Rabu, 13 Agustus 2025
Sabtu, 10 April 2021
Suami: Teman Hidup "Setara" untuk Istri
Waktu remaja, aku tak pernah membayangkan jika ikatan cinta bernama pernikahan itu butuh restu semesta. Gak bisa dipaksakan (misal dipaksakan, pasti endingnya gak enak). Aku hobi memaksakan kehendak, yang akhirnya sering menyakiti diriku sendiri (wkwkwk sukurin!).
Beruntungnya aku di pertengahan usia 20-an ku, tepatnya di usia 24 tahun 6 bulan empat tahun lalu, aku dipertemukan jodohku. Finally!!
Saat itu proses move on-ku dari kisah percintaanku yang selalu kusut hampir selesai. Lelaki bermata tajam itu terlihat kikuk di kursinya. Tapi setelah aku tiba-tiba bertanya tentang hal-hal out of the box tentang cerita masa lalu di pesantren dulu, di luar dugaanku dia mulai bercerita panjang lebar, yaang membuat proses perkenalan kami semakin "mulus", seperti masuk jalan tol. Prosesnya yang cepat, lancar dan membahagiakan membuat kami tak merasakan galau pra-nikah. Agak sembrono memang. Tapi, namanya Johan, ya. Ga ada yang tahu. (Johan: Jodoh dari tuHan)
Sejak awal menikah, aku selalu menekankan betapa pentingnya komunikasi yang pro aktif di antara kita. Paling anti kode-kode-an. Selama bisa diomongin, ya ngomonglah yang baik. Apalagi keluarga besar yang tinggal berdekatan, membuat kita berdua harus lebih piawai dalam menjaga hati banyak orang.
Teman Hidup, Setara, tak selalu se-Iya, tapi se-Rasa
Experience is the best teacher. It works for me. Finding a great husband is like building your dream home. You work on it.
3 tahun dan dua anak: kerja keras dan kerja ikhlas. Makasih ya, sayang, udah jadi suami dan ayah yang baik. I knew you'll make a good husband and father. Meskipun aral melintang, tetep gandeng mesra tanganku, yo, ojo ragu-ragu. Mantep terus pokoke persis kayak waktu kamu lantang meminangku dulu.
Maaf kalo aku sering ngajak debat. Aku cuma mau nemuin your true colour. Kalo ga pake debat, ga keliatan aslinya. Biar kemampuanmu berargumentasi juga meningkat tajam. Ternyata sukses, to. HIHIHI.
Terimakasih untuk selalu menjadikanku teman setara untuk berdiskusi, bertengkar, merajuk, momong anak, dan dalam banyak hal yang akan kita hadapi di masa depan nanti. Aku tahu di luar sana masih banyak suami yang menyepelekan istrinya sendiri, tanpa tahu manfaat memuliakan istrinya dengan menjadikannya teman SETARA.
Tetep jadi versi terbaik dirimu, ya, My partner in life. XOXO
Sabtu, 01 Desember 2018
Inisiasi Menyusui Dini
Sebenernya aku udah banyak baca tentang IMD, aslinya IMD dilakukan langsung begitu tali pusar dipotong. Tapi berhubung baby K harus langsung diobservasi karena belum nangis begitu keluar, demi kebaikan bersama, kita menyerahkan baby K kepada tenaga kesehatan yang lebih ahli untuk merawatnya dulu.
Beberapa saat setelah diobservasi dan dibersihkan, baby K dibawa oleh kedua neneknya ke pangkuanku dengan suara tangis yang melengking. Maa syaa ALLAH, begitu besar kuasamu.. Rasanya mau nangis aja kalo inget momen magis itu.
