Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Agustus 2025

One Fine Day beneath the German Sky

Sudah hampir dua tahun aku bersahabat dengan kata-kata dalam Bahasa Jerman. Setiap suku kata yang kuucap terasa seperti batu kecil yang kutata, satu demi satu, membentuk jembatan menuju mimpiku. Di kepalaku, selalu ada satu gambar yang tak pernah pudar: aku, berjalan di jalan setapak pedesaan Jerman. Rumput bergoyang pelan ditiup angin musim semi, udara segar membawa aroma roti yang baru keluar dari oven sebuah rumah kecil di ujung desa. Dari kejauhan, lonceng gereja berdentang lembut, seperti menyapa pendatang baru. Di sisiku, anak-anakku melangkah riang, mata mereka berbinar menyambut hari sekolah. Kami bercakap-cakap dalam bahasa yang dulu asing, namun kini terasa seperti lagu yang sudah lama kukenal. Setiap hari, aku memungut satu kata baru, menyimpannya rapi di sudut hatiku. Kadang, ada kata yang sulit dijinakkan, tetapi aku tahu, pada waktunya semua akan bersatu, menjadi kunci yang membuka pintu kehidupanku di sana. Dan suatu hari nanti, ketika mimpiku berpijak di bumi Jerman, aku akan mengucap terima kasih pada diriku yang tak pernah berhenti belajar, meski jalannya panjang dan anginnya kadang kencang.

Sabtu, 10 April 2021

Suami: Teman Hidup "Setara" untuk Istri

 Waktu remaja, aku tak pernah membayangkan jika ikatan cinta bernama pernikahan itu butuh restu semesta. Gak bisa dipaksakan (misal dipaksakan, pasti endingnya gak enak). Aku hobi memaksakan kehendak, yang akhirnya sering menyakiti diriku sendiri (wkwkwk sukurin!).

Beruntungnya aku di pertengahan usia 20-an ku, tepatnya di usia 24 tahun 6 bulan empat tahun lalu, aku dipertemukan jodohku. Finally!! 



Saat itu proses move on-ku dari kisah percintaanku yang selalu kusut hampir selesai. Lelaki bermata tajam itu terlihat kikuk di kursinya. Tapi setelah aku tiba-tiba bertanya tentang hal-hal out of the box tentang cerita masa lalu di pesantren dulu, di luar dugaanku dia mulai bercerita panjang lebar, yaang membuat proses perkenalan kami semakin "mulus", seperti masuk jalan tol. Prosesnya yang cepat, lancar dan membahagiakan membuat kami tak merasakan galau pra-nikah. Agak sembrono memang. Tapi, namanya Johan, ya. Ga ada yang tahu. (Johan: Jodoh dari tuHan)

Sejak awal menikah, aku selalu menekankan betapa pentingnya komunikasi yang pro aktif di antara kita. Paling anti kode-kode-an. Selama bisa diomongin, ya ngomonglah yang baik. Apalagi keluarga besar yang tinggal berdekatan, membuat kita berdua harus lebih piawai dalam menjaga hati banyak orang.

Teman Hidup, Setara, tak selalu se-Iya, tapi se-Rasa

Experience is the best teacher. It works for me. Finding a great husband is like building your dream home. You work on it.

3 tahun dan  dua anak: kerja keras dan kerja ikhlas. Makasih ya, sayang, udah jadi suami dan ayah yang baik. I knew you'll make a good husband and father. Meskipun aral melintang, tetep gandeng mesra tanganku, yo, ojo ragu-ragu. Mantep terus pokoke persis kayak waktu kamu lantang meminangku dulu.

Maaf kalo aku sering ngajak debat. Aku cuma mau nemuin your true colour. Kalo ga pake debat, ga keliatan aslinya. Biar kemampuanmu berargumentasi juga meningkat tajam. Ternyata sukses, to. HIHIHI. 

Terimakasih untuk selalu menjadikanku teman setara untuk berdiskusi, bertengkar, merajuk, momong anak, dan dalam banyak hal yang akan kita hadapi di masa depan nanti. Aku tahu di luar sana masih banyak suami yang menyepelekan istrinya sendiri, tanpa tahu manfaat memuliakan istrinya dengan menjadikannya teman SETARA.

Tetep jadi versi terbaik dirimu, ya, My partner in life. XOXO

Sabtu, 01 Desember 2018

Inisiasi Menyusui Dini

Sebenernya aku udah banyak baca tentang IMD, aslinya IMD dilakukan langsung begitu tali pusar dipotong. Tapi berhubung baby K harus langsung diobservasi karena belum nangis begitu keluar, demi kebaikan bersama, kita menyerahkan baby K kepada tenaga kesehatan yang lebih ahli untuk merawatnya dulu.

Beberapa saat setelah diobservasi dan dibersihkan, baby K dibawa oleh kedua neneknya ke pangkuanku dengan suara tangis yang melengking. Maa syaa ALLAH, begitu besar kuasamu.. Rasanya mau nangis aja kalo inget momen magis itu.

Baby K udah dipakaikan baju baru berwarna ungu pilihanku, dan mulai diletakkan di atas dadaku. Seperti sudah fitrahnya, dia mengemut jari jempolnya dan meraba-raba mencari sumber makanan yang mirip dengan jempolnya (pinter banget kamu nakk) dan ketemulah si putingku yang kanan.. mulai merangkak pelan menuju puting sebelah kanan yang sayangnya mblingsep (rata/datar). setelah mencoba dengan desperate, karena puting datar, pecahlah tangis baby K yang melengking itu.. maaf ya nak, puting umi yang kanan datar hiks..
akhirnya karena gak tega, aku mulai ganti posisi duduk dan menyusuinya dengan puting yang kiri. entahlah, sepertinya IMD ku gagal.. hahaha

Tapi setelah banyak menggali ilmu per-ASI an.. aku mengetahui bahwa dengan terus menyusukan bayi, pada akhirnya puting datar itu akan menonjol oleh hisapan bayi and it's true.. sepertinya beberapa hari dari rumah sakit, aku mulai bisa leluasa menyusui dengan kedua payudaraku.. Alhamdulillah 😍

btw ASI ku baru keluar agak deras di malam ketiga setelah melahirkan dengan normal, jadi jangan khawatir ya buibu kalo ASInya awal-awal pasca melahirkan masih seret.. tetep susuin terus bayinya dan kelola stress dengan baik, agar tetap menyusui dengan bahagia.

