan dasar di Jepang.


Sabtu, 09 Januari 2016

Review: Menantu Untuk Ibu


"Kenapa to nduk harus kuliah lagi, toh sudah sarjana…” Ibu Suci tak kuasa melepas putri kesayangannya itu pergi ketika Suci meminta izinnya untuk menempuh studi jenjang S2 nya di Nanyang Technological University, Singapura. Tetapi Dia dan kakaknya berhasil meyakinkan Ibunya kalau Suci akan menyelesaikan studinya setelah berulang tahun ke 26, belum terlalu terlambat untuk menikah. Lalu berangkatlah Suci dengan sejuta mimpi ke Negeri Singa.

Selasa, 05 Januari 2016

Words from Passport to Happines


Untuk siapa aku menulis puisi? Untuk siapanya tidak penting. Yang penting adalah bagaimana puisi bisa menjadi media untuk melebarkan perasaanku hingga menyentuh sudut-sudut yang tidak pernah aku sadari ada di dalam hati, termasuk sudut-sudut gelap yang hanya berisi bayangan. Mereka sudah merindukanku. (Hal. 30)

Recommended Movie: Bulan Terbelah di Langit Amerika


29 Oktober lalu aku berkesempatan bertemu dengan sepasang suami istri yang dua-duanya penulis. Mereka menulis novel best-seller bersama.. siapa hayoo yang belom nonton 99 cahaya di Langit Eropa dan Bulan Terbelah di Langit Amerika? Nah suami istri ini pengarang novelnya… Hanum Salsabila Rais & Rangga Almahendra. 

Senin, 04 Januari 2016

Learn from the Owner of Nulisbuku.com

Let's learn how to generate our ideas from kak Ollie, the writer of most recent book I reviewed 'Passport to Happiness'

Spend morning in a bookshop or cafe

Keep a notebook to compile ideas--or in my case; a cup of coffee and a notebook
Read ALL kinds of books; yes I still read more than 2 books a day--I still try my best to do it
Break your routines, try to ignite stories--definitely!
“Steal” conversations from people--OMG kak Ollie, I love to do that too, although sometimes look like 'Nguping' hehe. is it still polite?

Jumat, 01 Januari 2016

Kutipan Cantik

Orang-orang yang ingin pergi bisa pergi, dan orang-orang yang ingin tinggal akan tinggal.

Dunia gue tetap seimbang setelah dia pergi. Hanya goncangan kecil yang nggak berarti.
 
When you have lived as long as I have, the div replied, you find that cruelty and benevolence are but shades of the same color. (And The Montains Echoed by Khaled Hosseini)


‘You can say what you wanna say, but he just tell me that he love me’

Pretty words for the whole year, hopefully!

Diary Coklat Ummi

Diary itu berwarna coklat usang. Karena termakan usia, terlihat usang dan warna coklatnya sedikit memudar. Aku menemukannya di usiaku yang ke lima belas, di suatu rak pojok rumah. Diary Coklat Ummi. Diary itu adalah salah satu sumber sejarah yang menceritakan masa kanakku yang indah.

Kamis, 31 Desember 2015

Kisah Tania dan Danar

Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin. Dia membiarkan  dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya…”
Ungkapan di atas adalah salah satu kutipan dari novel favoritku, karangan Tere-Liye. Dalam beberapa hal terdapat beberapa kesamaan cerita antara aku dan tokoh utama, Tania. Tapi yang jelas, Aku tidak secantik dan sepintar Tania. :D

Minggu, 20 Desember 2015

Budaya Membaca ala Pesantren

Aku bersyukur terlahir di lingkungan yang mencintai buku. Entah seberapa dalam kecintaannya pada buku, tapi abahku sukaa sekali memborong buku. Walaupun seringkali buku-buku itu tidak dibaca sampai selesai. Abah banyak membeli buku-buku motivasi, buku pendidikan, buku agama, novel dalam negeri, bahkan novel luar negeri alias terjemahan yang menghiasi sebagian besar rak di rumah. Manfaat dari buku-buku itu tentu saja sangat banyak—terutama untukku.