Baby K udah dipakaikan baju baru berwarna ungu pilihanku, dan mulai diletakkan di atas dadaku. Seperti sudah fitrahnya, dia mengemut jari jempolnya dan meraba-raba mencari sumber makanan yang mirip dengan jempolnya (pinter banget kamu nakk) dan ketemulah si putingku yang kanan.. mulai merangkak pelan menuju puting sebelah kanan yang sayangnya mblingsep (rata/datar). setelah mencoba dengan desperate, karena puting datar, pecahlah tangis baby K yang melengking itu.. maaf ya nak, puting umi yang kanan datar hiks..
akhirnya karena gak tega, aku mulai ganti posisi duduk dan menyusuinya dengan puting yang kiri. entahlah, sepertinya IMD ku gagal.. hahaha
Tapi setelah banyak menggali ilmu per-ASI an.. aku mengetahui bahwa dengan terus menyusukan bayi, pada akhirnya puting datar itu akan menonjol oleh hisapan bayi and it's true.. sepertinya beberapa hari dari rumah sakit, aku mulai bisa leluasa menyusui dengan kedua payudaraku.. Alhamdulillah 😍
btw ASI ku baru keluar agak deras di malam ketiga setelah melahirkan dengan normal, jadi jangan khawatir ya buibu kalo ASInya awal-awal pasca melahirkan masih seret.. tetep susuin terus bayinya dan kelola stress dengan baik, agar tetap menyusui dengan bahagia.
Perjalanan menyusuiku masih panjang, dan masih perlu banyak ilmu yang harus dipelajari. Mari semangat mengASIhi buibu! semoga kita lulus menyusui bayi-bayi kita sampek 2 tahun sesuai perintah Al-qur'an ya! AAMIIN
Sabtu, 24 November 2018
Menggenggam tangan kecilmu untuk pertama kalinya, cerita persalinanku part 3
Ya Allah… dengan segala kerendahan hati, hanya Engkau yang bisa memudahkan proses ini. Bantu hamba melahirkan anakku dengan selamat…Pukul 22.00 – Setelah pemeriksaan VT berkali-kali Umi dan ibu mertua masuk ke ruang bersalin. Suasana agak suram. Di ranjang sebelah, seorang ibu mengalami kejang dan muntah pasca persalinan sejak pukul 19.00 tadi. Para bidan dan perawat sibuk memantau detak jantungnya. Keringatku bercucuran. Tut… tut… bunyi monitor di sebelah terus terdengar, memecah konsentrasiku. Ya Allah… rasanya mau mati saja. Bukaan masih dua… 😭😭 “Masih kuat, Ca?” tanya Umi. “Aku yakin Ica kuat,” ibu mertua ikut menyemangati. Aku hanya mengangguk kecil. Kontraksi datang lagi, semakin kuat. Tarik napas dalam-dalam, hembuskan sambil beristighfar. Sakitnya semakin menjadi. Syorrr… air ketubanku keluar lagi, bercampur darah. “Yang… lihat mataku. Aku yakin kamu kuat, kamu bisa,” bisik suamiku sambil menggenggam erat tanganku. Aku menatap matanya. Sorotnya tajam, penuh keyakinan. Bismillah… aku kuat. Sebentar lagi aku akan memeluk anakku. “Makan kurma lagi, yuk?” tawarnya. Pukul 23.00 – Dokter obgyn datang “Pak, ada dua pasien. Yang ini preeklamsia pasca partus normal. Yang sebelah KPD dari magrib, masih bukaan dua,” jelas bidan pada dokter. Setelah memeriksa ibu di sebelah, giliranku. Ternyata dokternya, dr. Joyo, teman kerja tantenku di RS lain. “Masih kuat, Mbak? Ayo USG dulu.” Aku tersenyum lemah. Detak jantung janin normal, ketuban masih bagus. “Ayo sekarang VT, ya.” “Mbak bidan, ini bukaan dua opo? Iki wes meh babaran! Udah bukaan delapan!”