Perjalanan menyusuiku masih panjang, dan masih perlu banyak ilmu yang harus dipelajari. Mari semangat mengASIhi buibu! semoga kita lulus menyusui bayi-bayi kita sampek 2 tahun sesuai perintah Al-qur'an ya! AAMIIN

Sabtu, 24 November 2018

Menggenggam tangan kecilmu untuk pertama kalinya, cerita persalinanku part 3

Sudah empat jam sejak masuk rumah sakit. Bagaimana kalau dokter dan bidannya tidak sabar, lalu memutuskan SC? Aku harus bagaimana… 😫 Apalagi sekarang aku sudah tidak boleh bergerak sama sekali. Bedrest total.
Ya Allah… dengan segala kerendahan hati, hanya Engkau yang bisa memudahkan proses ini. Bantu hamba melahirkan anakku dengan selamat…
Pukul 22.00 – Setelah pemeriksaan VT berkali-kali Umi dan ibu mertua masuk ke ruang bersalin. Suasana agak suram. Di ranjang sebelah, seorang ibu mengalami kejang dan muntah pasca persalinan sejak pukul 19.00 tadi. Para bidan dan perawat sibuk memantau detak jantungnya. Keringatku bercucuran. Tut… tut… bunyi monitor di sebelah terus terdengar, memecah konsentrasiku. Ya Allah… rasanya mau mati saja. Bukaan masih dua… 😭😭 “Masih kuat, Ca?” tanya Umi. “Aku yakin Ica kuat,” ibu mertua ikut menyemangati. Aku hanya mengangguk kecil. Kontraksi datang lagi, semakin kuat. Tarik napas dalam-dalam, hembuskan sambil beristighfar. Sakitnya semakin menjadi. Syorrr… air ketubanku keluar lagi, bercampur darah. “Yang… lihat mataku. Aku yakin kamu kuat, kamu bisa,” bisik suamiku sambil menggenggam erat tanganku. Aku menatap matanya. Sorotnya tajam, penuh keyakinan. Bismillah… aku kuat. Sebentar lagi aku akan memeluk anakku. “Makan kurma lagi, yuk?” tawarnya. Pukul 23.00 – Dokter obgyn datang “Pak, ada dua pasien. Yang ini preeklamsia pasca partus normal. Yang sebelah KPD dari magrib, masih bukaan dua,” jelas bidan pada dokter. Setelah memeriksa ibu di sebelah, giliranku. Ternyata dokternya, dr. Joyo, teman kerja tantenku di RS lain. “Masih kuat, Mbak? Ayo USG dulu.” Aku tersenyum lemah. Detak jantung janin normal, ketuban masih bagus. “Ayo sekarang VT, ya.” “Mbak bidan, ini bukaan dua opo? Iki wes meh babaran! Udah bukaan delapan!”
ALHAMDULILLAH… ALLAHU AKBAR!
Suamiku tersenyum lebar, aku pun lega. Sementara di luar ruang bersalin “Gimana, Mas Ad?” tanya Umi. “Alhamdulillah, udah bukaan delapan, Mi. Sebentar lagi lahir.” Entah karena pemeriksaan awal yang keliru atau kekuatan doa yang membuat bukaan dua menjadi bukaan delapan dalam sekejap. “Mbak besan, saya mau qiyamul lail dulu ya, semoga lancar,” kata ibu mertua sambil menuju mushola. Menjelang mengejan Badanku menggigil. Kakiku gemetar. Gamis dan kerudungku basah kuyup oleh ketuban dan darah. “Bu… badan saya menggigil,” ucapku. “Wajar, Mbak. Bajunya basah semua. Mau ganti repot, sudah waktunya. Saya kasih obat dulu, ya,” jawab bidan sambil memasukkan obat berbentuk bulat ke anus. Alhamdulillah, darahnya bukan dari vagina. Nyeri berkurang. Setengah jam kemudian, dorongan kuat datang. Sudah waktunya mengejan! “Bu bidan! Kayaknya udah mau ngeden!” seru suamiku. Bidan-bidan bergegas masuk, memakai masker. “Ayo, Mbak. Tarik napas panjang…” Aku mengejan otomatis—sekali nafas, plonggg! Bayi lahir pukul 23.55 WIB, lima menit sebelum tanggal 13. Tidak sempat mendengar tangisnya. Tali pusar dipotong, ia langsung dibawa observasi. Setelahnya… Suami menatapku dengan sorot bangga.
“Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah kuat.” Tiga puluh menit kemudian, bayi dibawa masuk bersama dua neneknya. “Selamat ya, sudah jadi ibu,” ujar Umi sambil menggenggam tanganku. “Selamat ya, Nok. Kamu kuat banget!” kata ibu mertua.
Wajahnya… matanya jelas dari abinya. Hidung mancungnya juga. Lalu, dari aku dapat apa? 😂 Tangisnya keras membahana. “Yang, kakak tadi lilit tiga di leher. Waktu keluar agak biru.” Aku terkejut. Di USG tidak terlihat. Ya Allah… rasanya ingin sujud syukur. Alhamdulillah, bayi ini berjuang seperti ibunya. Untuk pertama kalinya, aku menggenggam tangan mungilnya. Untuk pertama kalinya, aku memeluknya. Rabbii hablii minash shaalihiin…

