Tampilkan postingan dengan label language. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label language. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Agustus 2025

One Fine Day beneath the German Sky

Sudah hampir dua tahun aku bersahabat dengan kata-kata dalam Bahasa Jerman. Setiap suku kata yang kuucap terasa seperti batu kecil yang kutata, satu demi satu, membentuk jembatan menuju mimpiku. Di kepalaku, selalu ada satu gambar yang tak pernah pudar: aku, berjalan di jalan setapak pedesaan Jerman. Rumput bergoyang pelan ditiup angin musim semi, udara segar membawa aroma roti yang baru keluar dari oven sebuah rumah kecil di ujung desa. Dari kejauhan, lonceng gereja berdentang lembut, seperti menyapa pendatang baru. Di sisiku, anak-anakku melangkah riang, mata mereka berbinar menyambut hari sekolah. Kami bercakap-cakap dalam bahasa yang dulu asing, namun kini terasa seperti lagu yang sudah lama kukenal. Setiap hari, aku memungut satu kata baru, menyimpannya rapi di sudut hatiku. Kadang, ada kata yang sulit dijinakkan, tetapi aku tahu, pada waktunya semua akan bersatu, menjadi kunci yang membuka pintu kehidupanku di sana. Dan suatu hari nanti, ketika mimpiku berpijak di bumi Jerman, aku akan mengucap terima kasih pada diriku yang tak pernah berhenti belajar, meski jalannya panjang dan anginnya kadang kencang.

Senin, 25 Januari 2016

Ketika Ibu-ibu dari Cirebon Kesasar

Sore itu, untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Madinah. Karena berbagi kamar dengan Abah, Ummi dan adik dengan hanya 1 kamar mandi, Abah dan adik mengalah. Aku dan ummi akan menggunakan kamar mandi duluan, sedangkan mereka langsung menuju masjid nabawi untuk melaksanakan sholat ashar. Kami putuskan untuk bertemu lagi bada isya di restoran hotel. Setengah jam kemudian, Aku dan Ummi menyusul setelah membersihkan diri dan wangi.

Letak hotel tempat kami tinggal selama di madinah hanya berjarak 500 meter dari masjid nabawi, yang dihalangi oleh gedung tinggi hotel bintang lima di seberang jalan.

Bada isya', Ummi mengajakku keliling masjid nabawi (yang kukira akan sebentar) sampai kakiku mulai tak berasa. Ketika akhirnya kita sampai di gerbang keluar menuju hotel, seorang ibu-ibu separoh baya memandangi ku dan Ummi dan dengan ragu-ragu menanyai kami, "Maaf, orang Indonesia atau Malaysia ya?"
"Indonesia Ibu, ada yang bisa kami bantu?" Ummi menawarkan bantuan. Si Ibu terlihat menghela nafas dengan lega.
"Saya baru saja sampai (di Madinah) sore ini bu, lalu bada isya tadi saya terpisah dari suami ketika pergi ke toilet bawah tanah.. Padahal suami bilang akan menunggu di sini.. Bagaimana ini Bu? Saya tidak tahu arah menuju hotel saya..."

"Kalau boleh tahu nama hotel ibu apa? Nanti biar bisa ditanyakan sama Askar (Polisi syariah)," jawab Ummi.

"Hotel Al-Barraq," Lalu kami menuju ke pojok gerbang dimana dua orang Askar berseragam khas sedang bercengkrama,

Aku menjelaskan kepada mereka keadaan Ibu ini dan bertanya dimana hotelnya. Rupanya mereka berdua juga sama sama tidak tahu dimana letak hotel si Ibu. Askar ganteng yang mirip Zayn Malik menghampiri temannya yang lain di gerbang sebelah. Sementara Askar yang mirip Shaheer Sheikh tetap menemani kami. Untuk membunuh kebisuan ummi pun mengajak si IBU ngobrol. Ternyata beliau berasal dari Cirebon, Jawa Barat.

Askar berwajah Zayn malik kembali dengan membawa beberapa temannya. Sayang, mereka semua juga tidak tahu dimana gerangan hotel itu. Aku tiba-tiba teringat sesuatu.
"Ibu Sebelum berangkat umroh pasti dibagikan name tag dari agen travel, kan? Yang ada foto Ibu juga?"
"Iya... yang ini bukan Dek?"
"Iya betul Bu, saya pinjam sebentar," Aku membawa name tag itu kepada Askar sambil mengingat ingat bahasa Arab dari handphone . Sepertinya Jawwal. Kemudian meminta mereka menelpon dengan jawwal Nomor yang tertera di name tag. Si Zayn Malik mengeluarkan IPhone nya. Berarti dia paham! Yes!
Dia mengobrol di telepon dalam bahasa Arab selama lima menit. Lalu dia meminta kami menunggu sampai si Ibu dijemput..
Waktu itu, waktu menunjukkan pukul 9 malam. Perutku dan Ummi sudah memberontak ingin diisi. Alhamdulillah tak sampai 15 menit, asisten pembimbing umroh si Ibu dari Cirebon akhirnya datang menjemput. Dia sempat dimarahi para Askar lalu berterima kasih pada kami karena telah membantu si Ibu...
Tak lupa, Ibu itu juga berterima kasih kepada kami.