ALHAMDULILLAH… ALLAHU AKBAR!Suamiku tersenyum lebar, aku pun lega. Sementara di luar ruang bersalin “Gimana, Mas Ad?” tanya Umi. “Alhamdulillah, udah bukaan delapan, Mi. Sebentar lagi lahir.” Entah karena pemeriksaan awal yang keliru atau kekuatan doa yang membuat bukaan dua menjadi bukaan delapan dalam sekejap. “Mbak besan, saya mau qiyamul lail dulu ya, semoga lancar,” kata ibu mertua sambil menuju mushola. Menjelang mengejan Badanku menggigil. Kakiku gemetar. Gamis dan kerudungku basah kuyup oleh ketuban dan darah. “Bu… badan saya menggigil,” ucapku. “Wajar, Mbak. Bajunya basah semua. Mau ganti repot, sudah waktunya. Saya kasih obat dulu, ya,” jawab bidan sambil memasukkan obat berbentuk bulat ke anus. Alhamdulillah, darahnya bukan dari vagina. Nyeri berkurang. Setengah jam kemudian, dorongan kuat datang. Sudah waktunya mengejan! “Bu bidan! Kayaknya udah mau ngeden!” seru suamiku. Bidan-bidan bergegas masuk, memakai masker. “Ayo, Mbak. Tarik napas panjang…” Aku mengejan otomatis—sekali nafas, plonggg! Bayi lahir pukul 23.55 WIB, lima menit sebelum tanggal 13. Tidak sempat mendengar tangisnya. Tali pusar dipotong, ia langsung dibawa observasi. Setelahnya… Suami menatapku dengan sorot bangga.
“Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah kuat.” Tiga puluh menit kemudian, bayi dibawa masuk bersama dua neneknya. “Selamat ya, sudah jadi ibu,” ujar Umi sambil menggenggam tanganku. “Selamat ya, Nok. Kamu kuat banget!” kata ibu mertua.Wajahnya… matanya jelas dari abinya. Hidung mancungnya juga. Lalu, dari aku dapat apa? 😂 Tangisnya keras membahana. “Yang, kakak tadi lilit tiga di leher. Waktu keluar agak biru.” Aku terkejut. Di USG tidak terlihat. Ya Allah… rasanya ingin sujud syukur. Alhamdulillah, bayi ini berjuang seperti ibunya. Untuk pertama kalinya, aku menggenggam tangan mungilnya. Untuk pertama kalinya, aku memeluknya. Rabbii hablii minash shaalihiin…
Kamis, 22 November 2018
Cerita Persalinanku di bulan Agustus: bukaan momen
Rabu, 21 November 2018
Cerita Persalinanku di momen agustusan
“Gak usah khawatir, Nok. Dokter kadang suka sok tahu. Nggak apa-apa kecil di dalam, yang penting nanti besarnya di luar. Yang penting nggak BBLR (Berat Badan Lahir Rendah).”Ah, langsung berkurang satu beban di hati. Love you, mom ❤️ Sore itu aku bersikeras mengantar suami ke stasiun, walaupun bumer melarang. Aku hanya ingin dapat ketenangan batin di perjalanan, biar masih bisa menggandeng tangannya. Kami berangkat naik grab. Aneh, sesampainya di stasiun aku cuma dadah-dadah, tanpa air mata seperti semalam. Pulang dari stasiun pun sempat mampir ke toko buku di pasar Weleri. Hari-hari berlalu cepat. Setiap punya waktu sendiri, aku selalu mengajak ngobrol si kakak di perut. “Kak, sabar dulu ya di perut umi. Keluarnya tunggu abi selesai urusan di Jakarta. Oke?” Begitu terus setiap ingat. Video call dengan suami pun selalu punya topik yang sama: “Udah mules belum?” Dan jawabanku selalu: “Belum.” Sebulan berlalu. Tanggal 11 Agustus pagi, akhirnya “my favorite doula” alias suamiku kembali. Alhamdulillah, masih sempat dielus-elus perut buncit ini. “Gimana yang? Udah ada tanda-tanda belum hari ini?” Aku menggeleng, lalu sambil tersenyum nakal menunjukkan artikel tentang induksi alami. “Ayo coba yang ini,” godaku. Jam 10 pagi bidan menelpon, memastikan kabarku. Saat tahu aku sudah lewat HPL 3 hari, ia memberi rujukan USG. Tapi karena hari Sabtu, rujukan itu baru bisa dipakai Senin. Semoga saja sudah lahir sebelum itu, aamiin. Aku mengeluh ke umi, “Kok nggak lahir-lahir, ya…” sambil minta maaf atas semua kesalahanku.