Kamis, 22 November 2018

Cerita Persalinanku di bulan Agustus: bukaan momen

Alhamdulillah, mucus plug—lendir darah tanda mau melahirkan—keluar di saat yang paling tepat. Kok bisa? Ya gimana enggak, suami sudah pulang sejak kemarin, dan hari itu, 12 Agustus, bertepatan dengan jalan sehat kampung sekaligus hari Minggu. Artinya, semua anggota keluarga libur kerja. Lengkap! Inilah kerja sama perdana antara aku dan si sinok baby. Toss dulu, Gendukku sayang! 👏👏👏 Setelah sukses membangunkan satu rumah—yang baru saja lelah menyiapkan doorprize jalan sehat—aku langsung kirim foto lendir darah ke Bu Tina, bidan langganan. Balasannya singkat tapi tegas: “VT ke tempat praktik saya, ya.” Pukul 11 siang, kami sampai di rumah bidan. Begitu jari Bu Tina menyentuh, aku spontan merintih, “Aduh, aduh…” “Belum bukaan, Mbak Ica. Tapi sudah dekok,” jelasnya sambil tersenyum. “Mungkin lahirnya malam ini atau besok. Namanya juga anak pertama.” Keluar dari rumah bidan, kami malah sempat mampir makan bakso di Pasar Kendal. Prinsip Umiku: “Lahiran itu harus kuat makan, biar kuat ngeden!” Masuk waktu zuhur, kontraksi mulai datang. Awalnya timbul-tenggelam, kadang hilang kalau aku sibuk melakukan aktivitas lain. Karena masih kuat, aku malah squat berkali-kali supaya kepala bayi cepat turun. Bumer menelepon, pesannya jelas: jangan tiduran, banyakin jalan. Ya sudah, aku dan suami keliling kompleks lagi—padahal pagi tadi sudah jalan sehat keliling desa. Kali ini tujuannya memancing kontraksi biar lebih intens. Pukul 14.00, kontraksi mulai terasa lebih “serius”. Suami langsung menginstal contraction timer, tapi ritmenya masih nggak konsisten. Sampai rumah, aku masih sempat squat 15 menit (hebat nggak tuh?), tapi akhirnya duduk berhadapan sama suami, lalu membuka mushaf. Aku membaca Surat Maryam. Sampai di ayat yang menceritakan Maryam sendirian menahan sakit kontraksi, aku tidak sanggup menahan air mata. “Kasihan banget Maryam… lahiran nggak ada yang nemenin…” Suamiku menatapku tak bisa berkata-kata. “Ntar kalau aku mau nyerah, kamu harus kuatkan aku, ya.” Kami pun berpelukan seperti teletubbies—minus kostumnya. Pukul 15.00, Umiku memberi saran: “Ke puskesmasnya habis Maghrib aja, biar bukaan udah banyak.” Aku mengangguk, berharap “aamiin” yang tulus di dalam hati. Sore itu aku minta suami belikan pepaya. Bukan craving, tapi demi urusan BAB sebelum lahiran. Baru saja sendok terakhir masuk mulut, pyok!—ketubanku pecah. PANIK! Umi langsung jadi komandan lapangan: “Aabah siapin mobil. Mas Ad nggak usah mandi, siapin tas lahiran sama perlak buat duduk Ica di mobil!” Masalahnya, jalur ke rumah bidan harus lewat arah Jakarta, dan… macet total. Bu Tina menyarankan ke RSI, tapi itu juga arah Jakarta. Solusi: RSUD Soewondo Kendal. Adzan Maghrib berkumandang saat aku sampai di UGD. Hasil VT: baru bukaan 1. Karena ketuban sudah pecah, aku langsung diinfus antibiotik. Pukul 19.00, aku dipindah ke ruang bersalin—pas banget ada ibu lain yang sedang crowning. Aku ikut ngilu. VT lagi: bukaan 2. Kontraksi makin intens, tapi aku masih sempat ke toilet (berkah pepaya, lancar). Keluar dari ruang bersalin, aku duduk di samping suami sambil meminta dibacakan Surat Maryam. Belum sampai setengah, suamiku malah ikut mewek. Bumer dan Pakmer datang membawa kurma. “Ambil napas dalam, keluarkan sambil istighfar,” kata Bumer. Kontraksi makin kuat. Setiap rasa sakit datang, bayangan semua kenakalan dan dosa pada Umi terputar di kepala seperti film hitam putih. Aku menggenggam tangan Umi: “Maafkan semua kesalahan Ica, Mi. Maafkan kalau belum bisa jadi anak yang berbakti.” Pukul 21.00, bidan menegur karena aku keluar dari ruang bersalin. Aku digiring kembali, apalagi setiap rembesan ketuban sudah bercampur darah. Gamis dan kerudung basah kuyup. Jam 22.00, VT lagi: masih bukaan 2. Rasanya… potek hati! Mulesnya sudah level dewa, tapi progresnya lambat. Pikiran mulai kacau: “Jangan-jangan nanti SC?” Dalam hati, aku hanya bisa berdoa: Ya Allah, Engkau yang Maha Memudahkan… bantulah aku melahirkan anakku dengan selamat. Bersambung di Part III…