Aku tak ingat apa buku pertama yang selesai kubaca sampai halaman terakhir, tapi buku lumayan tebal paling berkesan yang kubaca dan kunikmati sampai halaman terakhir adalah buku karangan penulis Jepang, Tetsuko Kuroyanagi; Totto Chan, Gadis Cilik di Jendela. Saat itu usiaku masih delapan tahun. Sampai sekarang, sudah tiga kali aku membaca ulang novel itu. Dan masih saja senyum-senyum sendiri saat membacanya.

Hingga saatnya aku pergi jauh dari rumah untuk masuk ke salah satu pesantren putri di Ponorogo, Jawa Timur, kesukaanku membaca semakin menjadi-jadi. Apalagi dengan jumlah buku yang beragam dan berlipatganda melimpahnya! Karena sudah menjamur budaya pinjam-meminjam dan antri membaca buku dalam lingkungan pesantren itu. Dari ratusan orang yang tinggal di pesantren, jika setiap orang misalnya membawa 2-3 buku, bayangkan, berapa jumlah buku yang bisa kalian baca selama setahun?

Di pesantrenku hanya boleh bicara menggunakan bahasa Arab dan Inggris, bergilir bergantian tiap minggunya. Saat itu, kata yang kupelajari untuk mengantri meminjam buku adalah “Ba’daki!” dalam bahasa Arab dan “After you!” dalam bahasa anggris, yang berarti, "habis kamu ya!". Jika ada seeorang yang terlihat sedang membaca buku baru di kamar yang berisi 10-15 orang (Yaa, dulu aku punya kamar se-rame itu!) bisa dipastikan, akan ada sahut-menyahut panjang dan perdebatan “after you” tentang giliran membaca buku terbaru itu. Benar-benar saat-saat yang mengasyikkan dan ngangeni.

Tahun pertama, buku yang menjamur masa itu adalah novel-novel milik Asma Nadia; Aisyah Putri 1, 2, dan 3. Lalu Diorama Sepasang Al-Banna dan Dilatasi Memori milik Ari Nur, Kumpulan cerpen Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa. Dan... Tere Liye! OMG, ternyata aku sudah mengenal tere liye bahkan sejak SMP!

Saat naik kelas, ketika aku mulai berani berinteraksi dengan kakak angkatan, seleraku merambah buku-buku terjemahan luar negeri milik Torey Hayden seperti Sheila; Luka Hati Seorang Gadis Kecil dan Kevin; sebuah Memoar dan The Devi wears Prada. Lewati beberapa masa sibuk kelas 4-5, saat itu adalah tahun tersibuk di pesantren, karena tahun SKU, SAKA Bhakti Husada, menjadi pengurus, hingga KMD. Otomatis buku-buku yang bisa dibaca berkurang di waktu super sibuk itu. Ah, ya, tetap saja kami tidak ketinggalan membaca Serial terakhir  Harry Potter and the deathly hallows, novel berbahasa Inggris yang dibawa langsung dari Amerika oleh guru Native kami, Miss Natalie Binder. Tahun itu novel karya Dan Brown juga sedang menjamur di indonesia, dan berkat meminjam aku bisa membaca dua di antaranya yaitu The Da vinci Code dan Angels and Demons.

Saking banyaknya pilihan buku dan panjangnya antrian membaca, otomatis kecepatan membacaku meningkat karena dikejar-kejar waktu.  Betapa saat itu adalah masa emas dalam dunia membacaku. Terima kasih, teman-teman dan para kakak dan adik kelas yang telah membawa buku-buku keren saat itu ke pesantren!

Sore tadi aku mendapat oleh-oleh sebuah novel berjudul Menantu Untuk Ibu karangan Faradhina Izdhihary yang sudah setengah-selesai. Mungkin malam ini tamat. 
Lalu, buku apa yang sedang kamu baca saat ini?