Adikku sudah menunggu di lobby ketika kami sampai di Hotel.
"Kok lama banget sih? Nyasar yaa??" Goda adikku.
"Yee kebalik! Bantuin orang nyasar sih Iya.."

Menguasai bahasa asing itu sangat bermanfaat, bukan? 

Rabu, 06 Januari 2016

Meeting Nichole, An AISEC Internship Volunteer

Slow but sure, I’ll try to post with English language regularly..

Two months ago, I met a beautiful German lady in Trans Semarang *usually called BRT*. Her name is Nichole. She is an English teacher and currently volunteering herself as an elementary teacher in Ungaran, Central Java. After a short chit chat I knew that she joined AISEC Internship in Indonesia for two months. We spontaneously get along well. :)

Rabu, 30 Desember 2015

Sebuah Motto Lama yang Ampuh

language is not everything but everything without language is nothing
bahasa bukanlah segalanya tetapi segalanya tanpa bahasa takkan menjadi apa-apa..
keepcalmstudio-com-crown-get-curious-and-learn-languages    Motto di atas adalah motto lama bagian pengembangan bahasa (central language improvements/CLI) dulu di Ma’hadku tercinta. Motto itu nggak muluk-muluk kok. Karena memang begitu adanya. aku membuktikannya ketika untuk pertama kali merasakan udara di luar negeri tercinta lewat kesempatan umrah.
Ceritanya begini. Aku dan keluarga ikut penerbangan tengah malam Etihad Airways menuju Abu Dhabi, UAE. Rombongan umrah kami boarding di terminal 2 bandara Internasional soeta pukul 01.00 WIB. Perbedaan begitu terasa dari pesawat yang kunaiki sebelumnya *gausah sebut merk* waktu memasuki pesawat Etihad melalui garbarata. Sambutan dari Mas-mas dan mbak-mbak pramugari (otomatis bule semua) yang welcoming banget membuat penumpang yang baru masuk merasa nyaman. Begitulah yang kurasa, setidaknya. :D
Aku, Umi, Nuha dan abah duduk berderetan. Kebetulan seat kami agak di bagian belakang. Oia pesawat ini cukup besar, setidaknya dari informasi yang kubaca di papan depan garbarata, dapat memuat 500 penumpang. Jadi untuk sampai di seat, kami melewati 3 kamar mandi yang membatasi beberapa kabin: satu kabin khusus Diamond class (first class) dan tiga kabin coral economy class (seat ku). Dua kabin terdepan diidominasi oleh mas-mas dan mbak-mbak bule.
Pesawat akan take off pukul 1.45, so otomatis kami yang muslim harus melaksanakan sholat subuh beberapa jam kemudian. FYI, pengumuman kabin pesawat ini menggunakan dwi bahasaku: Arabic and English language only. Setelah pesawat sukses take off mataku yang tinggal 2 watt udah nggak bisa diajak kompromi lagi. Akupun tidur sambil mendengarkan mp3 playlist yang sudah tersedia di menu E-box. Dua jam kemudian aku terbangun karena percakapan berbahasa inggris bule dan pramugari di depanku. OMG.. aku bener-bener udah di luar negara Indonesiyaaa *wkwkwk LEBAY gapapa lah
peta penerbangan Etihad Airways
Umi udah mulai ribut soal waktu sholat subuh. Pasalnya, kami sudah di atas zona waktu yang berbeda dan dari jendela pesawat, semburat merah mulai malu-malu muncul dari sela-la awan. Ketika akhirnya giliranku mendapat jatah snack, maka aku terpaksa harus bertanya pada mbak pramugari setelah dipelototin umi. Kira-kira gini bunyinya waktu itu;
“Excuse me miss, would you like to tell me when is down prayer time for moslems?” walopun aku pede abis pas ngomongnya, tapi di hatiku yang paling dalam tetep aja terselip rasa takut kalo-kalo struktur kalimatnya agak aneh didenger.
“Oh, prayer time for moslem?” Pramugari itu memastikan. Aku pun mengangguk.
“Maybe 2 hours later. Eight o’clock indonesian time,” jawabnya dengan lancar.
“Thanks for your information..” ngga lupa berterima kasih juga donk ;)
Dari peta penerbangan di layar plasma depanku, dua jam kemudian aku berada di atas Chennai. Waktunya sholat subuh waktu Chennai.
Untuk sisa perjalanan nantinya, aku berperan sebagai juru bicara dan penerjemah untuk keluargaku. Buat kamu yang masih menganggap belajar bahasa itu susah dan nggak ada gunanya.. kayaknya harus berpikir dua kali lagi deh. Karena kamu nggak akan kesulitan berkomunikasi dengan orang asing (setidaknya masyarakat global mayoritas masih menggunakan bahasa Inggris), tanya waktu sholat di atas penerbangan milik asing, pilih-pilih menu di pesawat, tanya arah jalan, bahkan tawar-menawar di pasar. :D :D :D
umrah 2014 ica