Rabu, 21 November 2018

Cerita Persalinanku di momen agustusan

Part I Pagi itu aku terbangun dengan mata sembab. 16 Juli 2018—suamiku harus berangkat ke Jakarta selama 4 minggu, meninggalkanku yang sedang hamil 9 bulan (36 minggu, HPL 8-8-18). Perasaanku campur aduk. “Gimana kalau lahirnya maju dari HPL? Gimana kalau nanti malam tiba-tiba lahiran?” pikirku. Kemarin, demi memastikan kesehatan si kakak, kami periksa USG ke dr. Rita. Alhamdulillah, semuanya baik, hanya saja dokter bilang ukuran janinku terlalu kecil untuk usia kehamilan 36 minggu—baru 2,3 kg. “Mbak nggak doyan makan, ya? Janinnya kecil. Makan yang banyak biar beratnya nambah!” Padahal selama hamil aku nggak pernah mual muntah, semua makanan masuk, apa pun yang ada di depan mata. Kok bisa ya masih kecil? 😢 Sudah sedih ditinggal suami, tambah sedih lagi dibilang janin kecil. Lalu aku curhat ke bumer tercinta.
“Gak usah khawatir, Nok. Dokter kadang suka sok tahu. Nggak apa-apa kecil di dalam, yang penting nanti besarnya di luar. Yang penting nggak BBLR (Berat Badan Lahir Rendah).”
Ah, langsung berkurang satu beban di hati. Love you, mom ❤️ Sore itu aku bersikeras mengantar suami ke stasiun, walaupun bumer melarang. Aku hanya ingin dapat ketenangan batin di perjalanan, biar masih bisa menggandeng tangannya. Kami berangkat naik grab. Aneh, sesampainya di stasiun aku cuma dadah-dadah, tanpa air mata seperti semalam. Pulang dari stasiun pun sempat mampir ke toko buku di pasar Weleri. Hari-hari berlalu cepat. Setiap punya waktu sendiri, aku selalu mengajak ngobrol si kakak di perut. “Kak, sabar dulu ya di perut umi. Keluarnya tunggu abi selesai urusan di Jakarta. Oke?” Begitu terus setiap ingat. Video call dengan suami pun selalu punya topik yang sama: “Udah mules belum?” Dan jawabanku selalu: “Belum.” Sebulan berlalu. Tanggal 11 Agustus pagi, akhirnya “my favorite doula” alias suamiku kembali. Alhamdulillah, masih sempat dielus-elus perut buncit ini. “Gimana yang? Udah ada tanda-tanda belum hari ini?” Aku menggeleng, lalu sambil tersenyum nakal menunjukkan artikel tentang induksi alami. “Ayo coba yang ini,” godaku. Jam 10 pagi bidan menelpon, memastikan kabarku. Saat tahu aku sudah lewat HPL 3 hari, ia memberi rujukan USG. Tapi karena hari Sabtu, rujukan itu baru bisa dipakai Senin. Semoga saja sudah lahir sebelum itu, aamiin. Aku mengeluh ke umi, “Kok nggak lahir-lahir, ya…” sambil minta maaf atas semua kesalahanku.
“Umi sudah maafin bahkan sebelum kamu minta maaf. Sekarang ajak omong lagi. Abi sudah pulang, sekarang boleh keluar… eeh jangan dulu deng! Umi masih ngurus jalan sehat kampung. Besok ikut jalan sehat dulu, biar dapat doorprize,” jawab umi sambil ketawa.
Fix, ini jawaban paling random dari seorang ibu 😂. Ahad, 12 Agustus 2018 pagi Rumah kami jadi pos transit hadiah doorprize jalan sehat. Hadiah-hadiah dari tetangga memenuhi ruang tamu. Walaupun sudah +4 hari dari HPL, aku tetap ikut jalan sehat. Setiap bertemu tetangga, pertanyaannya sama: “Mbak, masih kuat?” Aku cuma tersenyum sambil digandeng suami. Di tengah jalan kami mampir ke Indomaret untuk makan es krim 😂. Alhamdulillah, aku berhasil sampai garis finish. Begitu sampai, langsung dapat nasi bungkus dan air mineral. Tidak lama, nomor undian suami dipanggil, dapat hadiah buku. Dan ternyata… nomor undianku keluar untuk hadiah utama: kompor gas! Fix, si kakak ini cewek banget—belum lahir aja sudah mikir perabot dapur 😆. Habis jalan sehat, kami semua tepar. Jam 10 pagi, aku terbangun karena notifikasi WA dari bumer. “Nok, minta maaf ke umi. Siapa tahu mempermudah jalan lahirnya.” Tidak lama kemudian, aku merasa ada sensasi aneh di bawah perut. Seperti mules ringan. Refleks aku raba… dan ternyata ada lendir darah! “Yang, kayaknya mau lahiran!” teriakku sambil lari ke kamar orang tua. Serumah langsung heboh. Gimana kelanjutannya? Tunggu di Part II ya. (FYI: Saat nulis ini, si bayi sudah lahir sehat dan sekarang usianya 3 bulan 1 minggu 😍)

Minggu, 05 Agustus 2018

Euforia Bulan ini❤

Jika ada rasa sakit yang membahagiakan, itu adalah proses persalinan untuk menyambutmu, nak...

9 bulan sudah kau berada di rahimku. Masih 4 hari lagi menjelang HPL (Hari Perkiraan Lahir), tapi euforia menyambutmu begitu membuncah... 😘😘
In syaa Allah kami masih sabar menunggumu. Kapanpun kamu ingin keluar: umi, abi, nenek, kakek, dan om-ommu siap.
Ayo nak, kita berjuang bareng!

Hormon bahagia

Awal kehamilan, di trimester pertama, aku sama sekali tidak mengalami mual muntah seperti kebanyakan bumil lainnya. Jika ibu mertua tidak menemani USG ke obsgyn untuk pertama kalinya, aku juga masih gak yakin kalo lagi hamil😂😂😂😂

Melihatmu untuk pertama kalinya di layar USG... Bahagia tiada tara 😍 walopun terselip rasa takut di lubuk hati yang paling dalam: Apakah aku bisa menjadi madrasah utama yang baik bagimu? Bismillah, menjadi orang tua adalah menjadi orang yang harus berusaha berfikir positif.. agar selalu berjuang untuk anak-anaknya.😘

Edisi baper karena di usia kehamilan 36 week harus ditinggal suami ke Jakarta selama sebulan..

Kak, keluarnya nunggu Abi pulang mawon, nggih?