“Umi sudah maafin bahkan sebelum kamu minta maaf. Sekarang ajak omong lagi. Abi sudah pulang, sekarang boleh keluar… eeh jangan dulu deng! Umi masih ngurus jalan sehat kampung. Besok ikut jalan sehat dulu, biar dapat doorprize,” jawab umi sambil ketawa.Fix, ini jawaban paling random dari seorang ibu 😂. Ahad, 12 Agustus 2018 pagi Rumah kami jadi pos transit hadiah doorprize jalan sehat. Hadiah-hadiah dari tetangga memenuhi ruang tamu. Walaupun sudah +4 hari dari HPL, aku tetap ikut jalan sehat. Setiap bertemu tetangga, pertanyaannya sama: “Mbak, masih kuat?” Aku cuma tersenyum sambil digandeng suami. Di tengah jalan kami mampir ke Indomaret untuk makan es krim 😂. Alhamdulillah, aku berhasil sampai garis finish. Begitu sampai, langsung dapat nasi bungkus dan air mineral. Tidak lama, nomor undian suami dipanggil, dapat hadiah buku. Dan ternyata… nomor undianku keluar untuk hadiah utama: kompor gas! Fix, si kakak ini cewek banget—belum lahir aja sudah mikir perabot dapur 😆. Habis jalan sehat, kami semua tepar. Jam 10 pagi, aku terbangun karena notifikasi WA dari bumer. “Nok, minta maaf ke umi. Siapa tahu mempermudah jalan lahirnya.” Tidak lama kemudian, aku merasa ada sensasi aneh di bawah perut. Seperti mules ringan. Refleks aku raba… dan ternyata ada lendir darah! “Yang, kayaknya mau lahiran!” teriakku sambil lari ke kamar orang tua. Serumah langsung heboh. Gimana kelanjutannya? Tunggu di Part II ya. (FYI: Saat nulis ini, si bayi sudah lahir sehat dan sekarang usianya 3 bulan 1 minggu 😍)
Minggu, 05 Agustus 2018
Euforia Bulan ini❤
Jika ada rasa sakit yang membahagiakan, itu adalah proses persalinan untuk menyambutmu, nak...
9 bulan sudah kau berada di rahimku. Masih 4 hari lagi menjelang HPL (Hari Perkiraan Lahir), tapi euforia menyambutmu begitu membuncah... 😘😘
In syaa Allah kami masih sabar menunggumu. Kapanpun kamu ingin keluar: umi, abi, nenek, kakek, dan om-ommu siap.
Ayo nak, kita berjuang bareng!
Hormon bahagia
Awal kehamilan, di trimester pertama, aku sama sekali tidak mengalami mual muntah seperti kebanyakan bumil lainnya. Jika ibu mertua tidak menemani USG ke obsgyn untuk pertama kalinya, aku juga masih gak yakin kalo lagi hamil😂😂😂😂
Melihatmu untuk pertama kalinya di layar USG... Bahagia tiada tara 😍 walopun terselip rasa takut di lubuk hati yang paling dalam: Apakah aku bisa menjadi madrasah utama yang baik bagimu? Bismillah, menjadi orang tua adalah menjadi orang yang harus berusaha berfikir positif.. agar selalu berjuang untuk anak-anaknya.😘
Edisi baper karena di usia kehamilan 36 week harus ditinggal suami ke Jakarta selama sebulan..
Kak, keluarnya nunggu Abi pulang mawon, nggih?
Karena doula terbaik adalah suami 😍
Kendal, 4 Agustus 2018
#tulisan menjelang persalinan
Selasa, 10 Juli 2018
Diorama Sepasang Al-Banna
Rani memandangi parasnya di cermin meja rias sambil menyisir rambutnya dengan pelan. Wajahku amat sederhana... Untuk seorang suami seperti Rayyan Fikri...