Karena doula terbaik adalah suami 😍

Kendal, 4 Agustus 2018

#tulisan menjelang persalinan

Selasa, 10 Juli 2018

Diorama Sepasang Al-Banna

Rani memandangi parasnya di cermin meja rias sambil menyisir rambutnya dengan pelan. Wajahku amat sederhana... Untuk seorang suami seperti Rayyan Fikri...
Tak sengaja pandangan matanya bertemu mata Ryan, suaminya di dalam cermin.
Deg! Hatinya seketika berdesir. Malu.
"Kau sedang memikirkan apa, sayang?" Tanya Ryan.
*Cuplikan novel

Kau tahu, sayang? Aku sangat bersyukur tidak melewatkan membaca satu novel ini: Diorama Sepasang Al-Banna nya Ari Nur. Salah satu novel yang sarat informasi tentang kehidupan berumah tangga, bagi yang ingin memelihara rumah tangganya sakinah mawadah warahmah. Walopun sebenarnya aku membacanya terlalu dini (saat masih kelas 2 SMP), yang menyebabkan virus ingin nikah muda wkwkwk.

Novel yang baik menurutku, karena menggambarkan bahwa tak ada yang namanya pernikahan yang sempurna. Tetapi semua anggota keluargalah yang berperan menyempurnakan pernikahan itu..

Tentang perkenalan singkat Rani dan Ryan, yang berujung pada taaruf dan menikah which is sama dengan yang kita alami..

Masih terekam dengan jelas, bulan puasa tahun lalu, saat ibumu meneleponku dengan tiba-tiba setelah malam perkenalan...
"Nok, mom serius lho pengen Ica jadi mantu mom," simple and to the point. Sebenarnya karena ini jugalah aku memantapkan hati untuk mulai "mengenalmu".

Ta'aruf, perkenalan secara kekeluargaan yang prosesnya hanya 3 bulan. Terhitung singkat, bukan?

Terimakasih, untuk menjadi teman diskusi yang mengasyikkan sehingga kita tak perlu rempong mengalami miskomunikasi seperti yang dialami Rani dan Ryan dalam novel. 😄

Maafkan aku jika masih berbenah diri sampai 9 bulan ini... Ya, kamu benar, apapun yang kita hadapi asalkan berdua denganmu terasa lebih menyenangkan..

#monthyversarry

Rabu, 13 September 2017

Terimakasih, cinta!

Terimakasih untuk terus menaburkan kebaikan dan cinta ke dalam hidupku.
Terimakasih telah menjadi cinta tiada berujung yang mengisi jiwa ini.
Terimakasih, cinta.
Tiada balasan apapun dariku kecuali untuk Engkau selalu mendapatkan kebaikan yang berlimpah dari Sang Maha Pemurah.

Rabu, 13 September 2017

Minggu, 10 September 2017

Tentang Malvin: anak bermata sendu

Sudah dua minggu terakhir Malvin, siswa baru kelas 1 At-tin SD Muhammadiyah, berangkat sekolah dengan berurai air mata. Kami yang menyambut di gerbang sekolah dengan berbagai ekspresi lucupun tak dihiraukannya. Ketika ditanya kenapa menangis, dia hanya menggeleng-gelengkan kepala tak mau menjawab. Tangisannya akan reda sama sekali setelah jam menunjukkan pukul 9, saat jam pertama usai.

Klimaksnya, pada minggu ketiga tangisan Malvin melengking lebih keras dari hari-hari sebelumnya dan otomatis membuat teman-teman sekelasnya terganggu. Kegiatan Belajar Mengajar pun terhenti seketika dan Malvin dikeluarkan dari kelas. Untuk pertama kalinya, aku menggandeng tangan mungilnya untuk menuju kantor bersamaku. Tangisnya makin menjadi, dengan sesenggukan yang lebih keras. "A aa ku... Huhuhuhu..."
"Ayo kita main sebentar di kantor?" Dia menatapku agak lama sebelum kemudian mengangguk.

Setibanya di kantor, aku mencari-cari benda apa yang bisa mengalihkan perhatiannya. Makanankah?
"Ada keripik pisang coklat, mau?" Dia hanya terdiam dan tak menanggapi. Oke, sabar.
"Hmm enaknya.. rugi kalo nanti kehabisan! Serius gak mau?" Pada gigitan keripik ketiga dia mulai tergiur mau dan makan masih dengan sesenggukan.
Aku menemukan tumpukan papan catur di rak paling atas.
"Yuk kita belajar main catur hari ini," aku membuka papan catur dan menjelaskan cara mainnya.
"Tau gak Malvin, kenapa kok pion jalannya cuma bisa satu langkah?"
Dia mulai tertarik. Menggeleng cepat.
"Karena pion adalah contoh bagi kita semua..." Aku terdiam sejenak, memikirkan kalimat apa selanjutnya,
"...bahwa dengan berjalan pelan pun kita juga akan sampai tujuan, walaupun membutuhkan waktu yang jauh lebih lama daripada yang berjalan cepat,"
"Malvin baru pertama kali main catur?"
"Iya," untuk pertama kalinya, dia bicara tanpa tangis sesenggukan.
"Besok ajak ayah main catur ya?"
"Iya ust. Kalo ini apa?" Mulai penasaran dengan banteng.
"Tadi Malvin kenapa nangis keras banget?"
"Ayahku tadi lupa gak pamit waktu mau berangkat kerja..." Matanya berkaca-kaca lagi.
"Besok, sebelum ayah berangkat kerja, Malvin ingetin ayahnya... Yah, ayah lupa belum pamit mau berangkat kerja! Gitu, ya?" Malvin mengangguk dengan pasti.
"Besok aku boleh main catur lagi, ust Ica?" tanyanya. Aku tersenyum.
"Boleh dong. Tapi waktu jam istirahat, ya!"

Sejak saat itu setiap aku berpapasan dengannya, Malvin selalu menyapaku dengan ceria, "Ust Icaaa!" Sambil dadadada...
Ajaibnya, dia udah gak mewek an lagi. Nah, gitu dong sayang. Kan tcakeep! 👻

Senin, 28 Agustus 2017

Mbah Mun

Mbah Mun, 72 tahun usianya bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia. Namun lincahnya ma sya'a Allah. Tiada lelah memberi... Itulah Mbah Mun. Salam sun sayang dari cucu kesayangan 💗😇

Rabu, 12 Juli 2017

Bus View: Scenery Lover

Aku suka sekali posisi duduk di dekat jendela. Entah itu di angkot, di bus, kereta atau pesawat. Jika pesawat, berusaha selalu check-in lebih awal agar dapat kursi strategis. Pun jika di bus, aku akan cepet-cepetan dapetin kursi samping jendela. Jika memang tidak terlalu lelah, aku akan lamaa sekali memandangi jalanan sampai tiba di tujuan. Mengamati jalanan adalah waktu yang paling tepat untuk muhasabah...

10 tahun lebih perjalanan kulewati dengan berbagai macam alat transportasi, bermacam-macam angle pemandangan yang telah kulihat... (Yang bagiku tidak akan pernah membosankan sebanyak apapun mengamati jalanan).

Kini aku sampai pada fase ini; membayangkannya yang sedang duduk di kursi bus dengan pemandangan danau dan gunung di kejauhan. Tentang rencana-rencana. Tentang masa depan. Tentang asa. Tentang kita.

Apakah detik ini kau juga sedang memikirkanku?

Hati-hati di jalan...

Sabtu, 13 Mei 2017

Begin Again

It's good listening the old song you used to listen. And 'Begin Again' was one of my favorite <3 span="">
Tay has a great sense to mix a story into a song. 
But on Wednesday in a cafe you watched it begin again...
 
Took a deep breath in the mirror
He didn't like it when I wore high heels
But I do
Turn the lock and put my headphones on
He always said he didn't get this song
But I do, I do
Walked in expecting you'd be late
But you got here early and you stand and wave
I walk to you
You pull my chair out and help me in
And you don't know how nice that is
But I do
And you throw your head back laughing like a little kid
I think it's strange that you think I'm funny 'cause he never did
I've been spending the last eight months
Thinking all love ever does is break and burn and end
But on a Wednesday in a cafe I watched it begin again
You said you never met one girl
Who had as many James Taylor records as you
But I do
We tell stories and you don't know why
I'm coming off a little shy
But I do
But you throw your head back laughing like a little kid
I think it's strange that you think I'm funny 'cause he never did
I've been spending the last eight months
Thinking all love ever does is break and burn and end
But on a Wednesday in a cafe I watched it begin again
And we walked down the block to my car and I almost brought him up
But you start to talk about the movies that your family watches
Every single Christmas and I want to talk about that
And for the first time what's past is past
'Cause you throw your head back laughing like a little kid
I think it's strange that you think I'm funny 'cause he never did
I've been spending the last eight months
Thinking all love ever does is break and burn and end
But on a Wednesday in a cafe I watched it begin again
But on a Wednesday in a cafe I watched it begin again
Songwriters: Taylor Swift
Begin Again lyrics © Sony/ATV Music Publishing LLC

Selasa, 07 Februari 2017

Kid's fun: Belajar sambil bermain

Hai adik-adik semua.. jumpa lagi dengan rubrik serba-serbi. Kali ini kita akan sedikit mengupas kegiatan pembelajaran kid's fun di akhir bulan Januari kemarin. Tentunya adik-adik masih ingat semua kan?

Nah, Adik-adik, ada hal menarik yang ditangkap kamera sewaktu pelaksanaan kid's fun kemarin. Ini dia salah satunya.

Adik terkecil kita yaitu dik Rafa Firman kelas 1 Al-Kautsar sedang mengawal adik TK yang baru datang! Wah ini salah satu pemandangan indah yang bisa dilihat dari kid's fun. Betapa tanpa disuruh, Dik Rafa dengan gembira menyambut tamu kid's fun yang notabene adik-adik TK, dengan telaten menuntun langkah kecil adik-adik dari beberapa TK dan Taman Bermain Kanak-kanak sekitar sekolah.

Tentu bukan hanya dik Rafa saja yang berjasa selama Kid's fun, ada bapak dan ibu guru selaku panitia acara yang tiada lelahnya membimbing adik-adik dan seluruh siswa SD Muhammadiyah Purin yang selalu bersinar prestasinya, baik dari sikap dan pembelajaran sehari-hari.

Ternyata, sambil bermain dalam kid's fun, adik-adik juga belajar banyak hal: cara menghadapi adik-adik yang lebih muda, cara menyambut tamu dan menjadi 'tuan rumah yang baik, dan tentunya outbond beberapa permainan menarik. Oia hampir ketinggalan... Cara menyajikan es ijo untuk para tamu. (Siapa tahu nanti salah satu dari kalian ada yang bakal jadi juragan es ijo paling laris sedunia.. hehehe)

Oiaaa.. kita juga baru saja kedatangan tamu dari SMP Muhammadiyah Minggir 2 Sleman, Yogyakarta tanggal 27-28 Januari kemarin. Selengkapnya akan kita bahas di rubrik serba-serbi selanjutnya ya.
Tetep semangat dan bahagia ya adik-adik semua!
Seni bisa, ngaji luar biasa! Prestasi nggak ada hentinya!

Kamis, 19 Januari 2017

Abah

Abah, orang paling tenang yang pernah kukenal. Terimakasih untuk segala hal yang engkau berikan untukku.
I need to write a long post to describe your role in my life, bah. Then now I Will just upload a picture of us.
When I'm with you, my life shines.