Tak sengaja pandangan matanya bertemu mata Ryan, suaminya di dalam cermin.
Deg! Hatinya seketika berdesir. Malu.
"Kau sedang memikirkan apa, sayang?" Tanya Ryan.
*Cuplikan novel
Kau tahu, sayang? Aku sangat bersyukur tidak melewatkan membaca satu novel ini: Diorama Sepasang Al-Banna nya Ari Nur. Salah satu novel yang sarat informasi tentang kehidupan berumah tangga, bagi yang ingin memelihara rumah tangganya sakinah mawadah warahmah. Walopun sebenarnya aku membacanya terlalu dini (saat masih kelas 2 SMP), yang menyebabkan virus ingin nikah muda wkwkwk.
Novel yang baik menurutku, karena menggambarkan bahwa tak ada yang namanya pernikahan yang sempurna. Tetapi semua anggota keluargalah yang berperan menyempurnakan pernikahan itu..
Tentang perkenalan singkat Rani dan Ryan, yang berujung pada taaruf dan menikah which is sama dengan yang kita alami..
Masih terekam dengan jelas, bulan puasa tahun lalu, saat ibumu meneleponku dengan tiba-tiba setelah malam perkenalan...
"Nok, mom serius lho pengen Ica jadi mantu mom," simple and to the point. Sebenarnya karena ini jugalah aku memantapkan hati untuk mulai "mengenalmu".
Ta'aruf, perkenalan secara kekeluargaan yang prosesnya hanya 3 bulan. Terhitung singkat, bukan?
Terimakasih, untuk menjadi teman diskusi yang mengasyikkan sehingga kita tak perlu rempong mengalami miskomunikasi seperti yang dialami Rani dan Ryan dalam novel. 😄
Maafkan aku jika masih berbenah diri sampai 9 bulan ini... Ya, kamu benar, apapun yang kita hadapi asalkan berdua denganmu terasa lebih menyenangkan..
#monthyversarry
Rabu, 13 September 2017
Terimakasih, cinta!
Terimakasih untuk terus menaburkan kebaikan dan cinta ke dalam hidupku.
Terimakasih telah menjadi cinta tiada berujung yang mengisi jiwa ini.
Terimakasih, cinta.
Tiada balasan apapun dariku kecuali untuk Engkau selalu mendapatkan kebaikan yang berlimpah dari Sang Maha Pemurah.
Rabu, 13 September 2017
Minggu, 10 September 2017
Tentang Malvin: anak bermata sendu
Sudah dua minggu terakhir Malvin, siswa baru kelas 1 At-tin SD Muhammadiyah, berangkat sekolah dengan berurai air mata. Kami yang menyambut di gerbang sekolah dengan berbagai ekspresi lucupun tak dihiraukannya. Ketika ditanya kenapa menangis, dia hanya menggeleng-gelengkan kepala tak mau menjawab. Tangisannya akan reda sama sekali setelah jam menunjukkan pukul 9, saat jam pertama usai.
Klimaksnya, pada minggu ketiga tangisan Malvin melengking lebih keras dari hari-hari sebelumnya dan otomatis membuat teman-teman sekelasnya terganggu. Kegiatan Belajar Mengajar pun terhenti seketika dan Malvin dikeluarkan dari kelas. Untuk pertama kalinya, aku menggandeng tangan mungilnya untuk menuju kantor bersamaku. Tangisnya makin menjadi, dengan sesenggukan yang lebih keras. "A aa ku... Huhuhuhu..."
"Ayo kita main sebentar di kantor?" Dia menatapku agak lama sebelum kemudian mengangguk.
Setibanya di kantor, aku mencari-cari benda apa yang bisa mengalihkan perhatiannya. Makanankah?
"Ada keripik pisang coklat, mau?" Dia hanya terdiam dan tak menanggapi. Oke, sabar.
"Hmm enaknya.. rugi kalo nanti kehabisan! Serius gak mau?" Pada gigitan keripik ketiga dia mulai tergiur mau dan makan masih dengan sesenggukan.