Sabtu, 30 Juli 2016

Hidup adalah hadiah

Life is a gift. Kita belajar tentang siapa kita, dan belajar bagaimana menciptakan kehidupan yang dinikmati seseorang.
Pintu-pintu pengungkapan diri tidak ada batasnya dan tidak selalu jelas, namun tidak berakhir begitu saja setelah pertengahan usia 20-an. Dengan berjalannya waktu, kita belajar tentang kebiasaan-kebiasaan kita, kecenderungan kita, apa yang bisa dan tidak bisa, apa yang kita inginkan lebih banyak lagi atau yang lebih sedikit. Pengetahuan tentang diri sendiri sungguh tidak ternilai dan menjadi blok-blok bangunan untuk hidup yang dijalani dengan baik.
Siap menghadapi juga sebuah pelajaran, guys..
Kita tahu bagaimana caranya mengatasi berbagai hal—karena kita pernah melakukannya.
Kita mengetahui bagaimana menyintas kematian seseorang yang dicintai karena sebelumnya beberapa kali kita telah mengajari diri sendiri tentang cara berduka dan terus maju. Kita tahu caranya melewati masa sulit keuangan atau putus hubungan yang menyakitkan, karena kita pernah melakukannya. Tantangan-tantangan di masa lalu memberikan kita perlengkapan untuk menghadapi hal-hal di masa kini.
Artikel yang bahasannya banyak orang memang mengalaminya
Credit: liputan6.com

Selasa, 07 Juni 2016

Adik Laki-laki ku

Yang selalu seorang kakak harapkan dari adiknya adalah, dia tetap menjadi adiknya sampai kapanpun itu, tak terputus tali silaturahim diantara keduanya. Karena bagaimanapun, Kakak beradik memang lahir dari rahim yang sama, bukan?
Aku mempunyai seorang adik laki-laki, 4 tahun lebih muda dariku. Tinggi. Gagah. Manis. Ganteng juga deh, gak ketinggalan. Meskipun kulit sawo matang, adikku tetap menarik. Eh kok malah jadi promosi in adek? -_-
Adikku sudah menyusul jadi mahasiswa semester dua di Universitas Negeri Yogyakarta, prodi teknik sipil. Sejak jadi Maba, Nuha jadi makin sibuk... Dan menghubungi ortu hanya jika masalah uang saku menipis. #duh sorry nu buka kartu✌
Tapi Kakaknya tak tinggal diam. Abah umi  selalu kuusahakan saling telpon menelpon dalam beberapa waktu dengan putra satu-satunya itu.. Biar enggak kehilangan silaturahim, lagi2 kakaknya ini cuma takut kalo Nuha gak dekat lagi sama Keluarganya.
Malam ini, seperti malam-malam lainnya ketika aku dan adik chatting via Line. Kami hanya berbagi kabar seperti biasa.
"Mbak Ica, si A sebenarnya nggak jauh beda sama Nuha kasusnya," kata Nuha di Line.
Aku yang masih belum ngeh dengan maksud line Nuha hanya nyeletuk jawab, "Maksudmu apaan nih? Samaan kalo kamu pernah terjerumus obat2an????"
"Yo orak to ya! (Ya Enggaklah)" Nuha senewen. Sewot!
"Ya maap becanda. Dalam hal yg kemaren mbak Ica bilang? Kurang perhatian?"
"Iya, cuma bedanya, kalo aku dapet lingkungan yang baik; temen-temen yang enggak menjerumuskan ke jalan nggak bener. Si A hanya kurang beruntung. Makanya dia bisa terjerumus di jalan yang nggak bener..."
"Nu, mbak Ica gak terima deh."
"Soal apa?"
"Katamu kita (aku abah umi) gak perhatian. Padahal tiap kamu chat mbak Ica, balesannya selalu real time. Terus juga panjang-panjang!"
"Maaf kakakku. Iya enggak deh,"
"Kan yang gak perhatian kamu. Sibuk pacaran seh"
Dan acara mengambek pun berlanjut. Adekku, itulah sebabnya ada keluarga. Selalu ada jalan untuk pulang. Asal, kamu tidak lupa jalannya

Senin, 28 Maret 2016

The Power of Descendants of the Sun

Welcome to Writer-nim Kim Eun Sook World! With the latest, hottest drama Descendants of the Sun. The storyline about Love in a war country of Urk between Chief Doctor Kang Mo Yoen (Song Hye Kyo) and Captain Soldier (song Jong Ki). Double Song! <3 nbsp="" p="">


Sabtu, 27 Februari 2016

Being Maximal!




I’m not working for money, nor passion, I’m working for contribution. -Anonymous
Khairun-naasi anfa’uhum wa ahsanuhum khuluqan.
Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang-orang lainnya (kepentingan banyak orang, jamak) dengan akhlaq yang sebaik-baiknya. ~Arabic proverb


Pernahkah kamu benar-benar merenungkan hidup, bahwa apakah kamu benar-benar telah menjalaninya dengan maksimal? Aku sedang memikirkannya. Bagaimana jika aku benar-benar menjalankan segala sesuatunya dengan maksimal? Apakah akan seperti ini jadinya? Atau, dengan nada paling pesimis dari hati, ah, walaupun sudah berusaha maksimal pun toh akan begini-begini saja.

Tetapi kita muslim yang sangat tidak dianjurkan untuk berandai-andai saja. Demi waktu yang bergerak dengan cepat, akhirnya aku pun mulai bergerak dengan cepat mengiringi langkah sang waktu, walaupun seringkali terseok-seok ketika berjalan, bahkan terjatuh. Lalu bangkit. Lalu jatuh lagi. Kemudian, ketika bangkit lagi, aku menemukan banyak sumber tenaga, dukungan dan kebahagiaan dimana-mana. Demi berubahnya zaman, aku harus berubah. Lalu seiring berakhirnya bulan Februari awal tahun baru ini, aku pun menyadari satu hal: Aku bertransformasi menjadi orang lain yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku mulai mengerjakan apapun yang ada di depanku dengan sungguh-sungguh. 

Ketika menyambut hari yang baru, aku bisa merasakan sensasi hari itu, dari perasaan menggebu-nggebu akan menyambut pekerjaan, atau mau masak sarapan apa hari ini, senang, gundah gulana, dan yang terlebih dari semua sensasi itu adalah hati yang berseri-seri. Seolah-olah seperti aku menemukan ritme hidupku. Adakah hari-hari yang lebih berbahagia selain menyambut hari itu dengan hati yang berseri-seri? :)
Ah, benarkah aku sudah sedewasa itu? Lalu siapa lagi yang akan merubah diri kita jika bukan kita sendiri yang merubahnya? *dalem

Berawal dari kelas bercerita
Sejak penghujung 2015, tawaran mengajar menghampiriku. Alih-alih langsung menerima, aku ciut. Nggak pede. Banyak orang yang ingin bekerja dengan harus melamar terdahulu, bersusah-payah bikin resume diri, kok aku langsung dengan gampangnya dilamar pekerjaan? Sadar dong caaa, heyyy siapa elo?? Suara berkecil hati terus-menerus merongrong menambah sisi pesimisku. 

Tapi ini adalah tantangan, kata abah. Ortu terus mendukungku sampai sebulan kemudian, Aku bertemu ketua komite sekolah lain yang meminta hal yang kurang lebih sama: tawaran mengajar yang lain. Padahal, aku tengah mengurus lamaran kerjaku yang pertama untuk sebuah Institusi Pemerintah di awal tahun ini. Akhirnya pertimbangan yang matang dimulai. Karena opsi pertama adalah sekolah baru yang baru meluluskan satu generasi, yang insyaALLAH menurutku adalah sekolah yang embrionya akan terus tumbuh berkembang, jadi aku putuskan masuk ke sekolah itu, dan aku akan ikut berkembang di dalamnya. Opsi lainnya adalah karena sekolah itulah yang melamar duluan, tentu saja. Dengan catatan: Aku akan mengawal murid-muridku menjadi melek dunia literasi, di samping mengajar bahasa Inggris.

Akhirnya setiap malam sebelum mengajar keesokan harinya aku kembali menemukan diriku yang baru. Besok materi apa yang akan kusampaikan? Apakah buku ini kira-kira baik untuk materi minggu depan? AH! Harus ke toko buku lagi. Stok materi habis! Setiap hari selalu ada insiden kebakaran jenggot karena perubahan dari wanita malam menjadi wanita pagi! Hahaha

Dan aku menamai kelasku dengan kelas bercerita. Satu kelas yang benar-benar terinspirasi dari orang lain yang akhirnya kuwujudkan!

Ada yang sudah baca Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin nya bang Tere-Liye? Yang sudah baca pasti kenal dengan karakter kak Danar. Okey kuakui aku emang terhanyut-hanyut dengan novel satu ini alias fans nomor wahid. Tapi itu semata-mata karena baru kali ini baca novel Tere-Liye dengan plot flash back dan kebetulan saja beberapa kisahnya memang pernah kualami. (yang terakhir gak usah terlalu percaya aja).
Kak danar adalah penyelamat hidup Tania, seperti seorang dewa yang khusus dikirim Allah untuk memberi Tania dan keluarga kecilnya harapan hidup yang lebih baik dari kerasnya hidup di jalanan. Dan kak Danar ini, mempunyai kelas bercerita untuk anak-anak kompleks tiap minggu di rumahnya. Kebiasaan yang Akhirnya menurun kepada Tania dan Dede, adiknya, ketika mereka berdua tinggal bersama kak Danar dan beranjak dewasa.

Kembali ke kelas bercerita, ada kepuasan tersendiri dari berbagi apa yang telah kita lihat dan baca dari buku, bahkan hidup, untuk orang lain. Apalagi melihat ekspresi penasaran anak-anak yang menunggu kelanjutan ceritaku sambil melingkar duduk di sekitarku. Sebisa mungkin, walaupun aku memang bakat galak, aku membuat kelasku senyaman-nyamannya kelas yang ingin aku ciptakan, agar apa yang aku sampaikan, mengena ke sanubari kecil mereka. Tentunya dengan diiringi materi-materi yang baik untuk anak-anak seumur mereka.

Jauh sebelum aku mengenal Daun yang Jatuh Tidak pernah membenci angin, aku mengenal dunia bercerita dari Almarhum kakekku. Beliau adalah pencerita ulung di madrasah tempat aku menimba ilmu agama dulu, yang bisa memainkan mimik dengan ekspresif (Sampai saat ini aku masih berusaha bermimik bagus sesuai alur cerita, tapi masih susah). Dan putrinya, alias Ummi, Ibundaku, yang juga pendongeng sejati. Mungkin dari situlah intuisi berceritaku dimulai, hingga akhirnya tercipta kelas bercerita. Bukan main-main... ini bukan hanya khayalan atau bayangan saja...
Kelas berceritaku akhirnya benar-benar tercipta! Alhamdulillah! Terima kasih Ya Rabb!



Asal kau tahu, kamu akan selalu menemukan dirimu yang lain, dirimu yang kamu belum pernah menjadinya sebelumnya. Walaupun seringkali manusia melakukan kesalahan, yang terbaik adalah memperbaiki diri. Manusia memang telah diilhami oleh penciptanya untuk terus berkembang menjadi insan yang lebih baik, selalu.

Sabtu, 30 Januari 2016

The Windy Hill- Yong Pal

image
I feel that we walked far enough. But never mind. The view here is worthy. So green everywhere. He said,
“I guess it here,”
“Guess what?”
“This is the Windy Hill. If the people who love each other kiss here… they will return here…” Suddenly.. *kiss scene*
He was surprised. But then he continued his words,
“…and if they come back and kiss here for second time, they will never be apart,”
I said, “let’s go back here. Tomorrow!”
He smiled so bright and nodding. 
Still love this scene. The fact that Kim Tae Hee is many years older than Kim Joo Won is not affected their chemistry ~Yong Pal, e09~