Aku menemukan tumpukan papan catur di rak paling atas.
"Yuk kita belajar main catur hari ini," aku membuka papan catur dan menjelaskan cara mainnya.
"Tau gak Malvin, kenapa kok pion jalannya cuma bisa satu langkah?"
Dia mulai tertarik. Menggeleng cepat.
"Karena pion adalah contoh bagi kita semua..." Aku terdiam sejenak, memikirkan kalimat apa selanjutnya,
"...bahwa dengan berjalan pelan pun kita juga akan sampai tujuan, walaupun membutuhkan waktu yang jauh lebih lama daripada yang berjalan cepat,"
"Malvin baru pertama kali main catur?"
"Iya," untuk pertama kalinya, dia bicara tanpa tangis sesenggukan.
"Besok ajak ayah main catur ya?"
"Iya ust. Kalo ini apa?" Mulai penasaran dengan banteng.
"Tadi Malvin kenapa nangis keras banget?"
"Ayahku tadi lupa gak pamit waktu mau berangkat kerja..." Matanya berkaca-kaca lagi.
"Besok, sebelum ayah berangkat kerja, Malvin ingetin ayahnya... Yah, ayah lupa belum pamit mau berangkat kerja! Gitu, ya?" Malvin mengangguk dengan pasti.
"Besok aku boleh main catur lagi, ust Ica?" tanyanya. Aku tersenyum.
"Boleh dong. Tapi waktu jam istirahat, ya!"
Sejak saat itu setiap aku berpapasan dengannya, Malvin selalu menyapaku dengan ceria, "Ust Icaaa!" Sambil dadadada...
Ajaibnya, dia udah gak mewek an lagi. Nah, gitu dong sayang. Kan tcakeep! 👻
Senin, 28 Agustus 2017
Mbah Mun
Mbah Mun, 72 tahun usianya bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia. Namun lincahnya ma sya'a Allah. Tiada lelah memberi... Itulah Mbah Mun. Salam sun sayang dari cucu kesayangan 💗😇
Rabu, 12 Juli 2017
Bus View: Scenery Lover
Aku suka sekali posisi duduk di dekat jendela. Entah itu di angkot, di bus, kereta atau pesawat. Jika pesawat, berusaha selalu check-in lebih awal agar dapat kursi strategis. Pun jika di bus, aku akan cepet-cepetan dapetin kursi samping jendela. Jika memang tidak terlalu lelah, aku akan lamaa sekali memandangi jalanan sampai tiba di tujuan. Mengamati jalanan adalah waktu yang paling tepat untuk muhasabah...
10 tahun lebih perjalanan kulewati dengan berbagai macam alat transportasi, bermacam-macam angle pemandangan yang telah kulihat... (Yang bagiku tidak akan pernah membosankan sebanyak apapun mengamati jalanan).
Kini aku sampai pada fase ini; membayangkannya yang sedang duduk di kursi bus dengan pemandangan danau dan gunung di kejauhan. Tentang rencana-rencana. Tentang masa depan. Tentang asa. Tentang kita.
Apakah detik ini kau juga sedang memikirkanku?
Hati-hati di jalan...
Sabtu, 13 Mei 2017
Begin Again
Tay has a great sense to mix a story into a song.
But on Wednesday in a cafe you watched it begin again...
He didn't like it when I wore high heels
But I do
Turn the lock and put my headphones on
He always said he didn't get this song
But I do, I do
But you got here early and you stand and wave
I walk to you
You pull my chair out and help me in
And you don't know how nice that is
But I do
I think it's strange that you think I'm funny 'cause he never did
I've been spending the last eight months
Thinking all love ever does is break and burn and end
But on a Wednesday in a cafe I watched it begin again
Who had as many James Taylor records as you
But I do
We tell stories and you don't know why
I'm coming off a little shy
But I do
I think it's strange that you think I'm funny 'cause he never did
Thinking all love ever does is break and burn and end
But on a Wednesday in a cafe I watched it begin again
But you start to talk about the movies that your family watches
Every single Christmas and I want to talk about that
And for the first time what's past is past
I think it's strange that you think I'm funny 'cause he never did
I've been spending the last eight months
But on a Wednesday in a cafe I watched it begin again
Selasa, 07 Februari 2017
Kid's fun: Belajar sambil bermain
Hai adik-adik semua.. jumpa lagi dengan rubrik serba-serbi. Kali ini kita akan sedikit mengupas kegiatan pembelajaran kid's fun di akhir bulan Januari kemarin. Tentunya adik-adik masih ingat semua kan?
Nah, Adik-adik, ada hal menarik yang ditangkap kamera sewaktu pelaksanaan kid's fun kemarin. Ini dia salah satunya.
Adik terkecil kita yaitu dik Rafa Firman kelas 1 Al-Kautsar sedang mengawal adik TK yang baru datang! Wah ini salah satu pemandangan indah yang bisa dilihat dari kid's fun. Betapa tanpa disuruh, Dik Rafa dengan gembira menyambut tamu kid's fun yang notabene adik-adik TK, dengan telaten menuntun langkah kecil adik-adik dari beberapa TK dan Taman Bermain Kanak-kanak sekitar sekolah.
Tentu bukan hanya dik Rafa saja yang berjasa selama Kid's fun, ada bapak dan ibu guru selaku panitia acara yang tiada lelahnya membimbing adik-adik dan seluruh siswa SD Muhammadiyah Purin yang selalu bersinar prestasinya, baik dari sikap dan pembelajaran sehari-hari.
Ternyata, sambil bermain dalam kid's fun, adik-adik juga belajar banyak hal: cara menghadapi adik-adik yang lebih muda, cara menyambut tamu dan menjadi 'tuan rumah yang baik, dan tentunya outbond beberapa permainan menarik. Oia hampir ketinggalan... Cara menyajikan es ijo untuk para tamu. (Siapa tahu nanti salah satu dari kalian ada yang bakal jadi juragan es ijo paling laris sedunia.. hehehe)
Oiaaa.. kita juga baru saja kedatangan tamu dari SMP Muhammadiyah Minggir 2 Sleman, Yogyakarta tanggal 27-28 Januari kemarin. Selengkapnya akan kita bahas di rubrik serba-serbi selanjutnya ya.
Tetep semangat dan bahagia ya adik-adik semua!
Seni bisa, ngaji luar biasa! Prestasi nggak ada hentinya!
Kamis, 19 Januari 2017
Abah
Abah, orang paling tenang yang pernah kukenal. Terimakasih untuk segala hal yang engkau berikan untukku.
I need to write a long post to describe your role in my life, bah. Then now I Will just upload a picture of us.
When I'm with you, my life shines.
Sabtu, 30 Juli 2016
Hidup adalah hadiah
Selasa, 07 Juni 2016
Adik Laki-laki ku
Aku yang masih belum ngeh dengan maksud line Nuha hanya nyeletuk jawab, "Maksudmu apaan nih? Samaan kalo kamu pernah terjerumus obat2an????"
"Nu, mbak Ica gak terima deh."
"Soal apa?"
"Katamu kita (aku abah umi) gak perhatian. Padahal tiap kamu chat mbak Ica, balesannya selalu real time. Terus juga panjang-panjang!"
"Maaf kakakku. Iya enggak deh,"
"Kan yang gak perhatian kamu. Sibuk pacaran seh"
Senin, 28 Maret 2016
The Power of Descendants of the Sun
Sabtu, 27 Februari 2016
Being Maximal!
Sabtu, 30 Januari 2016
The Windy Hill- Yong Pal

“I guess it here,”
“Guess what?”
“This is the Windy Hill. If the people who love each other kiss here… they will return here…” Suddenly.. *kiss scene*
He was surprised. But then he continued his words,
“…and if they come back and kiss here for second time, they will never be apart,”
I said, “let’s go back here. Tomorrow!”











